Particulate Matter (PM): Mengenal Polutan Berbahaya

 

© deccanherrald.com
© deccanherrald.com

Polusi udara merupakan penyebab dari menurunnya kualitas udara. Salah satu faktor yang memengaruhi kualitas udara adalah banyaknya jumlah dan jenis polutan yang lepas ke udara. Tingkat polutan di udara pun dapat beragam dari satu tempat ke tempat lainnya. Kualitas udara yang buruk turut menjadi permasalahan serius karena dapat membahayakan kesehatan dan mengancam lingkungan. Polusi partikel merupakan polutan yang menjadi ancaman utama terhadap kualitas udara di dunia. Polutan beracun ini dapat mengakibatkan polusi udara. Polutan yang dikenal sebagai particulate matter ini juga terkadang dapat mengalami reaksi kimia yang kompleks di atmosfer, yang dapat berdampak mematikan karena dengan mudah menembus jauh ke dalam paru-paru dan aliran darah tubuh manusia tanpa filter. 

Ads

Alasan utama meningkatnya pembentukan polusi partikulat di udara yaitu akibat aktivitas manusia. Emisi polusi partikulat kebanyakan bersumber dari pabrik industri, pembangkit listrik, insinerator, kendaraan bermotor, dan generator diesel, yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Hal ini yang menyebabkan kondisi udara semakin memburuk dan mendorong terjadinya perubahan iklim.

Asal Muasal Particulate Matter (PM) 

© Indianexpress.com
© Indianexpress.com

Partikulat, biasa dikenal sebagai polusi partikel atau Particulate matter (PM), merupakan istilah yang mengacu pada campuran partikel padat dan cair yang mengambang di udara atau atmosfer. Particulate Matter juga memiliki ukuran, asal, dan komposisi yang beragam, yang dapat terdiri dari ratusan bahan kimia berbeda. 

Campuran partikel yang terkandung pada PM dapat berasal dari partikel organik maupun antropogenik (dihasilkan oleh manusia), seperti debu, serbuk sari, kotoran, asap, jelaga, dan tetesan cairan. Partikel ini bisa berukuran besar atau sangat kecil dan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. 

Pembentukan PM dapat terjadi di dalam maupun di luar ruangan, tergantung pada sumbernya. PM alami bisa berasal dari kebakaran hutan, badai debu, letusan gunung berapi, semburan laut, atau komponen sumber biologis. Sementara PM antropogenik dapat berasal dari proses industri, pembakaran gas pada mesin kendaraan bermotor, membakar kayu, lilin, dan dupa, penggunaan kompor, pemanas, perapian, hingga dari asap tembakau rokok.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Particulate matter juga dapat dipancarkan secara langsung maupun tidak langsung. Pembentukan PM secara langsung dapat melalui pembakaran bahan bakar ataupun debu yang terbawa angin. Sementara itu, pembentukan PM secara tidak langsung bisa melalui pelepasan polutan gas ke udara yang berubah menjadi polusi partikulat.

Variasi ukuran particulate matter mulai dari yang terlihat dengan mata telanjang hingga yang sangat kecil, yang hanya dapat dideteksi menggunakan mikroskop elektron. PM diklasifikasi sesuai ukurannya yaitu PM 10 dan PM 2.5. 

  • PM10 merupakan partikel yang dapat dihirup, yang umumnya memiliki diameter sebesar 10 mikrometer atau lebih kecil. 
  • PM2.5 adalah partikel halus yang juga dapat dihirup, namun dengan diameter yang lebih kecil, umumnya yaitu 2,5 mikrometer dan bahkan lebih kecil.

Ukuran PM jauh lebih kecil daripada sehelai rambut di kepala manusia. ukuran 2,5 mikrometer setara dengan 30 kali lebih kecil dari ukuran rambut manusia yang rata-rata berdiameter sekitar 70 mikrometer.  

© Trusens.com
© Trusens.com

Ukuran partikel secara langsung berkaitan dengan meningkatnya potensi pada masalah kesehatan. Semakin kecil ukuran partikel, maka semakin mudah untuk memasuki jaringan paru-paru, bahkan ke sirkulasi darah manusia. seiring dengan itu, potensi kerusakan yang ditimbulkan PM pun semakin besar. 

Terlepas seberapa ukurannya, partikel ini juga tetap membahayakan bagi kesehatan. Dengan memahami asal mula pembentukan PM, hal ini berguna dalam mencegah atau mengurangi pengaruh yang ditimbulkannya bagi manusia dan lingkungan.

Risiko Paparan

particulate matter
© Cnn.com

Particulate matter memiliki dampak serius bagi kesehatan manusia, pertumbuhan tanaman, maupun iklim. Bagi manusia, polutan particulate matter yang terhirup dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama pada kelompok orang yang lebih sensitif dan rentan seperti kalangan anak-anak, lansia, dan orang dari segala usia yang memiliki penyakit terkait jantung, paru-paru, atau asma. Polusi udara juga dapat  menyebabkan masalah kardiovaskular, kelelahan, kecemasan, serta kerusakan hati , limpa, dan darah.

