Penanaman Mangrove di Cilacap Bersama Vert Terre

Penanaman tumbuhan Mangrove dinilai sangat penting dalam melakukan penjagaan ekosistem pesisir. Akan tetapi, Indonesia seiring berjalannya waktu diketahui mengalami penurunan luas tumbuhan mangrove. Pada gambar berikut ini, grafik luas mangrove yang terus menurun di Indonesia dapat dilihat.

Ads
Penurunan Jumlah Mangrove di Indonesia © Tirto.id dari FAO, CIFOR
Penurunan Jumlah Mangrove di Indonesia © Tirto.id dari FAO, CIFOR

Pada gambar di atas, grafik menunjukkan bahwa Indonesia mengalami penurunan luas kawasan tumbuhan mangrove sejak tahun 1980 (4,2 juta hektar) hingga tahun 2005 (menjadi sejumlah 2,9 juta hektar). Indonesia telah diketahui memiliki sejumlah 27% dari total luas mangrove yang ada di seluruh dunia. Menurut informasi dari Adi Purwananda, yaitu seorang peneliti oseanografi dan perubahan iklim global di LIPI, akar tumbuhan mangrove dinilai efektif dalam menangkal gelombang air laut. Tidak hanya untuk hal itu, tetapi tumbuhan mangrove juga memiliki kemampuan penyimpanan karbon sebanyak 5 kali lebih besar dibandingkan hutan di daratan, berdasarkan informasi dari Centre for International Forestry Research atau CIFOR. (Tirto.id, 2020). Dengan demikian, peningkatan jumlah tumbuhan mangrove di Indonesia sudah sepatutnya dijadikan sebagai perhatian utama bagi seluruh kalangan masyarakat untuk dilakukan. Pada artikel ini, terdapat pembahasan mengenai salah satu toko yang akan memberi kontribusi terhadap lingkungan, yaitu Vert Terre.

Vert Terre

Vert Terre merupakan salah satu toko di Yogyakarta yang melakukan penjualan berbagai produk ramah lingkungan sekaligus menjadi partner kolaborasi LindungiHutan dalam melakukan kerjasama penanaman pohon. Founder Vert Terre yaitu Tiffani Rizki Putri Baihaqi dan Ratri Sekar Wening yang memiliki hobi jualan dan mempelajari hidup zero waste saat tahun 2018 lalu. Dalam Bahasa Perancis, Vert Terre mempunyai arti bumi hijau. Toko Vert Terre dibuka di Sleman, Yogyakarta. Alasan mereka membuka toko adalah agar orang-orang dapat melihat barang, teredukasi hal mengenai zero waste, dan mengenal produk lokal.

Produk yang dijual oleh toko ini adalah botol minum, tas belanja, berbagai produk untuk merawat tubuh (seperti sabun dan shampo natural, air mawar, dan lulur tradisional), sabun cuci piring, deterjen, dan sabun pel yang natural. Produk dari Vert Terre lebih natural, tidak menggunakan bahan kimia, package free, dan menghasilkan jumlah sampah yang relatif sedikit karena berasal dari produsen kecil, bukan produksi massa. Para pembeli juga dapat membawa wadah sendiri untuk mengurangi jumlah sampah. Banyak produk dari Vert Terre berasal dari produksi kenalan mereka, seperti lulur dari industri rumah di Solo, sabun dari Bentala, dan sampo produksi dari Sanggar Anak Alam yang nanti hasilnya dipakai untuk pendanaan sanggar itu (Kumparan, 2020).

Berikut pada gambar di bawah ini adalah Instagram Vert Terre.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com
Media Sosial Vert Terre © Instagram vert.erre
Media Sosial Vert Terre © Instagram vert.erre

Untuk melihat produk secara lengkap, para pembaca dapat mengecek instagram Vert Terre (vert.erre). Selain itu, para pembaca juga dapat mengunjungi instagram catalogue.vertterre. Banyak produk yang dijual seharga kurang dari Rp100.000,00 sehingga ternilai cukup terjangkau, tetapi tetap indah secara visual dan ramah lingkungan.

Sebagai bisnis yang menjual produk ramah lingkungan, Vert Terre memiliki keinginan untuk memberi kontribusi penjagaan lingkungan secara langsung melalui penanaman pohon. Vert Terre, berkolaborasi dengan Lindungi Hutan, membentuk kampanye bernama A Tale of Trees.

Kampanye A Tale of Trees

Kampanye A Tale of Trees merupakan kampanye yang diadakan oleh Vert Terre yang bekerja sama dengan pihak LindungiHutan. Kampanye ini dilakukan untuk melakukan penanaman tumbuhan Mangrove di Kampung Laut, Cilacap. Kampung Laut di daerah tersebut adalah gugusan pulau-pulau yang kecil di Segara Anakan yang memiliki sejumlah desa, yaitu Desa Panikel, Desa Ujung Alang, Desa Ujung Gagak, dan Desa Klaces.

