Mengenal Konsep Virtual Water dalam Konsumsi Air

Sebelum kita memahami Virtual Water, yuk kita pahami salah satu elemen penting bumi yaitu air. Air adalah elemen penting dalam kehidupan. Air menyusun hingga 60% dari tubuh manusia dewasa. Oleh karena itu, manusia amat tergantung pada air untuk bertahan hidup. Pada keseharian yang dapat kita amati pada skala rumah tangga, manusia menggunakan air untuk minum, membersihkan diri, hingga untuk mencuci benda-benda di sekitarnya.

Ads

Namun, tahukah kalian, bahwa jumlah air yang kita konsumsi sehari-hari ternyata jauh lebih banyak daripada yang kita lihat?

Photo Credit: aquamundam.eu
Photo Credit: aquamundam.eu

Konsep Virtual Water

Jika sebelumnya kalian berpikir bahwa air yang dikonsumsi sehari-hari oleh manusia hanya berupa air yang diminum, yang digunakan untuk mandi, hingga menyiram tanaman, kalian salah. Kenyataannya, pada tiap makanan yang kita makan, pakaian yang kita pakai, hingga segala barang yang kita gunakan dalam keseharian mengandung air secara tak langsung. Air tersebut mungkin tidak terlihat pada konsumen atau pengguna barang, tetapi berperan penting pada rantai produksi barang tersebut. Konsep mengenai air yang tersembunyi atau tersimpan pada suatu produk disebut sebagai Virtual Water, atau bisa juga disebut sebagai “embedded water” atau “indirect water”.

Menurut Hoekstra (2003), virtual water dari suatu produk didefinisikan sebagai air yang digunakan pada proses produksi suatu produk agrikultur atau industri tersebut. Konsep ini telah diperkenalkan oleh Tony Allan sejak awal tahun 90-an. Butuh hampir satu dekade bagi konsep ini untuk mendapat rekognisi secara global untuk digunakan dalam menangani isu keamanan suplai air dalam lingkup regional maupun global. Konsep ini diangkat pada pertemuan internasional untuk pertama kalinya pada Desember 2002 di Delft, Belanda.

Virtual Water Pada Makanan, Minuman, Hasil Panen hingga Produksi Industri

Makanan

Contoh penerapan konsep ini bisa dilihat pada makanan di sekitar kita. Berdasar statistik dari UNESCO-IHE pada tahun 2010, rata-rata produksi beras dunia memakan 2414 liter air per kilogram beras yang dihasilkan. Kalau dikonversi menjadi satu galon AMDK (air mineral dalam kemasan) 19 liter, maka tiap kilogram beras memerlukan 127 galon air, lho. Wow!

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Meski demikian, konsumsi air dalam rantai produksi suatu produk pangan bisa berbeda-beda di tiap daerah. Sebagai contoh, di Jawa Tengah, produsen beras terbesar di Indonesia, tiap kilogram berasnya menghabiskan 2527 liter air, sedikit lebih tinggi daripada rata-rata global. Sementara itu, di negara maju, seperti Jepang, penggunaan air untuk produksi beras bisa lebih efisien. Di Niigata, prefektur produsen beras terbesar (dan paling unggul) di Jepang, produksi beras hanya membutuhkan 1150 liter air per kilogramnya.

Minuman

Bicara perihal makanan, tak lengkap rasanya bila juga menyinggung minuman. Pada segelas susu berukuran 200 mililiter, terdapat virtual water sebesar 200 liter, lho. Kalau dibandingkan, rasio antara volume susu : virtual water adalah 1: 1000. Artinya, di balik segelas susu yang kita minum, secara tak langsung kita telah “mengonsumsi” seribu gelas air secara tak langsung. Bedanya, seribu gelas air tersebut tentunya tidak masuk ke perut kalian.

Minuman lain juga tak kalah borosnya dalam menggunakan air pada rantai produksinya. Bagi kalian yang suka minum teh atau kopi di pagi hari, segelas kopi berukuran 125mL serta segelas teh berukuran 250mL masing-masing menghabiskan 140L dan 35L virtual water. Agar mudah dibayangkan, angka tersebut sebanding dengan tujuh dan dua galon per gelasnya. Wah, banyak juga ya!

Kalian juga bisa lihat perbandingan konsumsinya antara produk makanan dan minuman lain di infografis berikut.

Photo Credit: eniscuola.net
Photo Credit: eniscuola.net

Hasil Panen

Photo Credit: eos.com
Photo Credit: eos.com

Pada makanan dan minuman yang bersumber dari tanaman atau hasil panen, total virtual water berasal dari akumulasi tiga tipe penggunaan air. Pertama, green water yang mengacu pada penggunaan air hujan dalam rantai produksi. Kedua, blue water yang didefinisikan sebagai konsumsi air permukaan dan air tanah pada proses produksi. Ketiga grey water yang mengacu pada penggunaan air yang dibutuhkan untuk menetralkan polutan berdasar kualitas air semula.

Produk Industri

Photo Credit: worldvalve.com
Photo Credit: worldvalve.com

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, tak hanya produk makanan ataupun minuman saja yang menggunakan air pada rantai produksinya. Produk perindustrian pun demikian, bahkan menggunakan jauh lebih banyak air pada produksinya. Pakaian seperti kaos berbahan kapas menghabiskan rata-rata 2000 liter per helainya. Sepasang sepatu berbahan dasar bovine leather menghabiskan empat kali lipat air dari kaos. Bahkan, sebuah microchip yang berukuran 2 gram mengonsumsi 32 liter air pada proses produksinya.

Hubungannya dengan Water Footprint (Jejak Air)

Setelah mengetahui konsep dan banyaknya konsumsi air tak terlihat ini di rantai produksi berbagai produk, penting bagi kita untuk memahami konsep Jejak Air. Mungkin kata tersebut akan terasa familier bagi kita karena sekilas mirip dengan carbon footprint. Perbedaan antara keduanya adalah jejak karbon (carbon footprint) digunakan untuk mengukur emisi gas karbon, sedangkan jejak air digunakan untuk menilai konsumsi air (tentu saja). Pada level individu atau rumah tangga, jejak air dapat dihitung dengan menambahkan penggunaan air domestik dengan virtual water dari barang yang digunakan individu/rumah tangga tersebut.

Kalkulator Water Footprint 

Tentu saja, akan sangat ribet dan memakan waktu apabila kita menghitungnya dengan cara manual. Oleh karena itu, sudah muncul berbagai inovasi berupa kalkulator Jejak Air. Salah satunya dapat kalian akses melalui situs berikut : www.watercalculator.org. Di situs tersebut, kalian hanya perlu memasukkan data seperti jumlah anggota keluarga, penggunaan air dalam ruangan, luar ruangan, serta barang-barang yang mengandung air tersembunyi dengan jumlah signifikan. Tenang saja, tampilan tatap muka serta intruksinya sangat mudah dan nyaman untuk diikuti, kok!

Konsep virtual water dan water footprint tak cukup untuk hanya sekadar dipahami. Adanya dua konsep tersebut perlu digunakan untuk menjadi tolok ukur dalam kesadaran konsumsi kita terhadap air sehari-hari. Lewat konsep tersebut, kita akhirnya menyadari bahwa penghematan air tak cukup dengan hanya menghemat air saat mandi, mencuci tangan, maupun menyiram tanaman. Mengonsumsi barang dengan bijak dan bertanggung jawab, seperti tujuan SDGs nomor 12, juga menjadi salah satu cara untuk menghemat air.

Yuk, hemat air dan lakukan konsumsi yang bertanggung jawab!

 

 

Penulis: Salman Albir Rijal

LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/salmanalbir/

Instagram:  www.instagram.com/salmanalbir

Referensi:

[1]GDRC (2021). “Water Footprints and Virtual Water”. Retrieved 15 January 2021, from https://www.gdrc.org/uem/footprints/water-footprint.html

[2]Hoekstra, A., & Chapagain, A. (2006). “Water footprints of nations: Water use by people as a function of their consumption pattern”. Water Resources Management, 21(1), 35-48. doi: 10.1007/s11269-006-9039-x

[3]Hoekstra, A. (2003). Virtual water trade. Delft: IHE.

[4]Mekonnen, M.M. & Hoekstra, A.Y. (2011). “The green, blue and grey water footprint of crops and derived crop products”, Hydrology and Earth System Sciences, 15(5): 1577-1600

[5]Water Footprint Calculator. (2021). “What is Virtual Water?”. Retrieved 15 January 2021, from https://www.watercalculator.org/footprint/what-is-virtual-water/

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk melakukan kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di berbagai daerah. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. 

Yuk bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan!