Menstrual Cup: Sahabat Lingkungan yang Berisiko Tinggi

Mesntrual Cup
Menstrual Cup. Unsplash – Good Soul Shop

Akhir-akhir ini, menstrual cup menjadi populer di kalangan masyarakat, terutama kalangan para pegiat lingkungan. Kendati belum banyak yang familiar, nyatanya produk ini digadang-gadang sebagai pengganti pembalut sekali pakai dan lebih ramah lingkungan.

Jika dibandingkan, menstrual cup dapat dipakai berulang kali, sementara pembalut sekali pakai hanya bisa dipakai satu kali setelah itu langsung dibuang. Sampah pembalut tersebut tentunya akan menumpuk di tempat pembuangan akhir dan dapat mencemarkan lingkungan.

Tapi, sebelum beralih, Sobat Alam harus mengetahui kelebihan dan kekurangan dari produk ini terlebih dahulu. Apalagi, ternyata ada risiko yang cukup serius dari penggunaan menstrual cup terhadap kesehatan. Untuk itu, yuk simak penjelasan berikut!

Apa Itu Menstrual Cup?

Ilustrasi Menstrual Cup
Ilustrasi Menstrual Cup. Freepik

Menstrual cup adalah sebuah alat yang ditempatkan ke vagina pada saat menstruasi. Tujuannya adalah mengumpulkan cairan menstruasi.

Menstrual cup telah diperkenalkan tahun 1937 oleh Leona Chalmers. Awalnya, produk ini terbuat dari latex. Pada perkembangannya, produk modern saat ini terbuat dari medical grade silicon. Berbeda dengan pembalut sekali pakai yang menyerap darah menstruasi, menstrual cup yang berbentuk cawan menampung darah tersebut dalam beberapa jam tanpa kebocoran.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Untuk menampung darah, produk ini harus dimasukkan ke dalam lubang vagina dengan cara dilipat. Setelah masuk ke dalam lubang vagina, lipatan tersebut dilepas sehingga membuat segel kedap udara untuk menahan darah mengalir keluar.

Menstrual Cup yang Ramah Lingkungan

Menstrual Cup dan Pembalut Sekali Pakai
Menstrual Cup dan Pembalut Sekali Pakai. Freepik

Menstrual cup dapat digunakan berulang-ulang hingga sepuluh tahun. Artinya, dalam sepuluh tahun, seorang perempuan hanya membutuhkan satu buah menstrual cup. Sementara untuk pemakaian pembalut sekali pakai, jika dihitung-hitung, setiap wanita bisa membuang masing-masing 300 lembar pembalut per tahunnya.

Bayangkan perbedaan jumlah sampah yang dihasilkan diantara keduanya. Sampah pembalut sekali pakai yang telah dibuang seiring berjalannya waktu akan mengeluarkan gas metana yang dapat berdampak pada percemaran lingkungan. Gas metana merupakan salah satu unsur yang menimbulkan efek rumah kaca dan dapat mengakibatkan peningkatan temperatur bumi.

Selain gas metana, bahan penyusun pembalut sekali pakai juga sulit terurai karena memiliki kandungan plastik di dalamnya, yang mana membutuhkan puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai. Pembalut sekali pakai juga mengandung pemutih yang digunakan pada bantalannya, yang mana dapat mencemari tanah dan air. Jika pembalut sekali pakai dimusnahkan dengan cara dibakar, akan menyebabkan zat kimia berbahaya yaitu dioksin lepas ke udara dan membahayakan kesehatan manusia.

Dioksin berbahaya karena bersifat karsinogenik dan dapat menyebabkan kanker. Dibandingkan pembalut sekali pakai, tentunya produk ini jauh lebih ramah lingkungan karena tidak akan menyebabkan penumpukan sampah dan jauh lebih hemat biaya karena tidak harus dibeli setiap bulan. Selain itu, menstrual cup juga tidak mengganggu keseimbangan pH dan bakteri di vagina, karena hanya menampung darah, sehingga menurunkan risiko terjadinya infeksi bakteri .

Bahaya Menstrual Cup

Menstrual Cup
Menstrual Cup. Pexels – Anna Shvets

Di samping berbagai kelebihan yang dimilikinya, ternyata produk ini juga memiliki bahaya dan risiko tersendiri dalam penggunaannya. Menurut laporan dalam Canadian Journal of Infectious Diseases and Medical Microbiology yang berjudul A Confirmed Case of Toxic Shock Syndrome Associated with the Use of a Menstrual Cup, penggunaan produk ini ternyata dapat meningkatkan risiko terjadinya Toxic Shock Syndrome atau keracunan darah pada wanita.

Toxic Shock Syndrome ini disebabkan oleh berkembangnya bakteri Staphylococcus aureus (S. aureus) dalam cairan menstruasi yang tertampung dalam menstrual cup. Toxic Shock Syndrome dapat terjadi apabila proses pemasangan produk ini kurang tepat, sehingga dapat secara tidak sengaja melukai dinding vagina. Luka ini bisa
menjadi jalan masuk bagi bakteri ke peredaran darah. Disebabkan adanya risiko tersebut, darah menstruasi sebaiknya dibiarkan mengalir daripada ditampung dalam wadah untuk menghindari infeksi. Oleh karena itu, penggunaan produk ini harus diiringi dengan menjaga kebersihan yang baik dan benar, serta edukasi yang memadai terkait cara pemakaiannya.

Alternatif Wadah Menstruasi Ramah Lingkungan

Alternatif Wadah Menstruasi Ramah Lingkungan
Alternatif Wadah Menstruasi Ramah Lingkungan. Pexels – Vanessa Ramirez

Dikarenakan risikonya yang cukup tinggi dan kurangnya pengetahuan terkait penggunaanya, banyak orang yang tetap memakai pembalut sekali pakai dan enggan beralih ke produk ini meskipun mereka sadar bahwa pembalut sekali pakai kurang baik untuk lingkungan. Apakah Sobat Alam adalah salah satu diantara mereka? Jika iya, Sobat Alam tidak perlu khawatir. Dewasa ini, sudah banyak alternatif lain dari produk ini sebagai wadah menstruasi yang ramah lingkungan, yaitu pembalut kain. Pembalut kain terbuat dari material kain yang memiliki daya serap tinggi dan dapat dicuci serta digunakan kembali hingga berulang kali.

Penggunaan pembalut kain mengingatkan kita pada wanita-wanita di masa lampau yang juga memakai kain sebagai alat untuk menyerap darah menstruasi mereka. Bedanya, pembalut kain modern lebih ringan dan memiliki daya serap lebih besar. Selain ramah lingkungan karena mengurangi penumpukan sampah, pembalut kain juga bebas dari bahan kimia berbahaya. Meski begitu, kelemahan dari pembalut kain ini adalah perawatannya yang cukup rumit karena proses pencucian pembalut kain memakan waktu cukup lama hingga darah menstruasi benar-benar hilang dari kain pembalut. Kita juga tidak bisa memakai sembarang sabun. Disarankan sabun yang dipakai adalah sabun bayi batangan yang lebih aman untuk area intim.

Pembalut kain juga memiliki masa kadaluarsa yang lebih cepat daripada menstrual cup, yaitu hanya dua tahun pemakaian, karena semakin sering dicuci, lapisan penyerap di dalam pembalut kain akan semakin menipis. Akan tetapi, risiko dari penggunaan pembalut kain tentunya jauh lebih kecil dibandingkan produk ini dan masyarakat awam pun lebih familiar karena bentuknya yang mirip dengan pembalut sekali pakai biasa sehingga mereka
tidak akan takut untuk beralih demi kebaikan lingkungan.

Penulis : Almira Afini

Referensi
Mitchell, M. A., Bisch, S., Arntfield, S., & Hosseini-Moghaddam, S. (2015). A Confirmed Case of Toxic Shock Syndrome Associated with the Use of a Menstrual Cup.

Canadian Journal of Infectious Diseases and Medical Microbiology Vol. 26 No. 4, 218-220. Online: http://downloads.hindawi.com/journals/cjidmm/2015/560959.pdf

 

LindungiHutan merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Dalam rangka mendukung kegiatan penghijauan teman-teman di Indonesia, yuk dukung Kampanye Alam daerahmu dengan berkunjung pada situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam.

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!

Enable Notifications    Ok No thanks