Penyimpanan Karbon, Upaya Penyelamatan Lingkungan

Siklus Karbon
Siklus Karbon (Sumber : Sumber: www.esd.ornl.gov)

Penangkapan dan penyimpanan karbon merupakan salah satu cara untuk mengatasi peningkatan suhu di bumi. Berbicara soal Karbon, Karbon merupakan salah satu unsur terbanyak di alam semesta. Karbon ada di mana-mana, di makanan yang kita makan, bahkan tubuh kita sendiri pun terdiri dari unsur karbon. Ketika berbicara tentang Karbon, ada pula yang namanya Emisi Karbon, yaitu Karbon yang dilepaskan ke atmosfer. Karbon dapat bereaksi dengan mudah dan membentuk berbagai macam ikatan kimia. Namun, kali ini mari kita fokus kepada Karbon Dioksida (CO2). Secara alami, CO2 dilepaskan ke atmosfer dalam proses respirasi makhluk hidup, pada proses dekomposisi makhluk yang telah mati, juga pada erupsi gunung berapi. Secara alami pula, CO2 diserap oleh tumbuhan dalam proses fotosintesis.

Ads

Baca Lainnya : Mangrove untuk Ekosistem Alam dan Masyarakat

Namun, keberadaan CO2 bukan hanya dilepaskan secara alami ke atmosfer. Emisi Karbon juga disumbang oleh transportasi kendaraan bermotor, listrik, dan energi yang berasal dari pembakaran fosil. Produksi semen juga menyumbang emisi karbon. Tabungan CO2 di atmosfer pun turut ditambah oleh deforestasi, sebab hutan juga berfungsi menyerap karbon. CO2 merupakan salah satu Gas Rumah Kaca. Sahabat Alam tentu tahu bahwa Gas Rumah Kaca bekerja menyerap panas matahari dan melepaskannya di udara, sehingga menyebabkan temperatur planet ini menjadi lebih panas. Karbon Dioksida menyerap panas lebih sedikit dari pada Gas Rumah Kaca lainnya, tetapi jumlahnya berkali lipat lebih banyak dan menetap lebih lama di atmosfer.

Perbandingan Gas Rumah Kaca dalam Menyebabkan Kenaikan Temperatur Bumi
Perbandingan Gas Rumah Kaca dalam Menyebabkan Kenaikan Temperatur Bumi (Sumber: THE NOAA ANNUAL GREENHOUSE GAS INDEX)

Keberadaan CO2 memang mempunyai manfaat, terutama untuk fotosintesis. Namun bukankah segala sesuatu yang berlebih itu tidaklah baik? Jumlah CO2 yang banyak di atmosfer akan menyebabkan kenaikan suhu bumi sehingga terasa lebih panas. Bagi manusia, keracunan CO2 bisa menyebabkan gangguan pernapasan. Dalam jangka panjang, dapat melelehkan es di kutub, menaikkan permukaan air laut, dan kekeringan.

Pada dasarnya, bumi memang memiliki siklus karbon secara alami. Namun aktivitas manusia seperti pembakaran fosil yang berlebih, rusaknya ekosistem laut, serta pembakaran hutan menyebabkan naiknya jumlah CO2 di atmosfer.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Seperti yang telah disinggung di awal, jumlah CO2 yang lepas ke atmosfer dapat dikurangi dengan melakukan “penangkapan” dan “penyimpanan” Karbon. Jadi, secara teknologi, telah ditemukan metode penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS). Sejak tahun 2006 UNFCCC telah merekomendasikan CCS sebagai salah satu opsi utama teknologi mitigasi penurunan emisi CO2 selain penggunaan energi terbarukan dan peningkatan efisiensi penggunaan energi.

Dilansir dari Pojok Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, Dr. Mochammad Rachmat Sule sebagai Program Manager Gundih CCS Project yang juga pakar dari ITB, menjelaskan bahwa teknologi ini pada prinsipnya adalah menangkap kembali CO2 yang terlepas dari berbagai aktivitas pembakaran untuk kemudian disimpan kembali ke dalam perut bumi dan nantinya bisa dimanfaatkan untuk mengoptimalkan produksi minyak dan gas bumi.

Dalam penerapannya di Indonesia, CCS sudah diterapkan di beberapa titik, salah satunya di Gundih, Surabaya, Jawa Timur yang dimulai pada tahun 2011. Ada beberapa tantangan saat mengimplementasi CCS di Indonesia, yaitu kebijakan, regulasi, dan alasan komersial.

Di samping penerapan teknologi CCS dalam hal mengatasi emisi karbon, sebaiknya upaya-upaya pencegahan pun turut dilakukan, seperti menjaga ekosistem baik di daratan maupun di lautan. Karena sebagaimana yang Sahabat Alam ketahui pula, tumbuh-tumbuhan juga memiliki fungsi dalam penangkapan dan penyimpanan karbon secara alami.

 

 

Penulis : Elrisa Thiwa Nadella

Dikurasi Oleh: Daning Krisdianti

 

 

Referensi Tulisan

Christanto, Yordan Wahyu. (14 April 2015). Kurangi Emisi dengan Carbon Capture dan Storage (CCS).
http://kamilpasca.itb.ac.id/650/

Lindsey, Rebecca. (20 Februari 2020). Climate Change: Atmospheric Carbon Dioxide.
https://www.climate.gov/news-features/understanding-climate/climate-change-atmospheric-carbon-dioxide

Megawati, Trisia. (20 September 2017). Teknologi Penangkapan dan Penyimpanan Karbon Bisa Jadi Solusi Perubahan Iklim
http://pojokiklim.menlhk.go.id/read/teknologi-penangkapan-dan-penyimpanan-karbon-bisa-jadi-solusi-perubahan-iklim

Scott,  Michon dan Lindsey, Rebecca. (15 Juni 2016). Which emits more carbon dioxide: volcanoes or human activities?
https://www.climate.gov/news-features/climate-qa/which-emits-more-carbon-dioxide-volcanoes-or-human-activities

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kami juga berpartisipasi dalam membantu pencegahan COVID-19 yang saat ini sedang menjadi pandemi dunia. Dengan kampanye #lindungidiri pada link berikut https://covid19.lindungihutan.com/, bantuan donasi dan keuntungan produk akan disalurkan melalui Yayasan Gerakan Indonesia Sadar Bencana.

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!