Mengenal Kompos, Olahan Limbah yang Kaya Manfaat

Ⓒ cnnindonesia.com
Ⓒ cnnindonesia.com

Manusia tentunya tidak bisa berhenti dalam mengkonsumsi alam guna sumber daya pemenuh kebutuhan sehari-hari. Sumber daya alam yang dikonsumsi tersebut tidak hanya tumbuhan melainkan juga hewan. Hal ini menyebabkan terdapatnya komponen sisa tumbuhan, hewan dan kotoran hewan, hingga makhluk kecil lainnya seperti bakteri jamur, ganggang, hewan sel satu hingga sel yang cukup tinggi di lingkungan. Komponen-komponen sisa tersebut sebenarnya memiliki banyak manfaat bagi lingkungan. Manfaat atau peran penting komponen sisa tersebut antara lain adalah dalam memperbaiki sifat fisik, kimia hingga biologi tanah. 

Ads

Sayangnya tidak semua manusia sadar apabila kita juga bertanggung jawab untuk mengelola komponen sisa alam yang sudah kita ciptakan tersebut. Sehingga komponen sisa yang tidak terkelola dapat berdampak buruk bagi lingkungan, misalnya menghambat pertumbuhan benih akibat imobilisasi unsur hara, allelopati atau menjadi tempat berkembang biaknya patogen tumbuhan. Komponen-komponen sisa ini akan melapuk dan membusuk jika berada dalam kondisi lembab dan basah. Lalu bagaimana mengelolanya? Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan pengomposan (pembuatan kompos). Tahukah kalian apa itu kompos?

Pengertian Kompos

Kompos merupakan hasil penguraian sebagian (dekomposisi) dari sisa-sisa bahan organik yang diproses dengan bantuan beberapa bakteri atau mikroorganisme pengurai, atau bisa juga disebut dengan pupuk organik. Komponen organik yang termasuk antara lain seperti dedaunan, jerami, rerumputan, padi-padian, batang jagung, hingga kotoran hewan. Kompos mengandung unsur hara yang penting bagi tumbuhan. Di alam terbuka, proses pengomposan (pembuatan kompos) dapat terjadi secara alami, yaitu ketika komponen sisa organik yang terdapat di suatu lingkungan mengalami pembusukan akibat berjalannya waktu. Pembusukan itu terjadi karena adanya aktivitas antara mikroorganisme dengan cuaca. Namun pengomposan juga dapat terjadi secara tidak alami, dengan tujuan untuk mempercepat berjalannya proses. Pengomposan tidak alami (buatan) dapat dilakukan dengan bantuan manusia, tepatnya dengan perlakuan menambahkan mikroorganisme pengurai tertentu sehingga dalam waktu yang lebih cepat dapat dihasilkan kompos dengan kualitas baik.

Apa Saja Kandungan dari Kompos?

Komponen sisa organik yang dapat digunakan untuk bahan pembuatan kompos (pupuk organik) dapat berasal dari limbah apa saja, baik itu limbah pertanian, limbah perkotaan, limbah industri hingga limbah rumah tangga. Beragam jenis komponen tersebut dapat dijadikan bahan pengomposan baik secara alami maupun buatan (bantuan perlakuan manusia). Yuk, kita pelajari lebih dalam kandungan dari kompos tersebut!

Berdasarkan sifat fisikanya, pupuk organik dapat memperbaiki struktur tanah menjadi lebih gembur sehingga pengolahan tanah menjadi lebih mudah, misalnya memperbaiki struktur tanah berpasir menjadi lebih kompak/padat dan tanah lempung menjadi semakin gembur. Hal ini disebabkan oleh senyawa polisakarida yang dihasilkan mikroorganisme pengurainya yang berfungsi sebagai pengikat partikel tanah. Struktur tanah yang lebih baik tersebut akan mempermudah penyerapan air ke dalam tanah dan difusi oksigen di akar. Hal ini sesuai dengan laporan penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menyatakan bahwa takaran kompos sebanyak  t ha-1 mampu meningkatkan kandungan air tanah suatu tempat.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Secara sifat kimia, pupuk organik termasuk sebagai sumber penyedia unsur hara mineral yang cukup lengkap meskipun dalam jumlah relatif kecil (N, K, P, Ca, Mg,Cu, Zn, B, Zn, Mo, serta Si). Sehingga dalam jangka panjang, pemberian kompos dapat memperbaiki pH dan hasil tanaman pertanian hingga tanah masam menjadi lebih baik. Kandungan bahan organik dalam pupuk organik juga memiliki kemampuan untuk bereaksi dengan ion logam untuk membentuk senyawa kompleks. Sehingga berperan dalam mengatasi keberadaan ion logam yang bersifat meracuni tanaman dan mampu merugikan ketersediaan unsur hara pada tanah yang bermanfaat seperti Al.Fe dan Mn.

