Karbon Biru Berpeluang Menekan Emisi Karbon di Indonesia

 

Karbon biru telah  disepakati sebagai salah satu cara mengurangi emisi karbon global. Kesepakatan tersebut berdasarkan hasil keputusan KTT dalam Paris Agreement,  Perubahan Iklim PBB (COP 21 UNFCCC) di Paris, Perancis pada 2015, . Lantas, apa itu karbon  biru?

Ads

Karbon biru merupakan karbon yang ditangkap dan disimpan di laut dan ekosistem  pesisir, seperti hutan mangrove, rawa pasang surut, dan padang lamun. Sejumlah ekosistem  tersebut menyimpan sebagian besar karbon di dalam tanah dan mampu mengubur karbon  atmosfer sepuluh kali lipat lebih besar per hektar per tahunnya dibandingkan lahan lain. 

Berikut ini adalah diagram perbandingan rata-rata global sumber karbon antara ekosistem  karbon biru dan hutan tropis yang dilansir dari policy brief berjudul Payments for Blue  Carbon.  

Sumber: Murray B. C. et al. (2010). Payments for Blue Carbon

Karbon biru berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim karena ekosistem ini  efektif mengurangi emisi karbon yang menjadi salah satu penyusun gas rumah kaca. Gas  rumah kaca sendiri adalah salah satu penyebab pencemaran udara yang memiliki dampak  terhadap perubahan iklim. Ekosistem karbon biru mampu menyerap karbon yang ada dalam  gas rumah kaca dan menyimpannya hingga di kedalaman 6 meter di bawah permukaan tanah  sampai ribuan tahun. Dikarenakan potensinya yang besar, sehingga dapat  berperan banyak sebagai solusi dari dampak perubahan iklim. 

Lalu, bagaimana peluang karbon biru dalam menekan emisi karbon di Indonesia?

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com
Ilustrasi mangrove dan padang lamun sebagai karbon biru. Sumber: deeperblue.com
Ilustrasi mangrove dan padang lamun. Sumber: deeperblue.com

Indonesia memiliki ekosistem karbon biru yang mumpuni yaitu hutan  mangrove. Luas hutan magrove di Indonesia mencapai  3,4 juta hektar atau sekitar 27% dari luas keseluruhan hutan mangrove di dunia. Indonesia Blue Carbon Strategy Framework (IBCSF) mencatat bahwa dengan hutan mangrove seluas itu, Indonesia berpotensi menyimpan karbon sebesar 950 MgC ha-1.  Sementara itu, Indonesia juga memiliki padang lamun seluas 292 ribu hektar yang memiliki  potensi penyimpanan karbon sebesar 119,5 MgC ha-1. Data yang sama menunjukan bahwa  potensi total penyimpanan karbon biru di Indonesia adalah sebesar 3,4 gigaton atau setara  dengan 17% dari total secara keseluruhan. Dengan potensi seperti itu, ekosistem  karbon biru di Indonesia memiliki peluang sangat besar untuk membantu mewujudkan komitmen  Indonesia dalam mengurangi emisi karbon sebesar 29% pada tahun 2030 mendatang. 

Meski begitu, hingga saat ini, belum ada kebijakan nasional untuk menangani dan  melindungi ekosistem karbon biru pun belum ada. Padahal, deforestasi masih terus  mengancam ekosistem tersebut. Daniel Murdiyarso, salah seorang peneliti Center for  International Forestry Research atau CIFOR, menyatakan bahwa setidaknya 200 juta ton  karbon mangrove hilang per tahun akibat penebangan, pengonversian, serta ekskavasi di  

wilayah mangrove. Jika laju deforestasi terus berjalan seperti ini, maka hutan mangrove Indonesia terancam habis dalam waktu 10-15 tahun. Padang lamun di Indonesia juga  terancam berkurang dari waktu ke waktu. Wilayah-wilayah Nias Utara, Sumatra Utara, dan  Biak Numfor di Papua belum bisa menghentikan degradasi luasan padang lamun. Luasan  area padang lamun menurun rata-rata dari 61% menjadi 55% pada tahun 2017. 

Walau belum ada kebijakan yang jelas terkait ekosistem karbon biru, bukan berarti  pemerintah sama sekali acuh terhadap isu ini. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian  Koordinator Bidang Kemaritiman menggandeng Lembaga Penerbangan dan Antariksa  Nasional (LAPAN) tengah melakukan pemetaan kondisi terkini kawasan  ekosistem mangrove, padang lamun (seagrass), dan kawasan pesisir di Indonesia.  Pemetaan dilakukan karena Indonesia tidak memiliki data yang paling baru terkait dengan  ekosistem tersebut. Data dari hasil pemetaan ini nantinya akan menjadi rujukan  untuk membuat kebijakan berkaitan dengan karbon biru

Tindakan nyata di lapangan juga sama pentingnya dengan inisiatif yang digagas di  tingkat nasional. Selain pemerintah, masyarakat sipil, instansi pendidikan, dan komponen lainnya juga diharapkan terus mengembangkan inisiatif perlindungan ekosistem karbon biru di berbagai lokasi di Indonesia. Jaminan akan keberlanjutan inisiatif tersebut dalam jangka  panjang memang masih menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia, tetapi langkah-langkah  ini tetap harus dilakukan secara kolektif untuk bisa mengelola ekosistem secara berkelanjutan  sehingga mampu mengatasi perubahan dan memperkuat ketahanan iklim, menjaga  pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Almira Afini) 

Penulis : Almira Afini

Dikurasi oleh Inggrit Aulia Wati Hasanah

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!