Trenggiling, Satwa Liar yang Marak Diselundupkan

"<yoastmark

Trenggiling merupakan hewan mamalia yang tubuhnya seperti berlapis baja. Hewan dari ordo Pholidota ini memiliki tubuh bersisik kecoklatan yang tumpang tindih, kecuali pada bagian wajah dan bawah tubuh. Sisiknya merupakan keratin, protein yang sama dalam bahan struktural utama tanduk, cakar, kuku, dan bahkan rambut manusia. 

Ads

Menurut African Wildlife Foundation, sisik trenggiling membentuk 20 persen dari bobotnya. Sisik pada tubuh satwa liar ini membuatnya marak diburu dan diselundupkan ke berbagai negara. Akibatnya, keberadaan mereka pun terancam.

"<yoastmark

Dalam bahasa Melayu, trenggiling (Manidae) berarti “berguling”. Nama ini mengacu pada kebiasaan menggulingkan tubuhnya menjadi seperti bola ketika terancam. Dengan cara menggulungkan tubuhnya, mereka akan meluncur tegak ke arah musuh. Saat posisi bergulung, sisik keras pada tubuh mereka juga membuatnya sulit untuk dibunuh. Ditambah lagi, sisik tajam pada ekornya yang mampu digunakan untuk menyerang musuh. 

Sarana pertahanan diri lainnya dari hewan ini adalah melalui bau dari kelenjar di dekat anus dan ekornya yang dikeluarkan ketika terancam atau diserang. Mereka mengeluarkan cairan dengan bau busuk yang menyengat seperti hewan sigung dan armadillo.

Giant Anteater - © houstonzoo.org
Giant Anteater – © houstonzoo.org

Hewan ini memiliki kemiripan dengan anteater dan armadillo sehingga pernah dikelompokkan dalam ordo Edentata. Padahal, mereka berbeda dengan edentates, dari banyak karakteristik anatomi dasar. Trenggiling lebih dekat hubungannya dengan beruang, kucing, dan anjing. Mereka dapat ditemukan di dua benua, yaitu tersebar di seluruh Asia, termasuk Indonesia, dan Afrika. Satwa ini berjumlah delapan spesies, di antaranya sebagai berikut. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Asia:

  • Trenggiling Cina (Manis pentadactyla)
  • Trenggiling Sunda (Manis javanica)
  • Trenggiling India (Manis crassicaudata)
  • Trenggiling Filipina (Manis culionensis)

Afrika:

  • Trenggiling Tanah Temminck (Smutsia temminckii)
  • Trenggiling Perut Putih (Phataginus tricuspis)
  • Trenggiling Tanah Raksasa (Smutsia gigantea)
  • Trenggiling perut hitam (Phataginus tetradactyla)

Habitat dari hewan ini adalah di daerah hutan, padang rumput atau sabana. Mereka tinggal di liang bawah tanah, dan umumnya berdekatan dengan sumber air. Meski sebagian besar spesies mereka tinggal di tanah, tetapi beberapa juga memanjat pohon. 

 

Ciri dan Perilaku

Secara fisik, seluruh spesies trenggiling memiliki panjang tubuh sekitar 30 hingga 90 centimeter, dan bobot 1,5 hingga 33 kilogram. Bentuk kepalanya pendek dan kerucut, dengan mata kecil berpelindung tebal, serta moncong yang panjang seperti anteater (pemakan semut). Mereka tidak memiliki gigi, melainkan lidah panjang dan lengket yang bisa mencapai ukuran 40 centimeter. Jangka waktu hidup hewan ini di alam liar tidak diketahui. Namun, beberapa hewan di penangkaran diketahui bisa hidup hingga 20 tahun.

Kaki trenggiling pendek, dilengkapi dengan lima jari, dan memiliki cakar yang tajam. Bentuk kakinya ini membantu mereka untuk menggali lubang dan terowongan. Selain itu, ekornya juga dapat menggenggam. Jika menggenggam bersamaan dengan kaki belakang, mereka mampu menjadikan kaki dan ekornya sebagai penyangga saat di pohon.  

Hewan yang termasuk soliter dan pemalu ini sebagian besar nokturnal atau berkegiatan aktif di malam hari. Ketika terkejut, hewan ini akan menutupi kepalanya dengan kaki depannya, sedangkan sisik tajam di bagian ekornya digunakan sebagai perlawanan kepada pemangsa dan musuhnya. 

 

Makanan

"<yoastmark

Trenggiling merupakan hewan insektivora. Artinya, makanan mereka terdiri dari serangga seperti semut dan rayap. Mereka menemukan mangsa dengan penciumannya. Kaki depannya yang bercakar tajam digunakan untuk menggali dan membongkar sarang. Lidah panjangnya yang lengket digunakan untuk menangkap semut dan rayap yang berada dalam sarang, lalu menelannya utuh. Ketika makan, hewan ini juga mampu menutup lubang hidung dan telinganya agar semut tidak merangkak masuk. 

Karena hewan ini tidak memiliki gigi, mereka memiliki cara yang sama dengan burung, yaitu menelan batu kecil untuk mencerna dan menghancurkan makanannya di perut. Mereka mampu memakan ribuan serangga dalam sehari. Diperkirakan, saat dewasa dapat mengkonsumsi sekitar 70 juta serangga setiap tahun.

 

Masa Berkembang Biak Trenggiling

Trenggiling adalah hewan penyendiri, hanya pada masa berkembang biak mereka berpasangan. Mereka menghabiskan waktu bersama saat kawin dan melahirkan. Beberapa ayah trenggiling akan tinggal di sarang sampai satu keturunannya mandiri. Mereka mencapai kematangan seksual sekitar saat mereka berusia 2 tahun.

Kebanyakan spesies dari hewan ini hanya melahirkan satu anak pada sekali masa berkembang biak. Trenggiling betina melahirkan satu bayi hidup pada masa kehamilan sekitar lima bulan. Bayi trenggiling yang lahir masih memiliki sisik lunak yang akan mengeras setelah dua hari. Bayi hewan ini memiliki panjang sekitar 15 sentimeter dan berat sekitar 3 hingga 16 ons (0,08 kg hingga 0,45 kilogram) saat lahir. 

Bayi yang lahir diasuh induknya hingga 3 sampai 4 bulan setelah kelahiran. Karena hewan ini merupakan mamalia, anaknya akan meminum susu selama masa dirawat. Setelah umurnya satu bulan, anaknya juga mulai memakan serangga. sementara itu, Anak trenggiling akan dibawa serta ketika induknya sedang mencari makan. Bayi ini naik ke punggung induknya dan menunggangi pangkal ekornya selama masa mereka dirawat. Ketika ada bahaya mendekat, ibu dari bayi tersebut akan memeluk anaknya untuk melindunginya.

"Bayi Trenggiling dan induknya
bayi Trenggiling dan induknya

 

Nasib Trenggiling dari Maraknya Perburuan

Trenggiling telah menjadi mamalia yang paling banyak diperdagangkan di dunia. Sifatnya yang pemalu dan tidak berbahaya menjadikannya sasaran utama para pemburu dan penyelundup. Setiap tahun ada puluhan ribu trenggiling bernasib buruk, yang berhasil diburu dan dibunuh untuk diambil sisiknya maupun dagingnya. Menurut National Geographic, diperkirakan satu juta trenggiling diyakini telah diselundupkan dari tahun 2000-2013.

Sisik hewan ini marak digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok karena diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, seperti kesulitan menyusui, radang sendi, asma, hingga kanker. Sisiknya akan dikeringkan dan digiling menjadi bubuk, yang dapat diubah menjadi pil. Namun, tidak ada bukti secara medis bahwa sisik trenggiling adalah obat.

Tidak hanya sisiknya, Daging hewan ini dianggap sebagai makanan lezat di beberapa bagian dunia, khususnya Tiongkok dan Vietnam. Akibatnya, populasi spesies tersebut terancam punah selama awal abad ke-21. Seperti di Asia, populasi trenggiling diperkirakan telah menurun hingga 80 persen dalam 10 tahun terakhir.

Salah satu penyelundupan terbesar hewan ini pernah tertangkap saat di Singapura. Dilansir dari CNN, pihak berwenang di Singapura telah berhasil menyita salah satu pengiriman sisik trenggiling dari Nigeria, dalam perjalanan ke Vietnam, senilai sekitar 38,7 juta dolar (setara 543 miliar rupiah). Penyelundupan tersebut dikemas dalam 230 tas, bersama dengan hampir 180 kilogram gading gajah yang dipotong dan diukir. Di dalamnya ada lebih dari 14 ton sisik yang diperkirakan dari sekitar 72.000 ekor trenggiling.

Trenggiling

 

Selain marak diburu, trenggiling diduga sebagai hewan penyebar virus corona ke manusia. hal ini diperkuat oleh fakta bahwa selain sebagai obat, hewan ini juga diperdagangkan sebagai komoditas bahan makanan. itu artinya adanya penelitian yang menyatakan virus corona dapat ditularkan melalui cairan tubuh, feses, dan daging tertentu kemungkinan berhubungan dengan perdagangan mamalia ini. Meski Covid-19 diperkirakan berasal dari kelelawar, tapi untuk menular ke manusia dibutuhkan hewan perantara. Trenggiling menjadi salah satu dari sejumlah hewan yang dianggap sebagai perantara.

Riset baru menemukan bahwa urutan genetik dari beberapa strain virus Corona yang ditemukan di trenggiling antara 88,5 persen dan 92,4 persen mirip dengan yang ada pada virus corona baru. Penelitian baru ini membuat Ilmuwan dan aktivis pendukung mengatakan bahwa kondisi ini menjadi alasan lain untuk menindak perdagangan ilegal trenggiling.

Perdagangan ilegal memang benar-benar mengancam kehidupan satwa ini. Berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 2014, kedelapan spesies trenggiling semuanya terancam. Ada 4 spesies trenggiling yang diklasifikasikan sebagai rentan (vulnerable), 2 spesies dimasukkan ke terancam punah (endangered), dan 2 spesies lain masuk kategori sangat terancam punah (critically endangered). 

Trenggiling semakin menjadi korban kejahatan ilegal terhadap satwa liar karena daging dan sisiknya terutama di Asia maupun Afrika. Akibatnya, penyelamatan hewan ini dari kepunahan telah menjadi wacana global. Pada tahun 2016, Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Terancam Punah (CITES) melalui Conference of the Parties ke-17 memimpin 182 negara untuk menandatangani larangan perdagangan delapan spesies mamalia ini di seluruh dunia.

Akan tetapi, banyak ilmuwan mencatat bahwa perlindungan melalui perjanjian antar negara seperti itu tidak dapat dijadikan tujuan akhir. Untuk menyelamatkan trenggiling dari kepunahan, haruslah ada regulasi yang jelas tentang perlindungan hewan ini dan hukuman bagi para pelaku perdagangan ilegal. 

 

Penulis: Destri Ananda

Dikurasi Oleh: Daning Krisdianti

 

 

Referensi Literatur

Britannica.com. Pangolin. Diakses pada 31 Januari 2021 dari laman https://www.britannica.com/animal/pangolin 

Cnn.com. 9 April 2019. 14 tons of pangolin scales seized in Singapore in a single smuggling bust. Diakses pada 31 Januari 2021 dari laman https://edition.cnn.com/2019/04/08/asia/singapore-pangolin-smuggling-intl/index.html 

Livescience.com. 14 Desember 2016. Facts About Pangolins. Diakses pada 31 Januari 2021 dari laman https://www.livescience.com/57200-facts-about-pangolins.html 

Msn.com. 15 Juni 2020. Fakta tentang Trenggiling yang Belum Anda Tahu. Diakses pada 31 Januari 2021 dari laman. https://www.msn.com/id-id/berita/teknologidansains/fakta-tentang-trenggiling-yang-belum-anda-tahu/ss-BB15v5YE 

Nationalgeographic.com. Pangolins. Diakses pada 31 Januari 2021 dari laman https://www.nationalgeographic.com/animals/mammals/group/pangolins/ 

Nationalgeographic.com. 26 Maret 2020. Trafficked pangolins can carry coronaviruses closely related to pandemic strain. Diakses pada 31 Januari 2021 dari laman https://www.nationalgeographic.com/animals/2020/03/pangolins-coronavirus-covid-possibility/ 

 

Referensi Gambar 

https://www.bornfree.org.uk/articles/meet-pangolin-family 

https://africageographic.com/stories/fascinating-pangolin-facts/ 

https://www.safari.com/news/living-world/pangolert-using-citizen-science-to-save-pangolins/ 

https://chxout.com/scaly-anteaters-the-worlds-most-trafficked-mammal/ 

https://www.houstonzoo.org/explore/animals/anteater/ 

https://www.esquiremag.ph/politics/news/cute-pangolins-rescued-a00304-20200701 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk melakukan kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di daerahmu. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. 

 

Yuk bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan!