Mengenal Satwa Walabi

Gambar 1. Walabi Lincah Papua © Adzkia
Gambar 1. Walabi Lincah Papua © Adzkia

Mengenal Walabi

Apakah kalian familiar dengan satwa lucu berkantung bernama kanguru? Jika iya, maka kalian pasti mengenal satwa ini sebagai satwa endemik benua australia. Perlu diketahui bahwa salah satu daerah negara kita ternyata juga menjadi habitat dari salah satu spesies keluarga kanguru. Di Papua, kita bisa menemukan salah satu spesies keluarga kanguru bernama walabi. Satwa yang tergolong dalam fauna marsupial Australis ini masuk ke dalam keluarga satwa Macropodidae. Satwa ini dinamai oleh suku aborigin Eora yang bertempat tinggal di pesisir New South Wales, Australia. Di sana, beberapa spesies dari satwa ini dinamai berdasarkan habitat mereka, seperti walabi batu untuk spesies yang tinggal di daerah bebatuan dan walabi rawa untuk jenis yang tinggal di daerah rawa. Di Merauke, hewan ini lebih dikenal dengan nama “toraj” atau “saham”.

Ads

Karakteristik dan Keunikan Walabi

Walabi adalah hewan pemakan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan. Hewan ini aktif mencari makanan, seperti rumput, ubi, tunas, dan daun, pada siang hari. Secara morfologi, hewan ini memiliki wajah yang memanjang dengan rahang yang berisikan gigi besar merata serta moncong yang meruncing. Selain itu, hewan bertelinga besar ini memiliki warna bulu yang beragam, mulai dari abu-abu, merah tua, coklat, hitam, hingga putih. Sebagai hewan yang tergolong dalam keluarga kanguru, hewan ini memiliki ukuran yang tergolong kecil dibandingkan jenis keluarga kanguru lainnya. Saat dewasa, hewan ini hanya bisa memiliki berat sekitar 3-25 kg, tinggi 30-180 cm, panjang ekor 55 cm, serta panjang kaki 21 cm. 

Meski tergolong kecil, hewan yang masih berkeluarga dengan kanguru juga masih mewarisi kaki kuat yang dapat melompat hingga setinggi 1,8 meter dan sejauh 6 meter. Selain melompat, kakinya juga seringkali digunakan sebagai alat pertahanan diri dari ancaman hewan lain atau sesama pejantan. Selain memiliki kaki yang kuat, hewan ini juga mewarisi ekor kuat yang membantu mereka untuk menyeimbangkan diri saat melompat dan duduk. 

Sebagai bagian dari keluarga kanguru, walabi memiliki kantong yang berguna untuk menjaga bayinya yang baru lahir. Bayi hewan ini yang berukuran sangat kecil saat mereka lahir, sehingga mereka membutuhkan perlindungan langsung oleh induk mereka saat lahir. Pada umumnya, bayinya akan terus digendong di dalam kantong induknya untuk disusui selama beberapa bulan. Uniknya, bayi hewan ini yang sudah cukup dewasa pun seringkali masih melompat kembali ke dalam kantong induknya saat merasa terancam.

Gambar 2. Induk Walabi Menggendong Bayinya © IDN Times
Gambar 2. Induk Walabi Menggendong Bayinya © IDN Times

Habitat dan Persebaran 

Pada awalnya, banyak ahli berpendapat bahwa walabi hanya bisa ditemukan di Australia. Populasi hewan ini diperkirakan mulai menyebar ke tanah Papua saat permukaan air laut surut pada 14.000 – 17.000 tahun lalu. Pada saat itu, daratan Papua dan Australia diyakini sempat menyatu hingga membuat padang rumput Australia, habitat asli hewan ini, tumbuh menjalar hingga daerah selatan Papua. Hal tersebut memungkinkan penyebaran populasi spesies ini hingga ke tanah Papua. Faktor lain yang memungkinkan persebarannya adalah kesengajaan seseorang yang membawa dan melepasnya dari Australia ke tanah Papua. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Walabi selalu hidup dalam kelompok. Biasanya, hewan ini akan membentuk kawanan yang terdiri dari 10 sampai 50 ekor. Saat ini, kanguru kecil ini tidak hanya berhabitat di padang rumput saja. Di Australia, beberapa spesies kanguru ini juga sudah beradaptasi dalam beberapa jenis habitat yang berbeda, seperti perbukitan berbatu, gua, hutan hujan, dan hutan lebat. Selain di Papua, Australia, dan Papua Nugini, hewan ini juga sudah mulai dikembangbiakkan di negara lain, seperti Selandia Baru, Hawaii, dan Inggris. Berikut adalah beberapa spesies :

