Mengenal Sigung, Hewan yang Dijuluki Paling Bau

Gambar 1. Sigung Memiliki Bentuk Tubuh yang Memanjang dengan Corak Bulu Beragam yang Berwarna Hitam Putih
Gambar 1. Sigung Memiliki Bentuk Tubuh yang Memanjang dengan Corak Bulu Beragam yang Berwarna Hitam Putih

Jika mendengar kata sigung, apa yang terlintas di pikiran kalian? Bau yang tidak sedap? Atau bentuknya yang unik seperti kemoceng? Sigung dikenal sebagai hewan yang memiliki mekanisme perlindungan diri dengan menyemprotkan cairan berbau busuk ke musuhnya. Banyak komik atau animasi yang menggambarkan keunikan sigung tersebut, misalnya tokoh Pepé Le Pew dari Looney Tunes. Tapi, apakah sigung semudah itu untuk menyemprotkan cairan busuk ke hewan lain? Lalu bagaimana dengan manusia? Apakah manusia juga jadi target semprotan cairan busuk dari sigung? Kalau penasaran ingin mengetahui jawabannya, yuk baca artikel di bawah!

Ads

Karakteristik Hewan Sigung

Sigung adalah mamalia yang memiliki ukuran bervariasi dengan bulu berwarna hitam putih. Walaupun ukurannya beragam, rata-rata sigung memiliki ukuran sebesar kucing rumahan. Sigung memiliki bentuk badan yang memanjang dengan kaki yang pendek dan cakar yang panjang di kaki depan untuk menggali. Sigung dewasa memiliki panjang badan yang dapat mencapai 20 hingga 48 cm dengan ekor berukuran 13 hingga 38 cm. Berat badan yang dimiliki sigung juga bervariasi, mulai dari 1,4 kg hingga 3,6 kg pada spesies dewasa. Bahkan, sigung dengan jenis hog-nosed skunks dapat memiliki berat hingga 8 kg. Sigung juga memiliki beragam pola unik  di tubuhnya, lho! Pola tersebut bisa berbentuk garis-garis atau bintik-bintik, namun semua berwarna hitam dan putih sehingga mudah untuk diamati. Sayangnya, sigung memiliki masa hidup yang tergolong pendek dengan rata-rata hanya tiga tahun dan paling alam tujuh tahun.

Hewan bernama latin Mephitis mephitis ini termasuk dalam keluarga Mephitidae, yaitu keluarga mamalia yang mengeluarkan bau busuk. Bagaimana tidak? Hewan yang satu ini dikenal dapat mengeluarkan cairan kuning yang baunya sangat tidak sedap jika ia merasa terancam. Bau busuk dari cairan tersebut sangat efektif mengusir predator untuk menjauh. Bau busuk tersebut diperoleh akibat campuran dari sulfur, metil, dan butylthiol yang disimpan di kedua kelenjar khusus di sekitar anus sigung. Ketika penuh, cairan ini cukup untuk dikeluarkan lima hingga delapan kali jika sigung merasa terancam. Namun, sigung tidak terus-terusan mengeluarkan cairan ini. Biasanya, mereka akan menghemat pengeluaran cairan karena produksinya yang membutuhkan waktu seminggu di kelenjar anal.

Gambar 2. Sebelum Menyemprotkan Cairan Berbau Busuk, Sigung Memberikan Peringatan dengan Menaikkan Ekornya ke Hadapan Musuh
Gambar 2. Sebelum Menyemprotkan Cairan Berbau Busuk, Sigung Memberikan Peringatan dengan Menaikkan Ekornya ke Hadapan Musuh

Perilaku Sigung

Sigung termasuk hewan yang penyendiri dan aktif di malam hari, terutama ketika mencari makan. Sedangkan di pagi dan siang hari, sigung lebih memiliki untuk bersembunyi di tempat yang gelap seperti gua atau bangunan kosong. Sigung biasanya memanfaatkan liang yang telah digali oleh hewan lain sebagai sarangnya. Namun, ia juga bisa bersarang di tempat lain yang gelap, seperti di dalam kayu yang berongga. Sebagai hewan omnivora, sigung dapat memakan segala jenis makanan. Mulai dari tumbuhan, buah-buahan, daun, jamur hingga hewan kecil seperti serangga, cacing, burung, katak, atau tikus. Terkait reproduksi, sigung betina dapat melahirkan dua hingga sepuluh anak sigung dalam satu tahunnya di dalam sarang yang telah digalinya. Anak sigung akan hidup bersama ibunya hingga mereka dapat bereproduksi sendiri, yaitu di sekitar usia satu tahun.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sigung dapat mengeluarkan cairan berbau busuk ketika ia merasa terancam oleh predator. Sebelum melepaskan cairan tersebut, sigung akan membalikkan badan, menundukkan kepala, menaikkan ekor, dan menjejakkan cakar depannya ke tanah sebagai ancang-ancang. Reaksi tersebut digunakan sebagai peringatan sebelum sigung mengeluarkan cairan dari anusnya. Ketika predator tidak lekas menghindar, sigung kemudian membentuk tubuhnya menjadi huruf U dengan anus yang menghadap musuh untuk menyemprotkan cairannya. Semprotan dari cairan tersebut bahkan dapat mencapai jarak 3,6 meter jauhnya dan cukup tepat sasaran. Bahkan, cairan tersebut digadang-gadang dapat menyebabkan iritasi dan kebutaan sementara jika mengenai mata musuh. Tapi jangan khawatir ya! Sigung tidak mudah berperilaku agresif pada manusia. Ia akan mengeluarkan cairan jika dihadapkan oleh predatornya saja, seperti beruang atau rubah.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Keajaiban lain dari sigung adalah kekebalannya terhadap racun ular. Jadi, ketika sigung digigit oleh ular ia tidak akan mati karena racun tersebut tidak bereaksi dalam tubuh sigung. Selain baunya yang menyengat, ternyata sigung  memiliki peran untuk menjaga ekosistem lho! Hal ini disebabkan sigung adalah predator dari serangga atau hama yang mengancam perkebunan warga.

Gambar 3. Walaupun Sigung Termasuk Hewan Khas Amerika, Terdapat Beberapa Jenis Sigung Endemik Indonesia seperti Mydaus javenensis yang Bermoncong Panjang
Gambar 3. Walaupun Sigung Termasuk Hewan Khas Amerika, Terdapat Beberapa Jenis Sigung Endemik Indonesia seperti Mydaus javenensis yang Bermoncong Panjang

Sebaran Sigung

Sigung biasa hidup di hutan sekunder, atau hutan hasil regenerasi, yang tingginya sekitar 2000 mdpl. Habitat yang biasa dihuni oleh sigung biasanya hutan yang terbuka atau semak yang lebat. Sigung dikenal sebagai hewan asli Amerika dan banyak tersebar di Amerika Utara dan Selatan. Namun, ada pula sigung yang khas Indonesia seperti Mydaus javanensis yang tersebar di daerah Kalimantan dan Indonesia bagian barat. Di habitatnya, hewan sigung memiliki nama lain, yaitu teledu, telegu, atau sadu. Mydaus javanensis memiliki karakteristik dan perilaku yang hampir mirip dengan sigung pada umumnya, namun di spesies ini ia memiliki ciri khas berupa moncong yang panjang dan ekor serta kaki yang pendek. Kerabat dekat lain dari Mydaus javanensis adalah M.j. javenensis yang biasa ditemukan di pulau Jawa, Sumatra, dan Kepulauan Natuna. Sedangkan anak jenis lain yaitu M.j. lucifer memiliki habitat di Pulau Kalimantan, Sabah, dan Serawak.

 

Sekarang sudah lebih kenal kan dengan sigung? Hewan unik satu ini ternyata tidak seganas yang dibayangkan ya! Cairan busuknya hanya dikeluarkan jika merasa terancam oleh predator saja. Selain itu, sigung juga memiliki peran untuk menjaga keseimbangan ekosistem terutama di hutan. Tidak hanya sigung lho yang dapat menjaga hutan, kita juga bisa menjaga keberlangsungan kehidupan di hutan melalui penanaman pohon. Yuk, bersama-sama kita lindungi hutan untuk menjaga ekosistem yang sudah ada!

 

Penulis: Novia N Sabrina

Dikurasi oleh: Citra Isswandari Putri

 

Referensi literatur:

Krauskopf, R. (2002). Mydaus javanensis (Sunda stink badger). Animal Diversity Web. Tersedia dalam: https://animaldiversity.org/accounts/Mydaus_javanensis/. Diakses pada 23 Februari 2021

McLendon, R. (27 Januari, 2021). 9 striking skunk facts. Treehugger. Tersedia dalam: https://www.treehugger.com/skunks-facts-5092739. Diakses pada 23 Februari 2021

Skunk. (n.d.). OneKindPlanet. Tersedia dalam: https://onekindplanet.org/animal/skunk/. Diakses pada 23 Februari 2021

Striped skunk. (n.d.). National Geographic. Tersedia dalam: https://www.nationalgeographic.com/animals/mammals/facts/striped-skunk. Diakses pada 23 Februari 2021

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk melakukan kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di berbagai daerah. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. 

Yuk bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan!