Konflik Satwa dan Manusia: Mitigasi Kepunahan Satwa

Indonesia merupakan negara dengan luasan hutan terbesar kesembilan di dunia. Hutan hujan tropis Indonesia bahkan menduduki peringkat ketiga, setelah Brazil dan Republik Demokratik Kongo. Luasnya hutan yang dimiliki oleh Indonesia, menjadikan Indonesia menjadi negara yang kaya akan sumber daya alam. Beragam jenis flora dan fauna yang terdapat di dalam hutan menjadi aset berharga yang tak ternilai harganya. Kekayaan alam Indonesia rupanya hanya dipandang sebagai kekayaan yang bernilai ekonomis. Pemanfaatan yang berlebihan, tanpa dibarengi dengan upaya konservasi, menjadikan alam Indonesia terus tergerus dan rusak. Kebutuhan akan lahan untuk pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat yang semakin meningkat, membuat hutan juga banyak dikonversi menjadi lahan dengan fungsi lain. Dalam sekejap, hutan yang hijau dan rimbun berubah menjadi area perkebunan, pertambangan, perumahan, jalan untuk mendukung mobilisasi masyarakat, hingga konflik satwa.

Ads
Gambar 1. Orangutan, Satwa yang Mulai Terancam di Kalimantan
Gambar 1. Orangutan, Satwa yang Mulai Terancam di Kalimantan

Rusaknya hutan jelas menimbulkan masalah-masalah ekologis. Hilangnya rumah bagi satwa menjadi satu dari sekian banyak masalah yang timbul. Satwa yang kehilangan rumahnya tidak memiliki sumber daya untuk bertahan hidup. Akhirnya, mereka keluar dari wilayah mereka, masuk ke pemukiman warga, dan menjarah apa saja yang ada di sana. Banyak hasil panen yang hilang, hewan ternak menjadi mati, dan tak jarang menimbulkan adanya korban jiwa.

Konflik antara satwa dan manusia bukan merupakan masalah yang baru. Sejak hutan pertama kali dijarah secara besar-besaran, konflik satwa dengan manusia sudah mulai terjadi dan terus terjadi hingga hari ini. Konflik tidak hanya terjadi di satu lokasi dan pada satu jenis satwa saja, tetapi di berbagai daerah dengan berbagai jenis satwa. Baik masyarakat, maupun satwa, sama-sama menjadi korban dari adanya konflik tersebut.

Rentetan Konflik Satwa dan Manusia di Indonesia

Aceh menjadi salah satu daerah yang masuk ke dalam daftar daerah dengan jumlah konflik antara satwa dengan manusia yang tinggi di Indonesia. Konflik yang terjadi di Aceh bahkan terjadi pada hewan-hewan yang terancam punah, seperti gajah, harimau, dan orangutan. Jumlah konflik yang terjadi bahkan mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir.

Gambar 2. Gajah Sumatera, Satwa yang Banyak Mengalami Kematian di Aceh
Gambar 2. Gajah Sumatera, Satwa yang Banyak Mengalami Kematian di Aceh

Berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh USAID Indonesia, terdapat 281 kasus konflik manusia dengan harimau sejak tahun 2008 hingga 2019, serta 198 kasus konflik manusia dengan gajah dan 60 kasus konflik manusia dengan orangutan yang terjadi dari tahun 2014 hingga 2019. Akibat dari konflik tersebut, masyarakat banyak yang kehilangan komoditas sehari-hari mereka. Mulai dari hasil pertanian, hingga hewan ternak, raib dimakan satwa yang menginvasi pemukiman warga. Dari konflik tersebut, tak jarang pula timbul korban jiwa, baik dari pihak masyarakat, maupun satwa.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Konflik antara satwa dengan manusia juga terjadi di Kalimantan Selatan. Bekantan, yang merupakan satwa endemik dari Kalimantan, menjadi jenis satwa yang paling banyak berkonflik dengan manusia di Kalimantan Selatan. Hingga bulan Juni 2020, tercatat sudah ada 6 kasus konflik bekantan dengan manusia yang tersebar mulai dari Balangan, Sengayam, Banjarmasin, hingga Tanah Laut. Konversi hutan menjadi areal perumahan, perkebunan, dan pertambangan, menjadi alasan utama timbulnya konflik manusia dengan bekantan. Hal tersebut diperparah dengan banyaknya habitat bekantan yang terdapat di luar kawasan konservasi.

Gambar 3. Bekantan, Satwa Endemik yang Mulai Terancam
Gambar 3. Bekantan, Satwa Endemik yang Mulai Terancam

Konflik antara manusia dengan orangutan mungkin menjadi jenis konflik yang paling banyak terjadi di Pulau Kalimantan. Beberapa kasus bahkan sempat menjadi viral dan banyak diperbincangkan oleh media. Dua di antaranya adalah kasus orangutan tanpa kepala dan terbunuhnya orang utan akibat 130 peluru. Kasus orangutan tanpa kepala terjadi di Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah pada bulan Januari 2018. Orangutan ditemukan oleh warga di sungai dengan kondisi tanpa kepala, tangan hampir putus, dan tanpa bulu di sekujur tubuhnya. Orangutan tersebut langsung dikubur oleh BKSDA Kalimantan Tengah tanpa adanya proses nekropsi terlebih dahulu.

Selain orangutan tanpa kepala, terdapat satu kasus lain yang juga sempat menjadi perbincangan di tahun 2018. Kasus tersebut terjadi di Desa Teluk Pandan, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Orangutan yang diperkirakan berumur 5-7 tahun tersebut ditemukan di kawasan Taman Nasional Kutai dalam kondisi tidak berdaya. Setelah sempat mendapatkan penanganan medis, orangutan berkelamin jantan tersebut akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Berdasarkan hasil rontgen dan nekropsi, ditemukan 130 peluru yang bersarang di sekujur tubuh orangutan tersebut. Diperkirakan, orangutan tersebut ditembak dengan senapan angin ketika hendak masuk ke perkebunan di sekitar tempat orangutan ditemukan.

Upaya Mitigasi Konflik

Konflik satwa dengan manusia tidak bisa terus dibiarkan saja. Upaya mitigasi diperlukan supaya jumlah kasus tidak terus bertambah. Konflik satwa dengan manusia merupakan kasus yang kompleks. Sehingga, diperlukan keterlibatan dari berbagai pihak untuk bisa menyelesaikannya.

Pada kasus konflik satwa dengan manusia di Aceh, upaya mitigasi melibatkan pihak pemerintah melalui BKSDA Aceh yang bekerja sama dengan Taman Nasional Gunung Leuser, dibantu dengan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat. Dari hasil kerja sama tersebut, terciptalah beberapa upaya untuk mencegah terjadinya konflik yang lebih banyak. Sebagai contoh adalah pembentukan Conservation Rescue Unit (CRU) untuk mitigasi konflik gajah, dan Sumatran Wide Tiger Survey (SWTS) untuk mitigasi konflik harimau. Pihak masyarakat, yang bersentuhan langsung dengan terjadinya konflik, juga diberdayakan melalui pembentukan Masyarakat Desa Mandiri (MDM). Melalui MDM, masyarakat diharapkan memiliki kemampuan mandiri untuk mengatasi terjadinya konflik, supaya tidak menimbulkan korban, baik dari pihak masyarakat, maupun satwa liar.

Selain memerlukan keterlibatan dari berbagai pihak, mitigasi konflik satwa dengan manusia juga perlu dilakukan melalui beberapa cara pendekatan. Baik upaya preventif, maupun kuratif, diperlukan supaya penanganan konflik bisa dilakukan secara optimal. Sebagai contoh adalah yang dilakukan oleh BKSDA Kalimantan Selatan di dalam mengatasi konflik bekantan dengan manusia. Supaya konflik tidak terjadi, BKSDA Kalsel melakukan upaya preventif berupa pengintensifan perlindungan habitat bekantan di dalam kawasan konservasi, pengalokasian kawasan di luar kawasan konservasi sebagai kawasan ekosistem esensial, hingga kampanye lingkungan melalui berbagai media. Sedangkan, upaya kuratif yang dilakukan di antaranya adalah penegakan hukum dan penyelamatan bekantan yang terlibat di dalam konflik.  

 Upaya mitigasi konflik satwa dengan manusia tidak hanya dilakukan di masing-masing daerah, tetapi juga dilakukan oleh pemerintah pusat. Melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pemerintah memfasilitasi penanganan konflik dengan membentuk call center yang tersambung ke seluruh BKSDA dan Balai Besar Taman Nasional yang ada di Indonesia. Kebijakan ini dibuat sebagai respon dari maraknya konflik yang terjadi antara manusia dengan satwa liar yang terjadi di berbagai daerah.

Upaya Mitigasi, Kunci Kelestarian Satwa

Upaya preventif, kuratif, dan bentuk upaya mitigasi di atas sebenarnya hanya sedikit dari cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya konflik lain. Tindakan terpenting dan paling utama yang harus dilakukan adalah perbaikan habitat dari satwa-satwa itu sendiri. Hutan yang mulai rusak, merupakan penyebab utama dari invasi yang dilakukan oleh satwa liar. Sehingga, diperlukan penanganan, supaya masalah-masalah turunan yang mungkin terjadi, dapat lebih mudah dihindari.

Jika hutan terus dirusak, maka akan lebih banyak konflik-konflik yang akan terjadi. Lebih banyak konflik, lebih banyak pula korban yang akan ditimbulkan. Jika hal tersebut terus dibiarkan, satwa akan terus bergerak menuju kepunahan. Mereka tidak punya daya, mereka akan selalu kalah. Salah satu cara yang bisa membuat mereka tetap lestari adalah perbuatan kita sendiri. Perbaikan hutan, upaya mitigasi, sangat diperlukan untuk menjaga satwa agar bisa terus lestari.

 

 Penulis: Tatag Suryo

Dikurasi oleh: Citra Isswandari putri

 

Referensi:

https://mediaindonesia.com/read/detail/285485-dalam-10-tahun-konflik-manusia-dan-satwa-liar-meningkat-di-aceh

https://kanalkalimantan.com/konflik-satwa-liar-dan-manusia-bekantan-masih-menjadi-yang-utama/#:~:text=Konflik%20melibatkan%20perebutan%20sumberdaya%20yang,%2C%20perkebunan%2C%20dan%20industri%20kehutanan.

https://www.mongabay.co.id/2018/01/16/menyedihkan-satu-individu-orangutan-ditemukan-mengambang-tanpa-kepala/

https://www.mongabay.co.id/2018/02/13/mengenaskan-orangutan-ini-mati-ditembus-130-peluru/

https://sains.kompas.com/read/2020/01/27/180200523/pentingnya-upaya-mitigasi-konflik-manusia-dan-satwa-di-indonesia?page=all 

https://www.mongabay.co.id/2018/02/13/mengenaskan-orangutan-ini-mati-ditembus-130-peluru/

 

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!