Meski Dikenal Mistis, Pohon Kepuh Ternyata Punya Potensi Biofuel lho!

 Gambar 1 Pohon Kepuh (Sterculia Foetida)
Gambar 1 Pohon Kepuh (Sterculia Foetida)

Bagi kalian yang pernah mendengar nama pohon kepuh (Sterculia foetida), tentu tak asing bagaimana dikenal dengan hal-hal mistis yang mengiringinya. Memang, di beberapa wilayah pohon ini banyak dimitoskan dihuni oleh makhluk gaib seperti genderuwo. Hal ini dapat dijelaskan secara logis karena kebanyakan pohon ini ditemukan hidup di tempat-tempat yang terkesan “angker” seperti pemakaman, punden, ataupun tempat lain yang jarang dikunjungi manusia. Apalagi pohon kepuh juga memiliki perawakan yang cukup seram dengan ukuran batang dan cabang-cabang yang besar dan tinggi. Namun terlepas dari julukannya sebagai  fruit of mystis ini memiliki kelebihannya sendiri. Berdasarkan penelitian, didapatkan hasil bahwa pohon kepuh mengandung biofuel sebesar 70%. Kandungan minyak yang tinggi terutama asam lemak sterkulat (C19H34O2) inilah yang menjadikan kepuh sangat potensial sebagai tanaman penghasil biofuel.

Ads

Karakteristik 

Kepuh memiliki nama ilmiah Sterculia foetida, Sterculius atau Sterquilinus, merupakan nama dewa pupuk menurut mitologi Romawi. Sedangkan nama spesiesnya, foetida, yang memiliki arti berbau keras atau busuk. Nama ilmiah itu merujuk pada bau tidak enak yang dikeluarkan oleh pohon ini terutama dari bunganya. Selain itu, pohon ini juga mendapat julukan lain sebagai pohon “genderuwo” karena kebanyakan tumbuhan ini sering ditemukan di tempat-tempat yang keramat atau daerah pemakaman (Yuniastuti, 2008).

Gambar 2 Daun Pohon Kepuh
Gambar 2 Daun Kepuh

Kepuh merupakan kerabat jauh dari pohon kapuk randu. Pohonnya tumbuh hingga mencapai 40 meter dengan diameter batang bagian bawah dapat mencapai 3 meter. Sama dengan kapuk randu, cabang-cabang tumbuh mendatar dan berkumpul pada ketinggian yang kurang lebih sama, bertingkat-tingkat. Daun baru pada pohon ini umumnya tumbuh di bulan Maret-April setelah proses berbunga. Daun pohon kepuh merupakan daun majemuk berbentuk menjari dengan 7-9 anak daun (foliolum) yang tumbuh berumpun pada ujung dahan. Panjang helaian daun (lamina) pohon kepuh antara 10-17 cm dengan permukaan daun halus. Sedangkan tangkai daun (petiolus) kepuh relatif pendek dengan panjang sekitar  10–30 cm.

Gambar 3 Bunga Pohon Kepuh
Gambar 3 Bunga Pohon Kepuh

Proses pembungaan dan pembuahan pohon kepuh terjadi setiap tahun dengan musim berbuah terjadi pada bulan Agustus-September. Bunga tumbuh pada penghujung dahan bercabang yang membentuk sebuah rumpun. Diameter bunga pohon ini yang terkenal dengan baunya yang tidak sedap ini berkisar antara 2-2,5 cm. Tipe mahkota bunga adalah bintang/beraturan dengan warna merah darah atau hijau pada ujungnya dengan ukuran 1,5-2,1 cm. Jumlah tajuk bunga pohon kepuh sebanyak 4–6 buah dengan ukuran tangkai bunga 0,2 – 0,6 cm dengan panjang putik 0,1-1,7 cm.

Gambar 4 Buah Kepuh
Gambar 4 Buah Kepuh

Sedangkan buah kepuh besar dan sedikit lonjong yang berukuran 7,6–9 x 5 cm dengan lebar sekitar 5 cm. Tingkat kematangan buah pohon kepuh umumnya memerlukan waktu sekitar 4-6 bulan. Kulit buahnya tebal dan keras dengan warna merah kehitaman dengan jumlah 10-17 biji pada tiap buahnya. Bijinya secara umum mengandung beberapa jenis asam lemak sebesar 53-58% dari berat total biji.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Sebaran 

Pohon kepuh selain banyak ditemukan di pemakaman di Jawa dan Bali (sehingga kesan angker sangat melekat pada pohon ini), juga kerap didapati di hutan-hutan pantai. Daerah penyebaran kepuh adalah daerah tropis dan subtropis (pada 30°LU-35°LS) dengan ketinggian sekitar 500 mdpl. Pohon kepuh relatif dapat tumbuh pada daerah kering sehingga banyak ditemui di pulau-pulau di Lautan Pasifik dan padang pasir. Daerah dengan karakteristik seperti ini adalah Kalimantan dan Papua yang mana pohon kepuh relatif mudah ditemui, sedangkan meskipun di wilayah Australia dan kepulauan Pasifik Barat pohon ini masih dapat hidup, jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan pada wilayah lain (Heyne, 1987).

Menurut Orwa et al., (2009) pohon kepuh juga tersebar di seluruh Nusantara meliputi: Sumatera, Bali, Jawa, Lombok, Kalimantan, Sumbawa, Flores, Timor, Rote, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya. Kepuh juga tersebar di beberapa negara seperti: Malaysia, Srilanka, Filipina, Afrika Timur, India, Thailand, Australia Utara, Kepulauan Hawai, Bangladesh, Djibouti, Ethiopia, Kenya, Myanmar, Oman, Pakistan, Somalia, Tanzania, Uganda, Yaman, Republik Zanzibar, Ghana, dan Puerto Rico.

Pada tiap wilayah di Indonesia sendiri, umumnya pohon kepuh ini memiliki nama panggilannya tersendiri. Antara lain halumpang (Batak); kĕpoh, kolèangka (Sunda); kepuh, kepoh, jangkang, pranajiwa (Jawa); jhangkang, kekompang (Madura); kepuh, kepah, kekepahan (Bali); kepoh, kelompang, kapaka, wuka, wukak (NTT); bungoro, kalumpang (Makassar); alumpang, alupang, kalupa (Bugis); kailupa furu, kailupa buru (Maluku Utara). Serta ada pula yang menyebutnya sebagai kabu-kabu, kalupat, lepong, atau kelumpang jari.

Kegunaan Pohon Kepuh

Masyarakat di Jawa dan Bali sering mengaitkan keberadaan pohon kepuh dengan hal-hal mistis. Hal ini mungkin dikarenakan pohon ini banyak ditemukan di tempat-tempat yang terkesan “angker” seperti pemakaman, punden, ataupun tempat-tempat yang jarang dikunjungi manusia. Lantaran tempat hidupnya dan ukuran batang serta bentuk buahnya, membuat pohon kepuh sering dianggap sebagai pohon genderuwo. Namun, tentunya di balik mitos yang menyebutnya sebagai fruit of mystis ini, pohon kepuh juga ternyata memiliki berbagai manfaat.

Kayu pohon kepuh bersifat ringan dan kasar, sehingga meskipun mudah didapatkan dalam ukuran besar, kayu pohon kepuh jarang dimanfaatkan sebagai bahan bangunan karena mudah rusak. Namun begitu, pohon kepuh yang tua dapat menghasilkan kayu yang cukup baik untuk membuat perahu dan peti mati. Serta kulit kayunya juga dapat diseduh untuk dimanfaatkan sebagai obat penggugur kandungan (abortivum).

Gambar 5 Biji Buah Kepuh
Gambar 5 Biji Buah Kepuh

Selain kulit kayunya, bagian lain dari pohon kepuh yang biasanya dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan tradisional adalah daun dan buah kepuh. Daun-daun pohon kepuh umumnya digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit seperti demam, mencuci rambut, dan sebagai tapal untuk meringankan sakit pada kaki dan tangan yang terkilir ataupun patah tulang. Kulit buahnya yang tebal dapat dibakar hingga menjadi abu dan air rendaman dari abu ini digunakan sebagai obat penyakit kencing nanah dan juga obat pengusir rayap.

Berdasarkan hasil analisis oleh Heyne (1987), inti biji pohon kepuh mengandung 40% minyak. Sehingga biji kepuh juga sering dikempa untuk diambil minyaknya yang berguna sebagai minyak lampu, minyak goreng, atau sebagai bahan untuk membatik. Meskipun biji kepuh juga mengandung senyawa racun, biji ini juga dimanfaatkan sebagai obat atau bahan jamu.

Potensi Biofuel dari Pohon Kepuh

Berdasarkan hasil dari beberapa studi menunjukkan bahwa kepuh juga potensial sebagai penghasil bahan bakar nabati (biofuel). Tentunya keberadaan potensi kepuh sebagai biofuel turut membuka peluang untuk memanfaatkan aspek ekologis dalam upaya pengurangan penggunaan bahan bakar fosil yang cenderung tidak ramah lingkungan. Menurut studi yang dilakukan oleh Bawa, I G. A. (2010) serta Purwati (2010), menunjukkan bahwa biji kepuh terdiri atas beberapa jenis asam lemak yang dapat digunakan sebagai ramuan berbagai produk industri seperti kosmetik, sabun, sampo, pelembut kain, cat, plastik, serta yang potensial adalah sebagai bahan bakar nabati.

