Mengenal ‘Sekolah Hutan’ bagi Orangutan

[1] Orangutan dan bayinya (Photo credit: @ffrige)
[1] Orangutan dan bayinya (Photo credit: @ffrige)
Orangutan adalah satwa yang cerdas dan kuat. Mereka pintar menggunakan batang pohon untuk berjalan, mengambil buah, dan menghalau kawanan lebah saat mengincar madu. Mereka juga biasa mencari daun yang lebar untuk digunakan sebagai payung saat hujan mengguyur hutan. Orangutan termasuk hewan omnivora. Makanan favoritnya beragam mencakup buah-buahan, dedaunan, bunga, kulit pohon dan serangga kecil seperti semut, jangkrik, dan rayap. Buah yang dimakan orangutan menyisakan biji yang mereka tinggalkan di tanah. Jadi, secara tidak langsung orangutan berperan sebagai penyebar biji dan penyumbang jumlah pepohonan yang tumbuh di dalam hutan. 

Ads

Orangutan dianggap enam kali lebih kuat daripada manusia. Mereka memiliki 4 lengan dan gigi yang kuat. Lengannya yang panjang digunakan untuk bergelantungan dari pohon satu ke pohon lain. Orangutan memang suka memanjat pohon yang tinggi. Di pohon tersebut, mereka akan membuat sarang untuk beristirahat, bermain, dan sebagai tempat untuk melahirkan bayi. Sarang orangutan terbuat dari ranting dan daun yang mereka kumpulkan dari bagian pohon yang gugur dan jatuh ke tanah. Tak seperti sarang burung yang bisa ditempati untuk waktu lama, sarang orangutan hanya ditempati sebentar saja. Orangutan sangat suka menjelajah hutan, jadi mereka biasa membuat lebih dari satu sarang dalam sehari. Meski termasuk hewan yang kuat, orangutan cenderung tenang dan tidak berbahaya bila tidak diganggu. 

Saat ini, populasi orangutan terancam punah dan jumlahnya individu pada tiap spesiesnya makin menurun. Lalu, bagaimana status kelangkaan orangutan dan ancaman kepunahannya? Simak, yuk!

Status kelangkaan dan ancaman kepunahan

Benua Asia memiliki tiga spesies orangutan yang masuk dalam daftar critically endangered menurut IUCN (The International Union for the Conservation of Nature). Spesies tersebut  menempati hutan Kalimantan dan Malaysia serta Sumatera. Tiga spesies keluarga kera besar yang dimaksud adalah Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang tersebar di seluruh Pulau Kalimantan di Indonesia dan Malaysia (Sabah & Sarawak); Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang berada di Pulau Sumatera; dan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), spesies asli Tapanuli yang baru diklasifikasikan terpisah dari Orangutan Sumatera pada 2017. 

Populasi orangutan terus menurun dari tahun ke tahun. Dilansir dari laman BOSF (Borneo Orangutan Survival Foundation), populasi Orangutan Kalimantan diperkirakan mencapai 57,350 ekor, Orangutan Sumatera (Pongo abelii) sebanyak 14,470 ekor, dan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) hanya berkisar kurang dari 800 ekor. Orangutan Kalimantan menjadi spesies dengan populasi terbanyak, sedangkan Orangutan Tapanuli adalah yang paling sedikit jumlahnya. Peneliti perlu waktu untuk mengkaji lebih dalam soal spesies ini karena banyak ditemukan perbedaan yang signifikan antara dua spesies penghuni pulau yang sama.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Faktor utama pendorong turunnya populasi orangutan adalah perburuan dan perdagangan liar yang kerap terjadi. Faktor lain yang juga penting adalah hilangnya habitat hutan akibat deforestasi, khususnya untuk perkebunan kelapa sawit dan bubur kertas industri. Pembunuhan orangutan benar-benar terjadi dan mempengaruhi jumlah populasi secara signifikan. Hal ini dibuktikan dengan habitat orangutan di hutan primer dan hutan tebang pilih antara tahun 1999-2015 yang terus menurun sekitar 67% hingga 83% dari total penurunan populasi orangutan di Kalimantan. Tak hanya itu, deforestasi dan ketergantungan industri terhadap hutan juga menyumbang penurunan populasi sekitar 9% dari jumlah orangutan yang hilang (Voigt, dkk., 2018 dalam Julie, dkk). Orangutan perlu dilindungi dan dijaga habitatnya. Hal ini perlu melibatkan banyak pihak, salah satunya BOSF.

Sekolah ‘Hutan’ Orangutan BOSF

[2] BOSF (Photo Credit: orangutan.or.id)
[2] BOSF (Photo Credit: orangutan.or.id)
BOSF singkatan dari Borneo Orangutan Survival Foundation atau Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) adalah organisasi non-profit asal Indonesia yang berfokus pada konservasi orangutan Kalimantan dan habitatnya. Yayasan ini bekerjasama dengan banyak pihak, seperti masyarakat setempat, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, dan organisasi mitra Internasional. Dilansir dari website resminya, Yayasan BOS sudah merawat raturan orangutan bersama dengan karyawan yang berdedikasi tinggi dan ahli di bidangnya meliputi para ahli di bidang primata, keanekaragaman hayati, ekologi, rehabilitasi hutan, agroforestry, pemberdayaan masyarakat, edukasi, dan kesehatan orangutan.

Visi dan misi BOSF sangat mulia dan berdedikasi tinggi pada kelestarian Orangutan Kalimantan. Visi BOSF yaitu terwujudnya kelestarian orangutan Kalimantan dan habitatnya dengan peran serta masyarakat. Sedangkan misi BOSF adalah reintroduksi, penelitian & pendidikan, perlindungan, kerjasama, pemberdayaan masyarakat, dan kapasitas lembaga. BOSF melakukan kegiatannya di Kalimantan Tengah dan Timur, meliputi penyelamatan, rehabilitasi, reintroduksi, dan konservasi jangka panjang Orangutan Kalimantan. BOSF mengelola banyak program, diantaranya program reintroduksi Nyaru Menteng di Kalimantan Tengah dan Samboja Lestari di Kalimantan Timur.

Kedua program tersebut berfokus pada kesejahteraan orangutan melalui kegiatan konservasi, rehabilitasi dan reintroduksi, sesuai dengan kebijakan taraf nasional dan internasional seperti pedoman dan kriteria internasional (IUCN). Program ini sangat penting karena kehidupan orangutan di dalam dan di luar habitatnya sangat memprihatinkan. Banyak induk orangutan yang diburu dengan senjata api, lalu bayinya diambil dan dijual secara ilegal. Bayi orangutan biasanya dirantai dan dimasukkan ke dalam kandang yang sempit. Mereka juga diberi makanan tidak layak dan seadanya. Bukan hanya soal makanan, kesehatan mereka juga tidak diperhatikan. Kondisi ini mendorong banyak pihak untuk membantu berkontribusi dalam pelestarian orangutan.

1. Sekolah Hutan Nyaru Menteng 

[3] Borneo Nyaru Menteng (Photo credit: pagguci.com)
[3] Borneo Nyaru Menteng (Photo credit: pagguci.com)
Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Tengah di Nyaru Menteng didirikan pada 1999 oleh Lone Dröscher Nielsen dan Odom Kisar. Nielsen pernah menjadi relawan yang bertugas menyelamatkan bayi-bayi orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting selama 4 tahun. Jadi beliau memang sudah terjun dalam dunia primata sejak lama. 

Program ini berfokus untuk menyediakan perawatan dan rehabilitasi bagi orangutan yang terusir dari habitatnya maupun bayi orangutan yang kehilangan induknya akibat aktivitas manusia. Nyaru Menteng adalah rumah bagi ratusan orangutan yang pernah diselamatkan oleh BOSF. Yayasan BOS sudah menyelamatkan lebih dari 1200 orangutan di Kalimantan tengah dan sebanyak 450 orangutan sedang menerima perawatan di Nyaru Menteng.

Nyaru Menteng terletak di Jalan Cilik Riwut KM 28, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Nyaru Menteng menjadi pusat konservasi orangutan terbesar di dunia yang memiliki fasilitas lengkap berupa kandang-kandang besar, klinik, pulau pra-pelepasliaran, transportasi, hutan di sekitar lokasi konservasi; babysitter, dokter, relawan dan para ahli khususnya dalam bidang ekologi dan primata. 

Kegiatan penyelamatan dan translokasi orangutan yang di Nyaru Menteng sangat penting dilakukan bagi populasi orangutan di Kalimantan Tengah. Luas habitat orangutan mengalami penurunan secara drastis akibat aktivitas pembangunan manusia. Akhirnya orangutan terpaksa menjelajah lebih jauh dari habitatnya untuk mencari makan. Orangutan sering ditemukan masuk ke kebun warga atau perkebunan kelapa sawit. Mereka tak selalu disambut ramah oleh manusia, ada yang ditangkap dan diperlakukan tidak layak.

Hal ini membuat Yayasan BOS bekerjasama dengan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah untuk bekerja sama dalam penyelamatan orangutan di situasi seperti itu. Orangutan yang ditemukan dalam kondisi cedera atau sakit, mereka akan dirawat sampai pulih sebelum dipindahkan ke program reintroduksi lainnya. Sedangkan orangutan yang ditemukan dalam keadaan sehat segera dilepaskan ke habitat alaminya. Kegiatan ini disebut dengan translokasi, yaitu pengembalian orangutan ke habitat asli yang aman untuk membangun populasi baru dan meningkatkan konservasi spesies orangutan di alam liaR dalam jangka panjang.

Kegiatan lain yang juga penting dilakukan adalah rehabilitasi dan reintroduksi orangutan. Orangutan yang masuk ke Nyaru Menteng kebanyakan masih sangat kecil, sehingga membutuhkan ‘orangutan’ lain untuk membantunya berinteraksi dan belajar tentang cara-cara bertahan hidup di habitatnya. Orangutan akan menjalani rehabilitasi mencakup pembelajaran cara membuat sarang, mencari makan, dan mengenali predator alami mereka.

[4] Bayi orangutan (Photo credit: redapes.org)
[4] Bayi orangutan (Photo credit: redapes.org)
Proses rehabilitasi memakan waktu yang lama kurang lebih 6-7 tahun tergantung pada usia dan kemampuan setiap orangutan. Proses dimulai dari ‘Sekolah bayi’ yang dibentuk dalam beberapa tingkat di tempat yang lebih luas yaitu ‘Sekolah Hutan’. Di sekolah hutan inilah kegiatan belajar dilakukan setiap hari. Kemampuan setiap orangutan akan dicatat dan dinilai oleh para ahli. Ada kriteria tertentu yang harus dicapai setiap individu sebelum mereka dipindahkan ke tingkat selanjutnya di sekolah hutan ini. Tingkatan akhir adalah yang paling penting, yaitu pemindahan orangutan ke pulau pra-pelepasliaran yang berupa hutan singgah menuju tahap akhir rehabilitasi. Orangutan yang dianggap memenuhi kriteria dan mampu hidup sendiri di alam liar akan dipasangi chip untuk memantau adaptasi yang mereka lalui di habitatnya. 

2. Sekolah Hutan Samboja Lestari

[5] Samboja Lestari (Photo Credit: travel.detik.com)
[5] Samboja Lestari (Photo Credit: travel.detik.com)
Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Tengah di Samboja Lestari adalah program reintroduksi orangutan pertama yang didirikan oleh BOSF pada 1991. Pada dasarnya, program ini tidak jauh berbeda dengan program di Nyaru Menteng. Perbedaan yang paling terlihat adalah lokasi kegiatan program dan lokasi untuk translokasi orangutan yang sudah dianggap mampu hidup di alam liar.

Samboja Lestari terletak di Jalan Balikpapan-Handil KM 44, Kecamatan Margamulyo Samboja, Kalimantan Timur. Awalnya tempat ini dikenal sebagai Wanariset yang akhirnya direlokasi pada 2006 karena perlu perluasan ruang agar kegiatan konservasi berjalan dengan lancar, dan akhirnya berganti nama menjadi Samboja Lestari. Kegiatan utama di Samboja Lestari adalah proses penyelamatan orangutan, translokasi, perawatan dan pelayanan kesehatan, rehabilitasi, reintroduksi dan restorasi hutan. Samboja Lestari tidak hanya membantu rehabilitasi orangutan, tapi juga mengelola suaka beruang madu. Saat ini ada 50 beruang madu yang sedang menjalani perawatan di Samboja Lestari.

Kegiatan rehabilitasi dan reintroduksi di Samboja Lestari tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan di Nyaru Menteng. Masing-masing program punya hutan singgah yang terletak di lokasi berbeda. Fasilitas Samboja Lestari juga sangat lengkap untuk memenuhi kebutuhan orangutan. 

Orangutan jelas membutuhkan pertolongan kita. Seringkali mereka tidak merasa aman di hutannya sendiri. Aktivitas manusia membuat mereka terpaksa mundur dan pergi menjauh ke tempat yang aman padahal habitatnya juga mengalami kerusakan. Sherman (2020) mengungkapkan penyelamatan orangutan dilakukan karena faktor penangkapan orangutan secara ilegal dan pemindahan orangutan liar dari habitat dan situasi yang tidak aman. Jadi program seperti Nyaru Menteng dan Samboja Lestari sangat dibutuhkan demi kelestarian orangutan. 

Salah satu dukungan yang bisa kita lakukan adalah menjadi relawan dalam program rehabilitasi dan reintroduksi orangutan. Terdapat dua kegiatan yang akan dilakukan relawan di sekolah hutan ini, yaitu kegiatan terkait konservasi dan rekreasi. Aktivitas relawan yang dilakukan senin sampai jumat berupa mengumpulkan buah-buahan, dedaunan, dan bambu; merawat orangutan dan fasilitas yang menyertainya. Di akhir pekan, relawan akan diajak melihat-lihat hutan singgah di dekat konservasi. Relawan tidak diizinkan menyentuh orangutan karena ada beberapa penyakit yang ditularkan dari manusia ke orangutan dan juga sebaliknya. Mereka dibolehkan melihat orangutan dari jauh dalam pengawasan para pekerja konservasi. Wah, jadi relawan di sana pasti asik banget, ya!

 

Penulis: Mutiara Misksalma

 

Referensi Literatur

Sherman, Julie., dkk. Visi untuk masa depan Orangutan Borneo. Wildlife Impact. http://wildlifeimpact.org/wp-content/uploads/2020/06/Borneo-Orang-report_IND-2020-FINAL.pdf. Diakses pada 22 Januari, 2020.

Sherman, Julie., dkk. 2020. Memindahkan Kera: Hasil Konservasi dan kesejahteraan dari penyelamatan dan pelepasan orangutan Borneo di Kalimantan, Indonesia. Journal for Nature Conservation.

Oktavia, A. C., dkk. 2020. Experience and the impact of voluntourism in Samboja Lestari Orangutan Rehabilitation Center. IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 528 012036.

Referensi Gambar

[1] FABRIO FRIGENI (@ffrige). Unsplash. https://unsplash.com/photos/DfLemkYDMcs.

[2] Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). https://orangutan.or.id/.

[3] Gunawan, Gungun. Arboretum Nyaru Menteng. Pagguci. https://pagguci.com/arboretum-nyaru-menteng/.

[4] BOS Nyaru Menteng: The First Baby Orangutan Rescue of 2020. Orangutan Outreach. https://redapes.org/bos-nyaru-menteng-the-first-baby-orangutan-rescue-of-2020/.

[5] Farhan, Afif. (2016, April). Potret Si Bujang, Orangutan yang Suka Perempuan. Detik Travel. https://travel.detik.com/fototravel/d-3197977/potret-si-bujang-orangutan-yang-suka-perempuan/2.

 

Lindungihutan.com merupakan Platfrom Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya yang dapat merugikan pihak!

 Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!