Meskipun demikian, gejala yang ditimbulkan dapat bervariasi tergantung pada tingkat paparan dan kepekaan terhadap particulate matter. Tidak semua individu yang terpapar particulate matter akan mengalami gejala tertentu. Beberapa gejala yang terkait dengan paparan particulate matter (PM) di antaranya sakit kepala, iritasi mata, hidung dan tenggorokan, batuk, detak jantung tidak teratur, fungsi paru-paru menurun atau kesulitan bernapas, asma yang diperburuk, serangan jantung nonfatal, dan kematian dini pada penderita penyakit jantung atau paru-paru. 

Selain itu, particulate matter juga dapat memengaruhi kehamilan dan kecacatam pada bayi yang baru lahir. Kemampuan partikel untuk masuk ke dalam tubuh ibu hamil memudahkan untuk masuk ke dalam tubuh ibu hamil dan kemudian ke anak selama paparan polutan udara partikulat dalam waktu lama. Dengan demikian, polutan kimia berbahaya dapat menyebabkan semua jenis cacat lahir. Hal ini juga menjadi alasan kegagalan kehamilan khususnya di kota dan kota yang menghadapi tingkat polusi yang ekstrim.

Efek merugikan dari polutan partikulat akan bervariasi sesuai dengan ukuran partikelnya. Oleh karena itu, partikel di udara seperti asap, debu, kabut, dll berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel yang lebih besar dengan ukuran lebih dari 5 mikron memiliki kemampuan untuk masuk dan memblokir saluran hidung. Namun, partikel dengan ukuran perkiraan 10 mikron dapat langsung masuk ke paru-paru dan mempengaruhinya dengan parah.

Selain berdampak pada kesehatan manusia, particulate matter berpengaruh pula pada vegetasi dan tanaman pertanian. Polutan partikulat memiliki kemampuan untuk memblokir lubang stomata, yang berdampak dengan memperlambat proses fotosintesis. Karenanya, polutan udara dapat menyebabkan kerusakan tanaman, mengurangi hasil panen dan vegetasi, serta meningkatkan angka kematian tumbuhan.

Sementara itu, keberadaan particulate matter di udara juga dapat mengganggu keseimbangan lingkungan. Dampak lingkungan yang ditimbulkan dari particulate matter dapat bervariasi berdasarkan komposisi kimianya dan ke mana perginya, karena particulate matter dapat terbawa hingga jarak yang jauh.

 Particulate matter dapat mendorong penambahan efek hujan asam, memengaruhi penglihatan atau “kabut”, membuat danau dan sungai menjadi asam, mempengaruhi keanekaragaman ekosistem, menimbulkan penipisan nutrisi di tanah, merusak hutan sensitif dan tanaman pertanian, serta mengubah keseimbangan nutrisi di perairan pesisir dan wilayah sungai yang besar. Telah diperkirakan pula bahwa particulate matter dapat berdampak negatif pada cuaca di tingkat regional.

Yang lebih mengkhawatirkan, particulate matter memiliki keampuan untuk mendorong curah hujan tropis yang kemudian menyebabkan curah hujan menurun, lalu menjadi penyebab kekeringan yang dialami manusia. Saat ini, kekeringan kerap terjadi dalam skala global daripada saat-saat sebelumnya. Partikel polutan ini juga bertanggung jawab atas peningkatan gas rumah kaca dan pemanasan global di dunia.  

Cara Mengurangi Pembentukan Particulate Matter (PM)

particulate matter
© Reporterherald.com

Untuk mengurangi atau mencegah paparan particulate matter, ada dua kategori yang dapat dilakukan, yakni dari luar ruangan dan dalam ruangan. Cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan particulate matter luar ruangan adalah dengan menghindari jalan raya yang dilalui banyak kendaraan bermotor atau jalan yang sering mengalami kemacetan, mengurangi bepergian ke luar ruangan saat polusi udara tinggi, dan mulai mempertimbangkan untuk membeli dan menggunakan kendaraan listrik, yang juga dapat mengurangi emisi karbon.

Sementara di luar ruangan, hal yang bisa dilakukan ialah dengan memastikan hasil pembakaran pada peralatan seperti kompor atau pemanas dibuang ke luar ruangan, menghindari kompor penggunaan kompor tanpa ventilasi, menghindari merokok di ruang tertutup seperti mobil, membatasi pembakaran kayu, lilin dan dupa, serta menggunakan pembersih udara seperti air purifier.

 

Penulis: Destri Ananda

Dikurasi oleh: Citra Isswandari Putri 

 

Referensi Literatur

Allencountyhealth.com. Outdoor Air Quality. Diakses pada 9 Januari 2021 dari laman https://www.allencountyhealth.com/get-informed/environmental-health-hazards/air-and-water-quality-safety/outdoor-air-quality/ 

Environmental Protection Agency. Particulate Matter (PM) Pollution. Diakses pada 9 Januari 2021 dari laman https://www.epa.gov/pm-pollution/particulate-matter-pm-basics 

Healthlinkbc.ca. Juni 2018. Particulate Matter and Outdoor Air Pollution. Diakses pada 9 Januari 2021 dari laman https://www.healthlinkbc.ca/healthlinkbc-files/outdoor-air-pollution 

Toppr.com. Particulate Pollutants. Diakses pada 9 Januari 2021 dari laman https://www.toppr.com/guides/chemistry/environmental-chemistry/particulate-pollutants/ 

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk 

Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk melakukan kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di daerahmu. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. 

 

Yuk bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan!