Spanduk Raksasa di Ikon Kota Jakarta: Sebuah Opini

Spanduk Raksasa yang tengah dipasang oleh aktivis Greenpeace Indonesia di Monumen Selamat Datang, Bundaran HI.
Spanduk Raksasa yang tengah dipasang oleh aktivis Greenpeace Indonesia di Monumen Selamat Datang, Bundaran HI.

Rabu 23 Oktober 2019, gue bener-bener di buat melek dengan rasa bangga pas buka twitter pagi-pagi yang nampang tweettnya Greenpeace Indonesia.  Dengan keberanian memasang dua spanduk raksasa di patung ikonik ibukota yaitu di Patung Dirgantara, akrabnya sih Patung Pancoran dan Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia. “Lawan Perusak Lingkungan” dan “Orang Baik Pilih Energi Baik” menjadi pesan yang bawa Greenpeace.

Ads

Fenomena ini ngingetin gue sama film Amerika tahun 2013 garapan Zal Bangmatlij yang judulnya The East. Film ini bisa dibilang film genre thriller namun dengan gaya lebih halus bertema Eco-Anarchist. Mengangkat isu lingkungan dan kerusakan ekosistem yang disebabkan oleh perusahaan dari korporasi-korporasi besar. The East jadi salah satu kelompok anarkis kolektif bawah tanah yang menolak dengan tegas perilaku-perilaku kerusakan lingkungan. Berlandas pada slogan “We are the east, we don’t care how rich you are. We want all those who are guilty to experience the terror of their crime” The East menjadi musuh prioritas dari korporasi dan elit politik negara.

Menurut gue, apa yang telah dilakukan Greenpeace Indonesia dengan menggelar spanduk raksasa tersebut searah dengan apa yang menjadi prioritas gerakan The East yaitu menyembuhkan ekosistem dari tindakan eksploitasi alam yang dilakukan oleh korporasi dan berakibat langsung pada ekosistem dan kehidupan. hanya saja tindakan Greenpeace masih sangat wajar dan tidak se ekstrim penyerangan The East hehe.

Bagian yang menjadi perhatian gue adalah narasi yang dipakai oleh Greenpeace. slogan “Orang Baik Pilih Energi Baik” dan “Lawan Perusak Lingkungan” sengaja ditujukan kepada Pemerintah Indonesia. bertepatan dengan pelantikan kabinet Indonesia maju pada tanggal 21 sampai 22 Oktober kemarin, Greenpeace Indonesia mencoba memberi sinyal bahwa energi dan hutan adalah dua sektor penting yang harus diperhatikan. sementara korporasi menyumbang lebih banyak deforestasi dan penggunaan bahan bakar fosil yang menyebabkan meluapnya kadar emisi efek rumah kaca di Indonesia. pemerintah berpotensi besar memangkas kegiatan ini.

Jakarta masih menjadi titik sentral yang strategis untuk menyuarakan pendapat. keberanian Greenpeace dengan memilih lokasi penggantungan spanduk di dua patung ikonik di jakarta membawa makna bahwa fenomena deforestasi dan polemik penggunaan energi nasional di Indonesia telah masuk pada fase genting.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Pesan yang dibawa Greenpeace pun tidak hanya sampai pada pemerintah namun juga menjadi alarm bagi publik bahwa keadaan hutan Indonesia sedang tidak baik-baik saja. mengingat Indonesia rentan terhadap perubahan iklim, kegiatan perusakan hutan menjadi faktor yang sangat mendukung bahkan mempercepat terjadinya kekeringan ekstrem, polusi udara, gagal panen, badai tropis bahkan banjir bandang dan akan ada kemungkinan bencana yang lain. sebelum semuanya menjadi korban atas fenomena degradasi iklim ini maka perlu dibutuhkan tindakan untuk mencegah supaya bencana lingkungan tidak menimpa Indonesia.

Gue lansir dari halaman Tempo.co , analisis Greenpeace Indonesia menggunakan data resmi pemerintah, yakni data bekas kebakaran menunjukkan bahwa lebih dari 3,4 juta hektare lahan terbakar antara 2015 dan 2018. Konsesi perusahaan dengan total areal terbakar terbesar yang didominasi oleh perkebunan sawit dan bubur kertas, belum diberikan sanksi perdata maupun sanksi administrasi secara konkret.

Kemudian, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Tata Mustasya, mengatakan janji penegakan hukum masih tidak tegas dan inkonsisten sehingga para perusak hutan belum tersentuh hukum. Padahal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 mengamanatkan pengurangan produksi batu bara secara bertahap. sementara pemerintahan Jokowi pada periode pertama menggenjot produksi batu bara mencapai 500 juta ton di tahun 2019.

Sebelum efek buruk terjadi dan menimpa seluruh rakyat Indonesia. segala perilaku yang merusak hutan harus di lawan. ada banyak cara untuk melawannya, minimal adalah membangun kesadaran untuk mencintai lingkungan dengan meminimalisir penggunaan plastik, tidak membuang sampah sembarangan, dan lakukan gerakan menanam pohon untuk kesejahteraan kehidupan. Ayo menanam,merawat dan menjaga kelestarian alam Indonesia.

 

Baca juga: Limbah Makanan: Dampak Bagi Lingkungan

Dikurasi oleh: Citra Isswandari Putri 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di daerahmu. Selain daerahmu, kamu  juga bisa membantu menghijaukan daerah lainnya di Indonesia lho!

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!