Alih Fungsi Hutan Menjadi Kebun Sawit dan Karet

Alih fungsi hutan menjadi kebun sawit dan karet menyebabkan berbagai bencana timbul tak terkira. Hilangnya daerah resapan air dan berkurangnya jumlah tanaman penghasil oksigen dan punahnya beberapa spesies merupakan dampak yang ditimbulkan.

Ads

Bencana Alam di Indonesia

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa pada tahun 2020 telah terjadi bencana alam sebanyak 2.925 kejadian. Menurut data BNPB, bencana yang terjadi di sepanjang tahun 2020 didominasi dengan bencana alam hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data bencana hidrometeorologi, kejadian banjir telah terjadi sebanyak 1.065 kejadian di sepanjang tahun 2020. Bencana alam yang disebabkan oleh angin puting beliung telah terjadi sebanyak 873 dan tanah longsor sebanyak 572 kejadian. Karhutla  terjadi sebanyak 326, gelombang pasang dan abrasi sebanyak 36 kejadian dan kekeringan terjadi sebanyak 29 kejadian di Tanah Air. Sedangkan untuk jenis bencana geologi dan vulkanologi, kejadian bencana gempa bumi terjadi sebanyak 16 kali dan 7 kejadian untuk peristiwa erupsi gunung api. Berdasarkan data BNPB per November 2020, luas cakupan wilayah karhutla adalah mencapai mendekati 300 ribu hektar atau menurun hingga 81 persen dibandingkan dengan tahun lalu yakni 1,6 juta hektar luas wilayah yang terbakar.

BACA JUGA: Indonesia Green Living Festival Menjadi Bangsa Yang Hijau

alih fungsi hutan menyebabkan banjir
Gambar 1. Bencana Banjir pada Salah Satu Daerah di Indonesia

Alih Fungsi Hutan

Berdasarkan dari data Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL) KLHK, hasil pemantauan hutan Indonesia Tahun 2019 menunjukkan bahwa luas lahan berhutan seluruh daratan Indonesia adalah 94,1 juta ha atau 50,1% dari total daratan. Luas deforestasi tertinggi terjadi di kelas hutan sekunder, yaitu 162,8 ribu ha, di mana 55,7% atau 90,6 ribu ha berada di dalam kawasan hutan dan sisanya seluas 72,2 ribu ha atau 44,3% berada di luar kawasan hutan. Sebagai pembanding, hasil pemantauan hutan Indonesia tahun 2018 menunjukkan bahwa deforestasi netto tahun 2017-2018 baik di dalam dan di luar kawasan hutan Indonesia adalah sebesar 439,4 ribu ha, yang berasal dari angka deforestasi bruto sebesar 493,3 ribu ha dengan dikurangi reforestasi (hasil pemantauan citra satelit) sebesar 53,9 ribu ha. Dengan memperhatikan hasil pemantauan tahun 2018 dan 2019, dapat dilihat bahwa secara netto deforestasi Indonesia tahun 2018-2019 terjadi kenaikan sebesar 5,2%, namun demikian untuk deforestasi bruto terjadi penurunan sebesar 5,6%.

Alih fungsI hutan menjadi lahan
Gambar 2. Pembebasan Hutan untuk Lahan

Hal ini menunjukkan bahwa berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Kementerian LHK menuai hasil yang signifikan. Berbagai upaya yang dilakukan tersebut antara lain penerapan Inpres Penghentian Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut, Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Pengendalian Kerusakan Gambut, Pengendalian Perubahan Iklim, Pembatasan Perubahan Alokasi Kawasan Hutan untuk sektor non kehutanan (HPK), Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan (PPTKH/TORA), Pengelolaan Hutan Lestari, Perhutanan Sosial, serta Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Kondisi penutupan lahan dan hutan Indonesia bersifat dinamis, seiring dengan kebutuhan lahan untuk pembangunan dan kegiatan lainnya. Perubahan tutupan hutan terjadi dari waktu ke waktu, di antaranya karena konversi hutan untuk pembangunan sektor non kehutanan, perambahan, dan kebakaran hutan. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

BACA JUGA: Kampanye Alam Lets Keep The Earth Clean And Green

Alih Fungsi Hutan menjadi Kebun Sawit dan Karet

Awal tahun 2021, Indonesia mengalami bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Bencana banjir terjadi di beberapa daerah yaitu di Kepulauan Bangka Belitung; kabupaten Bener Meriah dan Aceh Timur, Aceh; Kabupaten Jember, Jombang dan Sampang, Sidoarjo, Jawa Timur; Kabupaten Indramayu, Jawa Tengah; Kalimantan Barat; 10 kabupaten di Kalimantan Selatan; Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat; Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat; Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara; Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara; Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara; Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat; Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Para ahli ekologi beranggapan bahwa rentetan bencana alam tersebut disebabkan peralihan lahan yang merusak tatanan ekologis di tanah air. Berdasarkan studi yang dipublikasikan pada Agustus tahun 2020 dari jurnal Ecology and Society, para peneliti menyampaikan bahwa peralihan lahan yang diabaikan otoritas Indonesia untuk perluasan perkebunan monokultur seperti sawit dan karet berdampak pada meningkatnya potensi banjir yang berdampak buruk bagi kehidupan.

alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit
Gambar 3. Perkebunan Sawit

Maraknya banjir terjadi setelah kawasan hutan dan rawa yang selama ini menjadi penahan dan penyimpan air telah berubah menjadi perkebunan sawit dan karet. Di sisi lain, curah hujan tidak lagi mengikuti pola musim dan  sulit untuk diprediksi oleh masyarakat, khususnya petani. Pembangunan bendungan banjir dan saluran drainase juga berkontribusi pada perubahan pola banjir lokal. Dikarenakan perkebunan kelapa sawit secara khusus semakin banyak dibudidayakan di lahan basah, seperti lahan gambut. Peristiwa bencana dan sulitnya memprediksi banjir musiman berdampak pada sosial ekonomi secara signifikan, seperti gagal panen. Akibatnya, dari kerugian itu menjadi alasan utama bagi para petani mengubah lahannya menjadi perkebunan kelapa sawit atau karet.

Perkebunan sawit di Indonesia membawa dampak kerusakan lingkungan hidup dan pelanggaran HAM. Bahkan, Sawit Watch Indonesia, telah memperkirakan bahwa ekspansi perkebunan sawit skala besar akan terus terjadi, terutama pada wilayah timur dan pulau-pulau kecil. Pemerintah telah menegaskan, agar pengusaha perkebunan sawit dapat memperhatikan tata kelola berkelanjutan. Mengacu pada data Sawit Watch tahun 2020, luas perkebunan sawit Indonesia telah mencapai 22,3 juta hektar, dengan 30% petani. Kontribusi sawit dalam menyokong ekonomi nasional, sejalan dengan begitu banyaknya masalah. Permasalahan di perkebunan sawit antara lain, kerusakan lingkungan, konflik agraria, kondisi buruh terabaikan sampai ancaman ketersediaan pangan.

 

Penulis : Roshelly

Dikurasi oleh Inggrit Aulia Wati Hasanah

 

 

LindungiHutan.com adalah Platform Crowdfounding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak.

 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!