Juga secara biologi, pupuk organik banyak mengandung mikroorganisme (jamur, aktinomisetes, bakteri hingga alga) yang menghasilkan karbondioksida yang berfungsi bagi fotosintesis tumbuhan. Aktivitas mikroorganisme dalam kompos juga menghasilkan hormon-hormon pertumbuhan (auksin, giberelin, dan sitokinin) yang baik untuk pertumbuhan akar rambut sehingga tumbuhan dapat memperlebar daerah pencarian makanannya. 

Jenis-Jenis Kompos

Pupuk organik atau kompos mudah untuk dibuat dan teknologinya sangat sederhana, serta dapat dibuat oleh siapa saja. Pengelompokkan pupuk organik dapat dilihat dari 3 hal, yaitu: 1. Proses pembuatannya, yaitu kompos aerob dan anaerob; 2. Dilihat dari dekomposernya, yaitu kompos mikroorganisme dan kompos yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme; juga 3. Dilihat dari bentuk, yaitu kompos padat dan cair. Yuk, simak penjelasannya!

Kompos Aerob

Pupuk Kompos Aerob terbentuk melalui proses biokimia dengan bantuan oksigen. Bahan utama pembuatan kompos aerob adalah sisa-sisa tumbuhan, kotoran hewan, maupun gabungan keduanya. Diperlukan waktu sekitar 40 – 50 hari untuk pembuatannya.

Kompos Anaerob (Bokashi)

Pupuk Bokashi merupakan salah satu kompos anaerob yang banyak digunakan. Bokashi menggunakan mikroorganisme sebagai inokulan atau komponen awalnya. Mikroorganisme yang digunakan merupakan campuran dari berbagai macam pilihan yang mampu mendekomposisi bahan organik secara efektif.

Vermikompos

Vermikompos adalah jenis pupuk organik yang memanfaatkan mikroorganisme sebagai pengurai, dapat berupa cacing tanah dari jenis Lumbricus, belatung ataupun mikroorganisme jenis lainnya. Vermikompos dibuat dengan menjadikan bahan organik sebagai pakan cacing tanah.

Kompos atau Pupuk Organik Cair

Kompos cair merupakan jenis pupuk organik yang dibuat dengan pengomposan basah yang dapat berlangsung secara aerob (dengan udara) maupun anaerob (tanpa udara). Pupuk kompos cair cenderung lebih mudah untuk diserap oleh tumbuhan, terutama jika diberikan pada daun dan akar (daun lebih efektif) kecuali pada sistem hidroponik. Namun pemberian kompos cair haruslah dengan dosis yang tepat karena jika berlebihan dapat menyebabkan daun mudah layu.

Pengomposan (Pembuatan Kompos)

Ⓒ  wetlands.or.id
Ⓒ  wetlands.or.id

Pengomposan (pembuatan pupuk organik) salah satu cara untuk membuat pupuk organik dengan proses pembusukan. Proses pengomposan dilakukan pada tempat yang terlindung dari hujan dan sinar matahari. Unsur hara dapat ditambahkan guna mempercepat proses perombakan struktur (dekomposisi) dan pematangan komponen organiknya. Bahan yang diperlukan untuk melakukan pengomposan antara lain limbah organik (sisa tanaman, kotoran hewan, dll) yang sudah layu atau tidak terlalu basah untuk tumbuhan dan diusahakan sudah matang untuk kotoran hewan, kapur pertanian (Kaptan) dan air untuk menyiram bahan pupuk organik. Sedangkan alat yang diperlukan untuk pengomposan antara lain cangkul dan sekop, ember, atap peneduh, pisau/parang dan karung. 

Tempat pengomposan diusahakan untuk berada tidak jauh dari lahan usaha untuk mempermudah proses pengangkutan dan penyebaran pupuk organik yang sudah jadi. Tempat pengomposan perlu diberi atap peneduh untuk menjaga kelembaban pupuk organik agar dapat berjalan cepat. Ukuran minimal untuk tempat pengomposan sekitar 2 x 2 meter dengan hamparan luas.

