Pohon Pule (Alstonia scholaris)

Pohon pulai (Alstonia scholaris). Sumber: bing.com
Pohon pulai (Alstonia scholaris). Sumber: bing.com

Sebagai makhluk hidup, kita memiliki keterkaitan yang kuat antar komponen ekosistem, salah satunya dengan keberadaan pohon yang berbagi tempat hidup dengan kita. Partomihardjo (2014) mengemukakan bahwa pohon merupakan kelompok tumbuhan berkayu yang memiliki satu batang utama dengan diameter setinggi dada (1,3 meter). Pohon dengan segala manfaatnya dapat memberi kehidupan bagi seluruh makhluk hidup. Disamping kontribusinya dalam penghidupan, setiap jenis pohon juga memiliki manfaat tersendiri dalam hal komersial, penggunaan, dan pengobatan. Pohon pulai (Alstonia scholaris) merupakan tumbuhan serbaguna yang tersebar di seluruh Indonesia, sehingga pulai memiliki berbagai jenis nama lokal, seperti Pule (Jawa), Lame (Sunda), Polay (Madura), Aliag (Irian), Hange (Ternate), dan beberapa nama lokal lainnya (Indartik 2009). Tumbuhan ini banyak dikenal sebagai pohon peneduh juga memiliki banyak manfaat lain dari kulit batang, getah, kayu, daun, hingga bunganya (Indartik 2009).  Pemberian nama genus terhadap pohon pule berasal dari sebuah penghargaan yang diberikan kepada seorang dokter Skotlandia dan Professor Botani  yang bernama Charles Alston (Sidiyasa 1998), sedangkan menurut Baliga et al (2012), scholaris diambil dari pemanfaatannya sebagai bahan dasar papan tulis sekolah di Asia Tenggara. 

Ads

 

Manfaat Pohon Pule

Konversi fungsi pohon menjadi berbagai pemanfaatannya bukanlah suatu hal yang janggal dilakukan, pemanfaatan pohon pulai (Alstonia scholaris) sebagai  fungsi penunjang lain telah dilakukan sejak lama oleh masyarakat. Pohon pulai yang tersebar di berbagai pulau Indonesia memiliki fungsi beragam dari tiap bagian tubuhnya. Berdasarkan nilai ekonomisnya, pohon pulai dimanfaatkan sebagai  bahan pembuatan peti, korek api, hak sepatu, kerajinan, alat tulis, dan pulp (bubur kertas) (Fatma 2010). Getah dari pohon pulai juga dapat dipanen untuk pembuatan permen karet (Mahsudi et al. 2014). Dalam segi kesehatan, pulai dimanfaatkan untuk mengatasi gangguan pencernaan, malaria, asma, demam, disentri, diare, epilepsi, penyakit kulit dan gigitan ular (Silalahi 2019). Laporan bioaktivitas yang dikemukakan Silalahi (2019) juga mengungkapkan kandungan yang dimiliki pulai berfungsi sebagai obat anti diabetes mellitus, antikanker, antimikroba, dan antioksidan.  Kandungan alkaloid memungkinkan pulai berpeluang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat tradisional. Sedangkan menilik tingkat kekuatan dan keawetannya yang rendah, pemanfaatan pulai dalam industri pertukangan kurang diminati (Arinana dan Diba 2009). 

Prospek pasar terbesar pulai terletak pada industri kerajinan, permen karet, dan obat-obatan. Tekstur kayu yang agak halus dengan sifat pengerjaan terhadap kayu yang mudah mendukung pohon pulai dijadikan sebagai bahan industri kerajinan. Pemanfaatan getah pulai sebagai bahan permen karet dikarenakan getah pulai yang berwarna putih seperti susu. Pengobatan tradisional yang dilakukan masyarakat memanfaatkan bagian kulit kayu, daun, dan bunga dari pohon pulai. Kulitnya dapat dimanfaatkan sebagai obat demam, malaria, diare kencing manis, dan darah tinggi. Penyakit borok, bisul, beri-beri dapat memanfaatkan bagian daunnya (Mahsudi et al. 2014).

 

Morfologi dan Tipe Habitat

Pohon bermarga Alstonia yang tersebar hampir di seluruh Indonesia ini memiliki bentuk tajuk pohon dengan percabangan bawah paling panjang sedangkan bagian cabang atas yang lebih pendek (pagoda). Ketinggiannya dapat mencapai sekitar 60 meter dan diameter batang 20-130 cm (Sisiyasa 1998). Kondisi batang lurus dan bulat dengan atau tanpa banir dan kulit bagian luarnya bertekstur kasar, sedangkan kulit bagian dalam yang mengandung getah berwarna putih. Tebal kulit pohon sekitar 8-11 mm (Mahsudi et al. 2014). Bentuk bunga berupa bunga majemuk (sekelompok kuntum bunga yang terangkai dalam pada satu tangkai) dengan aroma yang harum. Pohon pulai dapat hidup tanah liat dan berpasir  yang kering maupun digenangi air, pada lereng bukit berbatu dengan ketinggian 0-1000 mdpl. Pulai mampu hidup pada tanah dengan pH lebih dari 5 dan bertekstur kasar. Persebaran pulai dapat ditemukan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sumatera, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Irian Jaya (Mahsudi et al 2014).

 

Penulis: Fitra Khadijah S

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

 

Referensi

Arinana, Diba F. 2009. Kualitas kayu  pulai (Alstonia scholaris) terdensifikasi (sifat fisis, mekanis, dan keawetan). Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan. 2(2): 78-88. 

Baliga MS. 2012. Review of the phytochemical, pharmacological and toxicological properties  of Alstonia scholaris Linn. R. Br (Saptaparna). Chan.  J. Integr. Med. 18. 

Fatma DF. 2010. Pohon pulai. Tersedia pada http: //www. unpad.ac.id. 

Indartik. 2009. Potensi pasar Pulai (Alstonia scholaris) sebagai sumber bahan baku industri obat herbal : studi kasus Jawa Barat dan Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan. 6(2): 159-175.

Mashudi, Adinugraha HA, Yuskianti V. 2014. Budidaya pulai (Alstonia spp.) untuk bahan barang kerajinan. Bogor: IPB Press.

Partomihardjo T. 2014. Jenis-jenis pohon di hutan Nusakambangan. Jakarta: LIPI Press.

Sidiyasa S. 1998. Taxonomy, Phylogeny, and wood anatomy of Alstonia (Apocynaceae) kade. Bali: Indonesia. 

Silalahi M. 2019. Botani dan bioaktivitas pulai (Alstonia scholaris). Jurnal Pro-Life. 6(2): 136-147. 

 

Referensi  Gambar

https://www.bing.com

 

 

LindungiHutan.com adalah Platform Crowdfounding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak.

 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!