Nasib Hutan Perempuan di Papua, Tercemar Ulah Tangan Manusia

Mengenal Hutan Perempuan di Teluk Youtefa, Papua

"Gambar

Papua selalu bisa memberi takjub akan keindahan alamnya yang terbentang luas. Keindahan alamnya yang masih asri terus terpancar sampai saat ini. Hutan perempuan salah satunya. Hutan ini terletak di Teluk Youtefa, Papua, yang berada di kawasan kota Jayapura, Ibukota Papua. Sebutan hutan perempuan diberikan perempuan-perempuan di kawasan tersebut karena terdapat hutan mangrove/bakau sebagai tempat mencari kerang atau bia bagi para perempuan untuk dijual atau dikonsumsi sehari-hari. Sedangkan untuk kaum laki-laki akan mencari ikan dan tangkapan lainnya di laut.

Ads

Sesuai namanya, hutan ini khusus dimasuki oleh perempuan saja, karena saat perempuan-perempuan sedang mencari kerang/bia, mereka akan menanggalkan pakaiannya, oleh sebab itu laki-laki dilarang memasuki kawasan hutan perempuan saat perempuan sedang melakukan aktivitasnya mencari kerang. Biasanya, laki-laki juga diperbolehkan masuk ketika para perempuan sedang tidak beraktivitas, seperti saat air sedang naik/pasang. Penandanya jika air di sekitar hutan tampak sedikit keruh akibat lumpur, maka aktivitas mencari kerang sedang dilakukan para perempuan.

"Gambar

Kondisi kawasan hutan mangrove yang berlumpur akan membuat gatal kulit badan karena lumpur yang menempel di baju saat para perempuan sedang mencari kerang. Sehingga sudah menjadi tradisi turun temurun para perempuan akan melepas pakaiannya ketika beraktivitas di kawasan hutan mangrove untuk mendapatkan hasil laut. Karena hutan ini merupakan hutan khusus perempuan, hutan ini juga sering  dijadikan tempat bercerita sesama perempuan.

Semua perempuan bisa masuk untuk mencari kerang, tidak ada batasan wilayah. Perempuan-perempuan dari kampung pertama, Kampung Tobati dan para perempuan dari kampung kedua, Kampung Enggros bisa sama-sama masuk dan mencari kerang dan hasil laut di seluruh bagian hutan mangrove. Para perempuan biasanya mencari, ikan, kerang/bia, hingga kepiting. Kerang unggulan yang biasanya didapatkan di tempat ini adalah kerang noor atau biasa disebut bia noor.  

Hutan mangrove selain sebagai tempat biota laut, warga sekitar memanfaatkan batang mangrove sebagai kayu bakar, bahan obat-obatan, bahan bangunan, pengawet dan penghalus jaring, hingga pewarna perahu.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Pembangunan Infrastruktur dan Sampah menjadi Ancaman 

Gambar 3 Lanskap Teluk  Youtefa
Gambar 3 Lanskap Teluk  Youtefa

Namun sangat disayangkan dengan adanya usaha untuk menggerakkan ekonomi suatu wilayah terkadang melupakan aturan untuk melestarikan alam sekitar. Hutan perempuan misalnya menjadi salah satu contoh yang terkena dampak akibat ulah manusia. Beragam ancaman mulai dihadapi hutan perempuan, akibat dari pembangunan infrastruktur di kota Jayapura yang berhimpitan dengan Teluk Youtefa serta sampah dari kota yang mencemari laut sekaligus bisa meracuni warga sekitar yang mengonsumsi dan menggantungkan hidup dari hasil laut dan hutan bakau .

Keindahan laut di Teluk Youtefa dihiasi hutan bakau sepanjang 200 meter dari garis pantai, dengan total luas hutan bakau sebesar 233, 12 hektar pada tahun 2018. Angka tersebut merupakan penurunan dari luasnya hutan bakau yang awalnya 514,67 hektar di tahun 1967, berkurang hingga 40%  pada 2014 menjadi 259,1 hektar, dan terakhir 233,12 hektare.

Gambar 4 Jembatan Youtefa sebagai salah satu infrastruktur yang telah selesai dibangun
Gambar 4 Jembatan Youtefa sebagai salah satu infrastruktur yang telah selesai dibangun

Menurut John Dominggus Kalor, Dosen Ilmu Perikanan dan Kelautan di Universitas Cendrawasih, luas ini belum ditambah dengan luas yang berkurang akibat pembangunan ring road dan jembatan di dekat Teluk Youtefa. Jika dihitung dari data pada tahun 1967, Teluk Youtefa telah kehilangan 50% dari luas ekosistem mangrove. Jumlah spesies dan biota laut yang hidup di sekitar ekosistem mangrove pun berkurang drastis. Pada tahun 2014 tercatat 71 spesies yang ditemukan. Sedangkan hasil penelitian terbaru hanya 12 spesies dan 10 biota perikanan. Hutan bakau saat ini juga sudah benar-benar terbuka dibandingkan dulu yang masih rimbun dan asri, sehingga pencarian kerang yang dilakukan sudah terdegradasi.

Pembangunan juga menggerus hutan perempuan kampung Enggros yang berada dekat di Teluk Youtefa. Saat ini luasnya hanya mencapai 5 hektar saja. Lahan kawasan hutan bakau juga telah dijadikan lokasi olahraga dayung untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) yang akan dilaksanakan pada bulan Oktober nanti. Kendaraan yang melewati Jembatan Youtefa dan ring road menyebabkan polusi suara dan udara.

Gambar 5 Salah satu contoh sampah botol plastik yang terjebak di antara pepohonan mangrove
Gambar 5 Salah satu contoh sampah botol plastik yang terjebak di antara pepohonan mangrove

Hal yang sudah menjadi pemandangan biasa bagi perempuan-perempuan adalah sampah yang mengapung saat beraktivitas mencari kerang, ikan, dan kepiting di hutan perempuan. Terdapat banyak sampah dari kota yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan mencemarkan air laut, sehingga terjadi penurunan biota laut yang berdampak pada pendapatan hasil tangkapan warga dan perempuan sekitar. Pembangunan infrastruktur dan pengembangan Teluk Youtefa sebagai destinasi wisata.

Akibat dari mengonsumsi hasil kerang dan ikan, masyarakat di Teluk Youtefa beresiko terkena paparan logam berat timbal atau plumbum (Pb). Menurut Hasmi, Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih, kadar logam berat timbal yang tinggi pada darah akibat dari sampah rumah tangga dan perkotaan hingga pembangunan infrastruktur bisa menimbulkan keracunan plumbum dengan gejala seperti anemia, letih dan lesu. Jika terlalu lama terpapar, akan mempengaruhi IQ anak-anak dan kesehatan reproduksi.

Menurut John Dominggus Kalor, Dosen Ilmu Perikanan dan Kelautan di Universitas Cendrawasih, kadar timbal air, ikan, dan kerang sudah melebihi ambang batas dari standar yang telah ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup sebanyak 0,00080 mg/liter. Seperti contoh ikan belanak yang hidup di sekitar teluk, kadar timbal rata-rata ikan belanak 2,46 mg/kg jauh dari standar nasional yang hanya 0,5 mg/kg. Juga kadar timbal pada kerang yang diteliti dengan rata-rata 0,58 mg/liter diatas standar nasional yang hanya 0,3 mg/liter. Kendati mengetahui hasil tangkapan kerang dan ikan telah tercemar, perempuan-perempuan kampung Enggros dan Tobati mau tidak mau tetap mengkonsumsi dan menjual hasil tangkapannya demi memenuhi kebutuhan hidup.

Manusia yang memakan hasil tangkapan laut di sekitar Teluk Youtefa memiliki kadar timbal yang paling banyak. Menurut penelitian yang dilakukan Hasmi pada 40 warga yang tinggal di Teluk Youtefa, kadar rata-rata kandungan timbal pada darah masyarakat mencapai 1,0 µg/dl dengan kisaran 0,5 – 1,51 µg/dl, melebihi ambang batas yang normalnya 0,64 µg/dl. Ada juga yang mencapai 1,51 µg/dl kadar plumbum dalam darahnya. Tingginya kadar timbal pada darah juga mengganggu aliran oksigen ke seluruh tubuh, tubuh pun bisa kekurangan oksigen.

Kaum Muda dan Masyarakat Harus Bersama-sama Menjaga Hutan Perempuan dan Teluk Youtefa

Walikota Jayapura, Benhur Tomi Mano yang berasal dari Kampung Tobati, mengatakan, akan menggerakkan Dinas Lingkungan Hidup Kota Jayapura untuk bekerja sama mengambil sampel di Teluk Youtefa terkait pencemaran kadar logam berat. Pencemaran ini menurut Benhur juga akibat dari kurangnya kepedulian masyarakat di Jayapura akan kebersihan, dengan semakin banyaknya jumlah penduduk dan lahan baru. Pemerintah Jayapura juga sudah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Kota Jayapura No.15 tahun 2011 terkait penyelenggaraan kebersihan. Namun Perda ini kurang ditaati oleh masyarakat yang tinggal di sekitar sungai yang bermuara di Teluk Youtefa, seperti Sungai Hanyaan dan Sungai Acai.

"Gambar

Selain itu, Mama Ani salah satu perempuan yang menjaga kawasan hutan tersebut mengatakan kearifan lokal yang telah dilestarikan turun-temurun oleh nenek moyang saat ini mulai tergerus oleh perkembangan zaman. Semakin sedikit perempuan muda yang mau melestarikan tradisi dan budaya di hutan perempuan. Sehingga, pelestarian tradisi kini lebih sering dilakukan perempuan-perempuan kampung Enggros yang telah lanjut usia. Hanya beberapa kaum muda perempuan yang masih peduli melestarikan tradisi ini. Kebanyakan generasi perempuan muda, menurut Mama Prisilla, enggan meneruskan tradisi karena merasa “gengsi” untuk mencari kerang sebagai sumber kebutuhan hidup di hutan bakau. Sementara, menurut Orgenes Meraudje, tokoh masyarakat di Kampung Enggros, remaja perempuan Kampung Enggros memiliki perbedaan pola pikir dalam melestarikan hutan perempuan. Mereka memilih mengenyam pendidikan lebih tinggi, dan banyak remaja perempuan yang memilih keahlian lain, seperti berdagang atau menganyam.

Para perempuan dan masyarakat sekitar hutan bakau pasti berharap, baik masyarakat, pemerintah, dan kaum muda di Teluk Youtefa bisa sama-sama menjaga hutan serta laut yang mulai tergerus oleh perkembangan zaman. Mama Ani berpesan semoga remaja perempuan Enggros tergerak untuk melestarikan tradisi dan budaya di hutan perempuan, agar tradisi ini tidak hilang dan bisa terus mempertahankan hutan bakau di Teluk Youtefa.

 

Penulis: Firas

 

Referensi Artikel:

Hari Air Sedunia: Hutan Perempuan di Papua, ‘surga kecil yang dirusak manusia’. 2021. bbc.com. Accessed March, 27 2021, from

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-56276719#:~:text=%22Secara%20tradisional%20hutan%20mangrove%20Teluk,hasil%20laut%20untuk%20keperluan%20masyarakat.&text=Ayomi%20Amindoni-,Keterangan%20gambar%2C,perempuan%20harus%20menanggalkan%20baju%20mereka.

https://www.mongabay.co.id/2019/12/22/nasib-hutan-perempuan-kampung-enggros/

Kisah para pelestari hutan bakau khusus perempuan di Teluk Youtefa, Papua — ‘Hutan Perempuan sudah jadi satu dengan adat kami’. 2021. bbc.com. Accessed March, 29 2021, from

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-56269816

Referensi Gambar:

Gambar 1 : https://www.econusa.id/id/ecostory/hutan-perempuan–pelestarian-ekosistem-bakau-oleh-perempuan-enggros–bagian-i-

Gambar 2 : https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-56276719

Gambar 3 : https://phinemo.com/wisata-jayapura-yang-sajikan-panorama-alam-papua/25024034_2010448572572370_7328964075436638208_n/

Gambar 4 : https://indonesia.go.id/ragam/pariwisata/pariwisata/jembatan-youtefa-bukti-sumpah-membangun-papua

Gambar 5: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-56276719

Gambar 6: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-56276719

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk

Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam

untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama

melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!