Prinsip dasar dalam pembuatan pupuk organik adalah dengan mencampurkan bahan organik kering berkarbohidrat tinggi dengan bahan organik basah dengan nitrogen tinggi. Untuk tahapan-tahapan pengomposan menurut Climate Change, Forests and Peatlands in Indonesia (CCFPI) adalah sebagai berikut:

  1. Persiapkan alat, bahan dan tempat pengomposan (pembuatan kompos)
  2. Potong kecil-kecil sisa tumbuhan (25 – 50 cm) guna mempercepat proses pembusukan
  3. Susun rapi potongan bahan kompos dan ditumpuk setebal 30 – 50 cm, kemudian perciki dengan air
  4. Taburi bagian atas bahan pupuk organik dengan kotoran hewan (pupuk kandang) dengan merata setebal 5 – 10 cm
  5. Taburkan kapur pertanian (Kaptan) di atas kotoran ternak secukupnya dengan merata
  6. Pasang cerobong bambu tegak lurus tumbukan awal
  7. Ulangi tumpukan bahan-bahan awal sampai susunan berlapis mencapai ketinggian 1,5 meter
  8. Sirami tumpukan bersusun tersebut dengan air secukupnya
  9. Tutup kompos dengan lembaran plastik atau terpal untuk mempercepat pembusukan.

Beragam Manfaat Kompos

Manfaat utama pupuk organik adalah untuk menyuburkan tanah dan mengurangi limbah organik yang tidak diolah dengan baik. Disamping manfaat tersebut banyak sekali manfaat dari pupuk organik yang perlu diketahui, antara lain:

  1. Memperbaiki tekstur tanah (menggemburkan tanah) karena meningkatnya daya ikat air terhadap tanah
  2. Meningkatkan pH tanah dan memperbaiki drainase
  3. Menambah unsur-unsur makro dan mikro, yaitu unsur hara mineral yang memadai dan seimbang
  4. Sumber makanan bagi tumbuhan, yaitu melalui aktivitas mikroorganisme yang terjadi
  5. Meningkatkan keberadaan jasad renik dalam tanah, karena dapat menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme dan dapat menghambat aktivitas mikroba yang merugikan
  6. Relatif tidak menimbulkan polusi
  7. Murah, karena berbahan dasar organik atau alami
  8. Mengurangi pencemaran lingkungan terutama sampah organik
  9. Mudah, dapat diproduksi sendiri

Sebagai salah satu upaya untuk mengurangi sampah organik di lingkungan maka melakukan daur ulang menjadi pupuk organik akan membawa dampak yang sangat baik bagi kelestarian lingkungan. Namun tidak hanya bagi lingkungan, buktinya banyak sekali manfaat pupuk organik dari segi ekonomi, lingkungan, dan segi lainnya. Yuk, peduli lingkungan mulai dari mengenal hal-hal yang sederhana!

 

Penulis: Ivena Christie

Referensi Literatur

alamtani.com (n.d.). Jenis-Jenis Pupuk Kompos. Retrieved on January 11, 2021, from https://alamtani.com/pupuk-kompos/

foresteract.com (n.d.). Kompos: Pengertian, Jenis, Manfaat, Bahan, Kualitas, dan Pembuatan. Retreived on January 11, 2021, from https://foresteract.com/kompos/2/

Kurniawan, Riki. 2017. Pemanfaatan Limbah Biogas, Jerami dan Sekam Untuk Pembuatan Kompos Di Desa Dagangan Kecamatan Dagangan. STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun.

Muslihat, Lili. Teknik Pembuatan Kompos Untuk Meningkatkan Produktivitas Tanah Di Lahan Gambut. Climate Change, Forests and Peatlands in Indonesia (CCFPI): Seri Pengelolaan Hutan dan Lahan Gambut.

Setyorini, D. 2005. “Pupuk Organik Tingkatkan Produksi Pertanian”. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Vol.27, No.6 : Bogor. 

Referensi Gambar 

[1] https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20201005173807-284-554629/cara-mudah-membuat-pupuk-kompos-dari-sisa-makanan

[2] http://www.wetlands.or.id/PDF/Flyers/Agri02.pdf

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak! 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!