Pencemaran Perairan dan Biomonitoring Kontaminan

Gambar 1: Pencemaran Air
Gambar 1: Pencemaran Air

Permasalahan Kompleks Pencemaran Perairan

Pertumbuhan penduduk terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ini secara umum terjadi pada kawasan perkotaan yang diakibatkan oleh arus urbanisasi. Urbanisasi yang tidak terkendali ini akhirnya menimbulkan masalah yang kompleks dan saling bersinggungan satu sama lain. Apabila menyoroti masalah terhadap lingkungan dan alam, mungkin yang pertama akan sangat terasa dampaknya adalah polusi udara dan pencemaran air. Keduanya merupakan hasil alam yang paling sering dimanfaatkan oleh manusia. Selain itu, dampak dari rusaknya alam akan selalu berjangka panjang yang apabila tidak segera diselesaikan, maka permasalahannya akan merembet ke mana-mana. Permasalahan mengenai polusi udara dan pencemaran air pun sebetulnya saling bersinggungan. Udara yang kotor memiliki kontribusi besar terhadap terjadinya pencemaran pada perairan. Pencemaran air ini nantinya akan berbuntut terhadap menurunnya kualitas ekosistem air.

Ads

Bicara soal pencemaran air, tentu saja air laut atau sungai yang terdapat di kota-kota besar tidak dapat dijanjikan kebersihannya. Tingginya mobilitas dan kegiatan masyarakat mengakibatkan pencemaran air semakin sulit dikendalikan. Setiap harinya mungkin akan semakin bertambah mengingat semakin banyaknya industri pabrik, limbah pertokoan, atau bahkan kegiatan domestik masyarakat itu sendiri.

Kurangnya kepedulian dari tiap-tiap lapisan masyarakat terhadap limbah buangan kota membuat permasalahan mengenai pencemaran perairan tidak kunjung selesai. Masih banyak industri yang tidak memikirkan mengenai pengolahan akhir dari limbah kegiatannya, atau kegiatan masyarakat yang masih menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan limbah-limbang rumah tangga. Limbah-limbah ini yang akhirnya bermuara ke sungai sehingga menurunkan kualitas perairan.

Contoh kecilnya adalah sebanyak 13 sungai di Jakarta mengalami penurunan kualitas air. Padahal air sungai di Jakarta tidak hanya dijadikan tempat tinggal ikan-ikan kecil, tetapi juga dimanfaatkan sebagai air minum. Kurangnya ketersediaan air tanah di Jakarta disebabkan oleh penyempitan lahan mengakibatkan air sungai di Jakarta sering dimanfaatkan untuk air minum.

Beberapa hewan penghuni kali atau sungai masih dimanfaatkan oleh para nelayan untuk dijual. Hewan tersebut biasanya seperti ikan-ikan kecil atau hewan lain penghuni sungai seperti byssus kerang atau kerang hijau. Hewan ini yang nantinya diperjualbelikan lalu dikonsumsi oleh konsumen.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Dampak Kontaminasi Logam di Perairan

Gambar 2: Kontaminasi  Logam di Perairan
Gambar 2: Kontaminasi  Logam di Perairan

Logam menjadi salah satu bagian yang terurai di kawasan perairan akibat pembuangan limbah. Logam-logam berat ini menjadi toksik bagi organisme sungai yang tidak dapat dikeluarkan dari tubuh mereka. Akibatnya, logam-logam berat akan terus ada dan menjadi rantai makanan.

Dampaknya bagi kesehatan tentunya tidak perlu dipertanyakan lagi. Logam yang lebih berat dari logam lain akan menjadi ancaman kesehatan, apabila bersarang pada tubuh manusia. Air sungai yang sudah tercemar akan menimbulkan berbagai penyakit yang akan timbul pada jangka panjang bagi tubuh. Sama halnya ketika tubuh manusia mengkonsumsi makan-makanan yang berasal dari sungai yang tercemar.

Biomonitoring Logam oleh Bivalvia

Gambar 3: Byssus Kerang
Gambar 3: Byssus Kerang

Byssus kerang, sebagai salah satu makhluk hidup di ekosistem perairan menjadi hewan yang paling terdampak dari buruknya kualitas perairan. Kerang merupakan hewan dari kelas bivalvia yang hidup di sedimen atau lumpur pada suatu perairan. Dagingnya yang kenyal membuat hewan ini menjadi salah satu hewan air yang menjadi konsumsi favorit orang Indonesia.

Namun, dibalik dagingnya yang enak, kerang memiliki kekurangan yang membuat hewan tersebut menjadi tidak cukup layak untuk dikonsumsi. Kerang yang hidup di lumpur sungai memiliki kemampuan menyerap logam yang ada di sungai menggunakan cangkangnya. Kemampuan kerang ini yang akhirnya menjadi bumerang ketika logam yang berada di cangkangnya terserap ke dalam tubuhnya.

Hewan dari kelas bivalvia ini sangat peka akan keberadaan logam yang ada di sekitarnya. Logam-logam berat seperti timbal, nikel, seng, raksa, dan jenis logam yang sulit terdeteksi bisa diserap oleh cangkang kerang. Logam-logam tersebut apabila masuk ke tubuh manusia akan berdampak fatal terhadap kesehatan.

Sementara itu, selayaknya dua mata pisau, kemampuan kerang ini juga dapat memberikan keuntungan. Kerang bisa dijadikan sebagai bioindikator akan kualitas perairan. Melalui keberadaan kerang tingkat kontaminasi logam yang ada di perairan dapat diketahui jenis dan kadarnya.

Bioindikator adalah keberadaan suatu spesies yang dapat menunjukkan pengaruh ekologis. Alasan kerang dijadikan sebagai bioindikator ekosistem perairan adalah populasi kerang yang jumlahnya melimpah, persebarannya yang luas, serta kemampuan kerang dalam mengakumulasi pencemaran yang tinggi. Tingginya populasi dan luasnya persebaran kerang akan membantu keperluan penelitian yang membutuhkan jangka waktu yang panjang dan data yang akurat. 

Kemampuan penyerapan jenis logam setiap kerang berbeda-beda. Ada kerang yang dominan lebih mudah menyerap timbal, pada kerang yang dominan menyerap tembaga, dan ada juga kerang yang dominan menyerap seng. Kemampuan mengenai ketahanan kerang terhadap logam tersebut didapat dari mekanisme kerang dalam mendetoksifikasi logam.

Logam-logam yang terserap pada cangkang kerang ini menimbulkan perubahan bentuk pada cangkang kerang. Perubahan bentuk tersebut dikarenakan akumulasi logam yang menempel pada cangkang kerang. Semakin besar perubahan bentuk pada cangkang kerang, kemungkinan dapat disimpulkan, semakin tercemar suatu perairan.

Kemampuan kerang dalam menyerap kontaminasi logam yang ada pada suatu perairan tidak menjadikan hewan ini menjadi penanganan biologis dalam mengatasi pencemaran air. Cangkang kerang mungkin saja dapat menyerap kontaminasi logam, tetapi yang diserap tidak banyak. Selain itu, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, cangkang kerang cenderung hanya menyerap logam berat yang keberadaannya sulit dideteksi.

Pengendalian Pencemaran Perairan

Langkah selanjutnya yang harus diambil setelah mengetahui tingkat kualitas perairan adalah melakukan penanganan terhadap perairan tersebut agar pencemaran air tidak berlangsung lama sampai harus merembet ke mana-mana. Penanganan dari pencemaran air jelas membutuhkan usaha yang tidak sedikit. Waktu dan biaya selalu menjadi pertimbangan utama dalam upaya pengembalian kualitas sungai. Terutama untuk perairan yang mengalami pencemaran cukup parah.

Pengendalian pencemaran air bisa dilakukan dengan cara pemberian tindakan mekanis. Tindakan-tindakan tersebut adalah dengan cara membuat kolam stabilisasi, pengolahan air limbah, dan pengolahan excreta. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan agar dapat memulihkan kualitas sungai.

Di beberapa tempat di negara maju sudah ada penelitian mengenai pengendalian pencemaran air dengan tindakan kimiawi. Tindakan kimiawi tersebut dilakukan dengan cara menaburkan bahan kimia ke dalam kolam atau sungai sehingga dapat menghilangkan polutan yang terdapat pada perairan tersebut tetapi tindakan ini belum dapat dilakukan pada skala besar mengingat sudah terlalu banyak perairan yang tercemar sehingga membutuhkan biaya yang besar dalam pengendaliannya.

Dalam kegiatannya, pengendalian kualitas perairan memang membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Mulai dari monitoring kontaminan sampai tindakan pemulihan kualitas sungai, mengharuskan kegiatan berlangsung secara kontinu agar kualitas perairan dapat kembali pulih. Namun, kegiatan-kegiatan tersebut tidak akan berhasil apabila tidak didukung oleh masyarakat.

Peran serta masyarakat untuk dapat kembali memulihkan kualitas sungai memiliki andil paling besar. Dimulai dari hal kecil seperti tidak membiasakan diri mengalirkan limbah deterjen ke sungai sampai membuat pengolahan limbah pabrik sendiri. Apabila seluruh lapisan masyarakat sudah memiliki kepedulian akan pentingnya menjaga sungai-sungai, maka kasus pencemaran air akan semakin jarang terjadi.

 

Penulis: Fifi Melinda Setiawati

Dikurasi oleh: Citra Isswandari Putri

 

Referensi Artikel

Ali NA. 2017. Analisis kandungan limbah logam berat timbal (Pb) pada kerang di perairan Biringkassi Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan [skripsi]. Makassar (ID): UIN Alauddin Makassar.

Martha. 2020. Penyebab, dampak, dan cara mengatasi pencemaran air [internet]. Indonesia (ID): 99.co; [diunduh pada januari 18 2021]. Tersedia pada: https://www.99.co/id/panduan/cara-mengatasi-pencemaran-air

Purbonegoro T. 2018. Potensi bivalvia sebagai bioindikator pencemaran logam di wilayah pesisir. Jurnal Oseana. 43 (3): 61-71.

Yudo S. 2006. Kondisi pencemaran logam berat di perairan sungai DKI Jakarta. JAI. 2(1): 1-15.

Yohanes B, Utomo SW, Agustina H. 2019. Kajian kualitas sungai dan upaya pengendalian pencemaran air (studi Sungai Krukut, Jakarta Selatan). IJEM. 4 (2): 136-155.

Widiyanto AF, Yuniarno S, Kuswanto. 2015. Polusi air tanah akibat limbah industri dan limbah rumah tangga. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 10 (2): 246-254.

 

 

LindungiHutan.com adalah Platform Crwodfounding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealamuntuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dan bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak.

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!