  1. Walabi lincah (Macropus agilis), ditemukan di Australia Utara, Papua, dan Papua Nugini.
  2. Walabi sikat (Macropus dorsalis), ditemukan di Queensland, Australia.
  3. Walabi kerdil (Macropus dorcopsulus), ditemukan di Papua Nugini.
  4. Walabi parma (Macropus parma), sempat punah seratus tahun namun ditemukan kembali di hutan hujan New South Wales, Australia, pada akhir abad ke 19.
  5. Walabi leher merah (Macropus rufigriseus), ditemukan di daerah timur Australia.
  6. Walabi Tammar (Macropus eugenii), ditemukan di daerah selatan dan barat Australia.
  7. Walabi sikat barat (Macropus irma), ditemukan di daerah barat daya Australia.
  8. Whiptail wallaby (Macropus parryi), ditemukan di daerah timur Australia.
  9. Walabi abu-abu (Macropus greyii), spesies yang berada di daerah tenggara Australia selatan yang telah punah.   
  10. Walabi rawa (Wallabia bicolor), ditemukan di daerah timur Australia.
Gambar 3. Koloni Walabi © BBC
Gambar 3. Koloni Walabi © BBC

Kondisi Terkini 

Walabi sudah menjadi komoditas pangan bagi suku Marind Anim di Merauke. Daging hewan ini sudah menjadi santapan sehari-hari karena dipercaya kaya akan sumber protein, sehingga membuat permintaan akan daging hewan ini terus meningkat. Selain itu, banyak masyarakat penggemar olahraga berburu serta satwa pendatang liar, seperti anjing hutan, kucing hutan, dan rubah, menjadikan kanguru kecil ini sebagai target perburuan. Faktor tersebut membuat hewan ini semakin gencar untuk diburu hingga mengakibatkan turunnya populasi satwa ini. 

Gencarnya perburuan walabi membuat satwa ini masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) dengan status mengkhawatirkan. Hal tersebut diakibatkan oleh status populasinya yang semakin menurun serta perkembang biakannya yang tergolong sulit karena satu ekor betina belum tentu bisa melahirkan lebih dari satu bayi. Jika perburuan satwa ini semakin tidak terkendali, maka bukan tidak mungkin satwa ini akan punah. Untuk itu, dibutuhkan adanya kesadaran bersama untuk menjaga keberlangsungan satwa ini di tanah nusantara.

 

Penulis: Aditya Gilang Rumpaka

 

Referensi Literatur

Aplin, K., Dickman, C., Salas, L., Woinarski, J. & Winter, J. (2015). Macropus agilis: IUCN Red List of Threatened Species. https://doi.org/10.2305/iucn.uk.2016-2.rlts.t40560a21954106.en

AZ Animals. (n.d.). Wallaby. AZ Animals. Retrieved February 18, 2021, from https://a-z-animals.com/animals/wallaby/#single-animal-text

Batbual, A. (2018, October 11). PerburuanWalabi Marak di Merauke. Mongabay. Retrieved February 18, 2021, from https://www.mongabay.co.id/2018/10/11/perburuan-walabi-marak-di-merauke/

Encyclopaedia Britannica. (2020, April 19). Wallaby. Encyclopedia Britannica. Retrieved February 18, 2021, from https://www.britannica.com/animal/wallaby

National Geographic. (n.d.). Wallabies. National Geographic. Retrieved February 18, 2021, from 

https://www.nationalgeographic.com/animals/mammals/facts/wallabies

WWF Indonesia. (n.d.).Walabi.WWF Indonesia. Retrieved February 18, 2021, from https://www.wwf.id/publikasi/walabi

 

Referensi Gambar

WalabiLincah Papua. Retrieved from https://beritapapua.id/kangguru-walabi-dari-tanah-papua/.

KoloniWalabi. Retrieved from https://www.bbc.com/news/uk-scotland-glasgow-west-53345309.

IndukWalabi Menggendong Bayinya. Retrieved from https://www.idntimes.com/science/discovery/eka-amira/5-fakta-unik-walabi-kanguru-imut-satwa-indonesia-timur-exp-c1c2/5.

 

Lindungihutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya yang dapat merugikan pihak. 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!