Pemakaman Bayi di Pohon Tarra, Tradisi Unik Tana Toraja

Pemakaman bayi di pohon tarra merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat tana toraja dan kini berpotensi benjadi wisata.

Ads

Sekilas Toraja dan Passiliran

Tana Toraja merupakan kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dengan pusat pemerintahan atau ibukota di Makale. Tana Toraja dianggap sebagai kabupaten yang paling indah di Sulawesi Selatan berkat kekayaan alam dan budayanya. Kekentalan budaya yang masih melekat di dalam hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat menjadi keunikan tersendiri bagi Tana Toraja menurut pandangan wisatawan dan masyarakat luar. Ciri khas budaya yang paling populer dari Tana Toraja adalah Rumah Tongkonan. Rumah Tongkonan merupakan rumah adat dengan ukiran dan bentuk yang khas sehingga menjadi ciri utama Tana Toraja. Kebudayaan Toraja tidak hanya seputar seni dalam Rumah Tongkonan, terdapat pula suatu tradisi budaya dari Tana Toraja yaitu tradisi pemakaman bayi yang disebut Passiliran. Passiliran merupakan tradisi kematian yang dilakukan oleh masyarakat di Tana Toraja yang memakamkan bayi di pohon tarra. 

Gambar 1. Icon Tana Toraja
Gambar 1. Icon Tana Toraja

Syarat Pemakaman Bayi di Pohon Tarra

Tradisi Passiliran memiliki syarat-syarat tertentu yang diterapkan oleh masyarakat setempat khususnya pada bayi yang akan dimakamkan sehingga tidak semua bayi dapat dimakamkan dengan prosesi tersebut. Proses pemakaman bayi di Tana Toraja ini dilakukan oleh masyarakat yang masih menganut kepercayaan Aluk Todolo atau kepercayaan animisme yang masih sangat memegang teguh warisan tradisi dari leluhur. Syarat utama dari tradisi pemakaman ini adalah harus dilakukan di pohon tarra. Pohon tarra dianggap pohon paling baik karena dapat berdiri tegak dan memiliki banyak getah di dalamnya. Pohon tarra tidak sulit ditemukan karena cukup tersebar di Tana Toraja. Bayi yang diperbolehkan untuk dimakamkan di pohon tarra adalah bayi yang meninggal pada usia kurang dari atau tepat 6 bulan. Usia bayi tersebut dianggap masih sangat suci. Bayi-bayi yang akan dimakamkan perlu dipastikan bahwa bayi tersebut belum memiliki gigi sama sekali. Seluruh bayi pun dimakamkan dalam keadaan tanpa sehelai penutup tubuh karena dianggap masih suci.

Prosesi Pemakaman Bayi di Pohon

Prosesi pemakaman dimulai dengan pembuatan lubang di batang pohon tarra. Posisi pelubangan tidak dapat dilakukan begitu saja karena masyarakat Tana Toraja masih memperhatikan strata sosial dalam kehidupannya, maka bayi yang berasal dari keluarga dengan strata sosial tinggi akan mendapatkan tempat paling tinggi di pohon tarra. Pembuatan lubang tersebut disesuaikan dengan ukuran tubuh bayi yang sudah meninggal. Tubuh bayi dimasukkan ke dalam lubang yang sudah dibuat sesuai dengan ukurannya tanpa sehelai kain penutup apapun karena dianggap masih sangat suci. Bayi yang sudah dimasukkan akan langsung ditutup oleh ijuk yang disusun sedemikian rupa sehingga terlihat rapi. Bentuk penyusunan ijuk dimulai dengan posisi vertikal yang ditimpa dengan ijuk berposisi horizontal. Makam bayi akan disesuaikan pula sehingga mengarah ke rumah duka sebagai bentuk penghormatan.

Gambar 2. Makam Bayi di Pohon Tarra
Gambar 2. Makam Bayi di Pohon Tarra

Makna Tradisi Pemakaman Bayi di Tana Toraja

Tradisi Passiliran hanya dilakukan oleh masyarakat yang menganut Alok Todolo di  Kambira yang masih mempercayai animisme secara penuh. Masyarakat percaya bahwa kehidupannya masih sangat berdampingan dengan leluhur sehingga banyak tradisi yang erat kaitannya dengan leluhur di Tana Toraja. Passiliran merupakan salah satu tradisi yang masih dilakukan hingga saat ini. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat sebagai tradisi pemakaman yang dianggap masih suci. Batasan mengenai kesucian bayi telah ditentukan sejak lama dan merupakan syarat bayi tersebut dapat dimakamkan menggunakan prosesi ini. Pemakaman bayi di pohon haruslah bayi-bayi yang telah meninggal pada usia di bawah atau sama dengan enam bulan dianggap bayi yang masih sangat suci dan belum tersentuh atas dosa apapun sehingga harus dikembalikan dalam keadaan suci tanpa tambahan pelengkap apapun dari dunia ketika dikembalikan.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Pemilihan pohon tarra bukan semata-mata hanya karena jumlahnya yang banyak di Tana Toraja namun sebenarnya memiliki alasan tersendiri. Pohon tarra memiliki batang yang kokoh dan lebar sehingga dianggap bahwa pohon-pohon tersebut sedang memeluk bayi-bayi yang sudah meninggal. Banyaknya getah di bagian batang pohon tarra disimbolkan sebagai Air Susu Ibu (ASI) yang sedang diberikan kepada bayi-bayi yang sudah dimakamkan. Masyarakat setempat percaya bahwa spirit dari pohon tarra akan menjaga bayi-bayi yang sudah dimakamkan karena bayi-bayi tersebut dikembalikan dalam keadaan suci.

 

Potensi Wisata di Tana Toraja

Pemakaman bayi di Tana Toraja memiliki konotasi yang menyeramkan dalam pikiran masyarakat. Pemakaman yang terbayang dalam benak setiap individu adalah lokasi dimana batu nisan disusun dengan banyak orang-orang meninggal terkubur di lokasi tersebut. Konotasi tersebut dapat terbantahkan ketika melihat Baby Grave di Kambia. Baby Grave tersebut merupakan lokasi yang banyak ditumbuhi pohon tarra sebagai tempat pemakaman. Baby Grave tidak memiliki batu nisan apapun, hanya terdapat susunan ijuk di batang pohon tarra. Kondisi tersebut dianggap unik bagi wisatawan khususnya yang bukan berasal dari Tana Toraja. Banyak wisatawan yang sengaja mengunjungi Baby Grave untuk melakukan kegiatan wisata. Jenis wisata yang dilakukan adalah wisata spiritual, wisata alam, dan wisata budaya yang terangkai dalam satu kali perjalanan. 

Baby Grave perlu ditempuh dengan berjalan kaki melewati anak tangga yang di sekelilingnya terdapat hutan bambu. Lokasi pemakaman terletak di alam bebas. Sesampainya di Baby Grave, wisatawan akan merasakan suasana yang berbeda karena tempat tersebut dianggap sakral sehingga dapat dirasakan spirit yang berbeda dari lingkungan luar Baby Grave. Wisatawan tentunya akan mendapatkan pelajaran kebudayaan baru yang terdapat di Indonesia khususnya kebudayaan mengenai Passiliran yang tidak terdapat di tempat lain. 

 

Penulis: Raden Kemala Patraksa

Dikurasi oleh Inggrit Aulia Wati Hasanah

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak! 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!