Berdasarkan penelitian menggunakan metode pemurnian dengan eter rendemen, didapatkan potensi kandungan minyak yang dapat dimanfaatkan untuk biofuel pada biji kepuh sebesar 70%. Kandungan minyak yang tinggi terutama asam lemak sterkulat (C19H34O2) inilah yang menjadikan kepuh sangat potensial sebagai tanaman penghasil biofuel. Namun perlu menjadi catatan, penggunaan kepuh sebagai biofuel ini masih dalam skala laboratorium, sehingga masih belum digunakan secara komersial karena belum efektif secara ekonomi.

 Gambar 6 Proses Ekstraksi Minyak Kepuh Menjadi Biofuel
Gambar 6 Proses Ekstraksi Minyak Kepuh Menjadi Biofuel

Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa kualitas kepuh di wilayah Jawa Barat lebih baik dibandingkan di daerah lain. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun kandungan minyak kepuh di NTT lebih tinggi sebesar 44,36 persen dibandingkan dari daerah Jawa Barat sebesar 42,6 persen. Namun, kualitas minyak kepuh di wilayah Jawa Barat lebih baik daripada di NTT yang diperlihatkan oleh bilangan asam yang lebih rendah.

Bilangan asam ini menjadi salah satu indikator kualitas minyak yang dihasilkan, semakin rendah bilangan asam yang dihasilkan, maka kualitas minyak tersebut semakin baik. Dari hasil pengujian, bilangan asam kepuh Majalengka (2,80 mg KOH/g minyak) lebih rendah dibanding dengan bilangan asam minyak kepuh dari NTT (313 mg KOH/g minyak). Dengan kualitas minyak biji kepuh di Jawa Barat yang cukup baik ini menunjukkan bagaimana Jawa Barat memiliki prospek yang menjanjikan untuk memanfaatkan minyak kepuh sebagai sumber energi alternatif.

Sehingga dari apa yang kita pelajari dari keberadaan pohon kepuh ini, janganlah terus kita memandang keberadaannya dengan hal-hal yang berbau mistis. Namun, perlu kita coba pandang pula dari aspek konservasi tanaman ini yang perlu dikembangkan karena keberadaannya mulai langka bahkan kebanyakan tersisa di pemakaman-pemakaman. Karena selain kemampuannya menyimpan air sebagai tanaman sendang (penjaga mata air), bagian-bagian dari pohon kepuh ini juga menyimpan berbagai potensi sumber daya yang dapat kita manfaatkan baik sebagai obat alternatif maupun sumber bahan bakar nabati.

 

Penulis: Farijzal Arrafisena

 

Referensi Literatur:

Bawa, I. G. G. 2010. Analisis Senyawa Antiradikal Bebas Pada Minyak Daging Biji Kepuh (Sterculia foetida L). Jurnal Kimia. Vol. 4 (1): 35-42. 36.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid 3: 1353-1355. Terjemahan. Yayasan Sarana WanaJaya, Jakarta.

ICRAF Tree Database: Sterculia foetida L.

http://apps.worldagroforestry.org/sea/Products/AFDbases/af/asp/SpeciesInfo.asp?SpID=98. Diakses pada 3 April 2020.

Lininne, C. Von. 1753. Caroli Linnaei, Species plantarum: exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, nominibus trivialibus, synonymis selectis, locis natalibus, secundum systema sexuale digestas. Tomus II: 1008. Holmiae: Impensis Laurentii Salvii.

Njurumana, Gerson ND. 2011. Ekologi dan Pemanfaatan Nitas (Sterculia foetida L.) di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Vol. 8 (1): 35–44. Doi:10.20886/jphka.2011.8.1.35-44. ISSN 0216-0439.

Puslitbang Perkebunan. Pusat Keunggulan Inovasi Teknologi Perkebunan Berkelas Dunia. http://perkebunan.litbang.pertanian.go.id/ Diakses pada 3 April 2020.

Sudradjat, Raden; S, Yogie; Hendra, Djeni; Setiawan, Dadang. 2010. Pembuatan Biodiesel Biji Kepuh dengan Proses Transesterifikasi. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 28 (2): 145–155. Doi:10.20886/jphh.2010.28.2.145-155. ISSN 0216-4329.

Yuniastuti, E. 2008. Kepuh sebagai Biofuel (Bio-Oil). Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

 

Referensi Gambar:

  1. https://kalihngopi.home.blog/2019/11/09/pohon-kepuh-rumah-genderuwo-penuh-khasiat-yang-mulai-langka/
  2. https://rubi77botani.wordpress.com/2017/11/14/deskripsi-dan-klasifikasi-tanaman-kepuh/
  3. https://alampriangan.com/pohon-kepuh-genderuwo-berkhasiat-obat/
  4. Idem
  5. https://www.forda-mof.org/index.php/berita/post/1277 
  6. https://link.springer.com/article/10.1007/s11356-019-06214-7 

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di berbagai daerah. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. 

Yuk, bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!