Kucing Bakau, Si Penyelam Ahli yang Populasinya Kian Kritis

Gambar 1 1 2 – Wanaswara
Gambar 1 (Sumber: National Geographic/Joel Sartore)

Di dunia terdapat kurang lebih empat puluh jenis kucing liar yang tersebar di beberapa penjuru benua. Ukuran tubuhnya beragam, dari yang sebesar singa hingga yang kecil seukuran kucing rumahan yang sering kita jumpai sehari-hari. Keunikannya pun bermacam-macam, dari yang sama sekali takut terhadap air sampai yang suka dengan air, bahkan mampu menjadi perenang dan pemangsa yang andal. Di Indonesia, ada sekitar sebelas jenis kucing liar. Sebut saja harimau sumatera, harimau jawa, harimau bali, macan tutul, kucing emas, kucing merah, macan dahan, kucing batu, macan tandang, kucing hutan, dan kucing bakau. Ada dua yang telah dinyatakan punah yaitu harimau jawa dan harimau bali. Semua jenis kucing tersebut tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

Ads

Di Indonesia, nama kucing bakau masih jarang terdengar di masyarakat. Sebagian masyarakat kita hanya familiar dengan harimau dan macan tutul. Dalam hal penelitian dan konservasi pun, jenis kucing lainnya masih minim perhatian.

Karakteristik Kucing Bakau

Terkhusus kucing bakau, hewan ini merupakan spesies yang unik dibanding kucing liar lainnya. Kucing bakau dapat hidup di perairan karena memiliki kemampuan berenang yang kuat dan dapat menempuh jarak jauh di bawah air. Hewan ini termasuk sebagai fishing cat karena kebolehannya menangkap ikan, burung, serangga, dan hewan pengerat. Sebuah penelitian di India memperkirakan bahwa fishing cat di Negara Bagian Benggala Barat memakan antara 365 hingga 730 hewan pengerat per tahun. 

Kucing bakau memiliki nama latin Prionailurus viverrinus, wilayah utamanya di lahan basah. Seperti di lahan basah, di sepanjang sungai, danau, rawa-rawa, dan hutan bakau. Hidupnya pada habitat spesifik, utamanya di hutan mangrove pesisir pantai dan tepian badan air.

Makanan utamanya ikan, kebiasaannya menangkap ikan dengan kuku-kuku kaki membuatnya dijuluki fishing cat. Kucing bakau adalah salah satu dari tiga jenis kucing yang mampu berenang, bahkan menyelam. Sementara, jenis kucing lainnya lebih condong menghindar air. Kemampuan berenangnya yang hebat, karena didukung morfologi tubuhnya.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com
Gambar 2 1 2 – Wanaswara
Gambar 2 (Sumber: National Geographic/Joel Sartore)

Ukuran tubuh kucing bakau rata-rata dua kali lebih besar dari kucing domestik. Paling besar di antara anggota Prionailurus. Untuk panjang tubuh mencapai 57-78 cm dengan ekor 20-30 cm. Tinggi badan berkisar 35 cm. Bobot tubuh bisa mencapai 8-14 kg untuk jenis kelamin jantan dan 5-9 kg untuk jenis kelamin betina. 

Warna bulunya abu-abu kekuningan dengan garis hitam disertai bintik-bintik. Kucing bakau juga dapat dikenali dari bentuk muka, wajahnya memanjang dengan bentuk hidung yang khas karena terlihat pesek. Ada corak berwarna putih di bagian bawah tubuh. Sedangkan bagian belakang telinganya tampak corak berwarna hitam, dengan bintik-bintik putih di bagian tengah. Bintik hitam dengan pola melingkar menyelimuti tubuh hewan ini. Terdapat enam sampai delapan garis gelap di sekitar belakang mata sampai tengkuk. Terdapat juga sepasang garis gelap di sekitar tenggorokan dan beberapa cincin hitam di bagian ekor. Pola seperti itu yang menjadikan kucing ini terlihat menarik.

Kemampuan hebatnya dalam berenang dan menyelam didukung oleh morfologi tubuhnya. Sebagai kucing perenang, kucing bakau mempunyai bulu yang berlapis. Lapisan pendek berfungsi menjaga kulit tetap hangat dan kering saat berada di air, sedangkan lapisan lain sebagai pola warna dari hewan ini. Terdapat selaput di antara jari-jari kakinya bercampur dengan bentuk ekor memipih sebagai dayung. Ini didukung juga dengan otot-otot kaki pendeknya sebagai pengayuh.

Kucing bakau aktif di malam hari dan sering berada di dekat perairan. Mangsa utamanya ikan, sementara yang lain adalah burung, serangga, dan tikus. Hewan ini akan turun ke air memakai cakarnya untuk menangkap ikan. Kucing ini menandai wilayahnya menggunakan urinnya yang berbau tajam.

kucing bakau
Gambar 3 (Sumber: Unsplash.com)

Masa perkembangbiakannya paling sering terjadi pada bulan Januari hingga Februari dan anak-anaknya lahir pada bulan Maret atau April. Kucing betina membangun sarang di daerah terpencil layaknya semak padat dan alang-alang. Usai menjalani masa kehamilan 63-70 hari, betina akan melahirkan dua sampai tiga anak kucing. Pada saat lahir, berat kucing ini anakan berkisar 170 g. Bayi-bayi ini baru bisa aktif bergerak pada usia satu bulan, kemudian mulai mengonsumsi makanan padat dan bermain di air pada usia 2 bulan.  Anak spesies ini memasuki usia dewasa apabila telah mencapai usia 8,5 bulan. Periode pertumbuhan gigi dewasanya terjadi saat usia 11 bulan, dengan rentan waktu hidup rata-rata 10 tahun.

Baca lainnya: Burung Baru: Penemuan di ‘Tanah yang Hilang’ Wallacea

Persebaran Kucing Bakau

Masa hidup kucing bakau juga terbilang panjang. Rata-rata berkisar 12 tahun untuk betina dan 10 tahun untuk jantan. Hewan ini tersebar di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Peta persebarannya mulai dari Pakistan, India, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka, Vietnam, Thailand, Laos, Malaysia sampai Indonesia. Di Indonesia, persebaran spesies ini berada di sekitar Pulau Jawa. Di alam liar, hewan ini hidup di kawasan rawa bakau, lalu mencari makan di sepanjang kawasan sungai. 

Pada tahun 2009, peneliti Jim Sanderson, Will Duckworth, dan Sunarto menjelaskan dalam tiga artikel berbeda, kucing ini tidak ditemukan di Sumatera. Ini berdasarkan hasil riset mereka di Sumatera, tidak ada catatan yang merekam keberadaan hewan ini di Sumatera selama 10 tahun terakhir. Dengan demikian, Jawa dianggap sebagai habitat terkahir kucing bakau di Indonesia.

Pada tahun 2011, Indra Arinal (mantan Kepala Balai TN Meru Betiri dan BKSDA Sumatera Barat) mencari keberadaan spesies ini. Penelusurannya membuahkan hasil, ada kebun binatang di Jawa Timur yang memiliki kucing bakau, hasil serahan masyarakat yang menangkap langsung di alam liar. Namun, kucing tersebut sudah mati saat mendatangi kebun binatang itu. 

Ancaman Kepunahan

Berdasarkan P.106/MENLHK/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, Indonesia telah memberikan status perlindungan pada delapan jenis kucing, salah satunya kucing bakau. Apabila kita telaah lebih jauh, perlindungan terhadap satwa bergenus Prionailurus sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999.

Berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), saat ini kucing bakau berstatus rentan atau terancam punah. Di benua Asia populasinya menurun drastis akibat alih fungsi lahan secara besar-besaran. Berbagai sumber mengatakan bahwa ancaman kepunahan spesies ini terjadi disebabkan aktivitas perburuan liar. Hewan ini diburu untuk diambil kulitnya, rambut, serta bagian tubuh lainnya. Penangkapan hewan ini untuk dijadikan hewan peliharaan juga terjadi di masyarakat. Perburuan dan jual beli satwa tidak kunjung dapat diredam sampai sekarang. Tanpa solidaritas manusia, minimnya informasi dan kepedulian akan mempercepat kepunahan kucing bakau di dunia.

 

Penulis: Riski Rianda

Dikurasi oleh: Citra Isswandari Putri

 

 

Referensi Literatur:

Greeners.co. 6 Maret 2021. Kucing Bakau, Perenang dan Pemancing Ulung dari Asia. Diakses 16 Maret 2021, dari https://www.greeners.co/flora-fauna/kucing-bakau/

Kumparan. 16 Juli 2020. Mengenal Fishing Cat, Kucing yang Enggak Takut Air. Diakses 17 Maret 2021, dari https://kumparan.com/dasar-binatang/mengenal-fishing-cat-kucing-yang-enggak-takut-air-1toVzxzHP06

Mongabay. 16 Juni 2020. Nasib Kucing Bakau, Minim Perhatian dan Penelitian. Diakses 17 Maret 2021, dari https://www.mongabay.co.id/2020/06/16/nasib-kucing-bakau-minim-perhatian-dan-penelitian/

National Geographic. 7 Desember 2018. Photo Ark: Fishing Cat. Diakses 17 Maret 2021, dari https://www.nationalgeographic.org/media/photo-ark-fishing-cat/

Wild Cat Magazine. Fishing Cat (Prionailurus Viverrinus). Diakses 16 Maret 2021, dari https://wildcatsmagazine.nl/wild-cats/fishing-cat-prionailurus-viverrinus/

 

LindungiHutan.com adalah Platform Crowdfounding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak.

 

Yuk, jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!