Desa Klaces menjadi pintu gerbang menuju kawasan Segara Anakan. Desa Klaces diketahui terus mengalami banjir setiap tahunnya akibat pasang dan surut Segara Anakan. Ketinggian air dapat mencapai 1 meter saat kondisi pasang sehingga membanjiri kawasan pertanian dan permukiman warga. Masalah lainnya adalah terdapat warga Desa Klaces yang membuang air limbah tanpa ada pengolahan air terlebih dahulu sebelum menuju ke lingkungan. Hal itu dapat mencemari badan air dan tanah di daerah tersebut. Sumber air bersih yang minim membuat warga memanfaatkan sumber dari mata air goa. Di samping hal tersebut, tidak terdapat tempat pengolahan sampah sehingga warga membakar atau menimbun sampah di kediamannya masing-masing (Kusumawardhani et al., 2016).

Kampung Laut disebut dengan nama demikian karena warga setempat tinggal di perairan Kawasan Segara Anakan. Pada gambar di bawah ini, foto Kampung Laut dapat dilihat.

Kampung Laut, Cilacap © Detik oleh Arbi Anugrah
Kampung Laut, Cilacap © Detik oleh Arbi Anugrah

Daerah ini relatif terpencil, sebab untuk mengakses daerah ini harus naik perahu selama sekitar 1,5 hingga 2 jam, tergantung kondisi arus dan perahu. Ada sebanyak sekitar 14.000 jiwa penduduk di 4 desa di daerah tersebut yang pada umumnya bekerja sebagai nelayan, buruh serabutan, dan petani. Cilacap telah dikenal sebagai daerah yang memiliki risiko tinggi terkena bencana alam (longsor, banjir, tsunami, dan abrasi) di Provinsi Jawa Tengah.

Kawasan Segara Anakan diketahui merupakan kawasan unik, yaitu perwujudan ekosistem darat, laut, dan estuaria yang seimbang sebagai habitat fauna dan flora langka. Kawasan ini menjadi tempat migrasi berbagai macam satwa dan daerah pemeliharaan ikan dan udang yang memiliki nilai ekonomi tinggi. PP Nomor 26 Tahun 2008 mengenai RTRWN memasukkan kawasan ini sebagai salah satu daerah Kawasan Strategis Nasional yang butuh perhatian lebih dari pemerintah dan pemerintah daerah. Daerah Kampung Laut dikelilingi oleh hutan jenis Mangrove yang menyediakan habitat bagi kepiting, kerang, udang, dan berbagai macam ikan yang dapat dimanfaatkan. Kampung Laut memiliki potensi wisata yang dapat dikembangkan, seperti pantai pasir putih yang menghadap ke arah Samudera Hindia dan goa-goa kapur dengan keindahannya.

Dengan kampanye ini, Vert Terre bersama LindungiHutan menjadikan lokasi di Cilacap sebagai tempat yang akan dilakukan penanaman. Vert Terre memiliki harapan bahwa orang-orang dapat lebih peduli tentang isu lingkungan, berpartisipasi langsung dalam penanganan, dan menggunakan produk atau barang lokal yang ramah terhadap lingkungan.

Cara Dukung Kampanye

Besaran donasi yang dalam melakukan penanaman dan perawatan tumbuhan adalah Rp10.000,00 per pohon. Donasi dibuka hingga 1 Februari tahun 2021. Para pembaca dapat ikut melakukan kontribusi donasi dengan mengunjungi link https://lindungihutan.com/vertterre dan melakukan langkah-langkah yang dijelaskan sebagai berikut ini.

  1. Klik tombol bertuliskan ‘donasi sekarang’.
  2. Input nominal yang ingin diberi.
  3. Pilih cara pembayaran transfer melalui transfer bank (BRI, BCA, BNI, Mandiri), Doku Wallet atau Gopay.
  4. Lakukan konfirmasi via Whatsapp, email atau website.

Untuk mendukung kampanye ini, para pembaca juga dapat membeli masker kain dan paket bibit sayuran. Satu produk untuk satu pohon. Pembaca yang melakukan donasi nantinya akan memperoleh e-certificate. Pemesanan dapat dilakukan dengan menghubungi pihak Vert Terre via Whatsapp, Shopee, DM Instagram atau bahkan mengunjungi offline store langsung di Jalan Kaliurang. Sebanyak 100% keuntungan yang diperoleh sebagai hasil penjualan produk akan didonasikan untuk penanaman tumbuhan Mangrove di Kampung Laut, Cilacap. Perihal ini dapat dicek di Instagram Vert Terre (vert.terre) atau kunjungi link: https://www.instagram.com/vert.erre/

Referensi
Kumparan. (2020, November 1). Vert Terre Ajak Anak Muda Dukung Produk Lokal, Donasi Online, dan Zero Waste. Kumparan. Retrieved November 6, 2020, from https://kumparan.com/nana-rafida/vert-terre-ajak-anak-muda-dukung-produk-lokal-donasi-online-dan-zero-waste-1uV3PzL6KjT
Kusumawardhani, D., Mahyaningsih, S. A., Sharfina, W., & Astuti, Z. B. (2016, August). Model Desain Rumah Adaptif Kawasan Pesisir Studi Kasus: Desa Klaces, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap. Jurnal Infrastuktur, 2(1), 35-43. http://bpsdm.pu.go.id/jurnal/wp-content/uploads/2017/02/7-3.pdf
Tirto.id. (2020, January 24). Benteng Hutan Bakau Tidak Bisa Sendirian Melawan Abrasi. Tirto.id. Retrieved October 23, 2020, from https://tirto.id/benteng-hutan-bakau-tak-bisa-sendirian-melawan-abrasi-euGp

Nama Penulis : Elgin Martama

Enable Notifications    Ok No thanks