Pohon Trembesi Si Penyerap Karbondioksida

Kondisi Gas Karbondioksida

Perubahan iklim atau climate change pada akhir-akhir ini menjadi isu yang cukup penting dan terus bergulir. Perubahan iklim global akan terus terjadi seiring dengan peningkatan jumlah populasi dan aktivitas manusia di bumi khususnya aktifitas seperti pengonsumsian energi dari bahan bakar fosil. Selain itu, aktivitas degradasi dan deforestasi juga mempengaruhi peningkatan emisi karbon yang ada di atmosfer. Emisi karbon di Indonesia umumnya didominasi oleh emisi dari bahan bakar fosil dan aktivitas deforestasi. Karena negara Indonesia negara kepulauan maka hal ini sangat rentan terjadi terhadap dampak perubahan iklim. Menurut Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) tahun 2010, emisi karbon di Indonesia pada tahun 2005 diperkirakan sebesar 2,1 Gt CO2e sehingga membuat negara kita masuk ke dalam daftar negara penghasil emisi terbesar di dunia (1 giga ton setara dengan 1 milyar ton). Dari aktivitas pemanfaatan lahan seperti pertanian, tata guna lahan, alih guna lahan dan lahan gambut menghasilkan emisi sebesar 85%.

Ads

Sementara itu, emisi saat ini 41% berasal dari oksidasi lahan gambut yang secara perlahan dari kegiatan pembukaan parit atau kebakaran lahan gambut. Adapun dari deforestasi hutan lahan gambut menambah emisi sebesar 0,2 Gt CO2e. Selain itu, 37% dari total emisi di Indonesia berasal dari kegiatan atau aktifitas di hutan dengan lahan non gambut mulai dari deforestasi, degradasi atau kebakaran hutan. Tingkat deforestasi mencapai 0,8 juta hektar per tahun dan degradasi hutan kurang lebih sebesar 1 juta hektar per tahun. Sedangkan, pada deforestasi lahan gambut mencapai 0,3 juta hektar per tahun dan degradasi kawasan lahan gambut sebesar 0,2 juta hektar per tahun. Banyak yang bisa menjadi penyebab emisi, bahkan kebakaran lahan gambut telah merugikan negara Indonesia hingga 4 miliar dolar AS per tahun karena kerugian material, logistik yang tertunda dan masalah kesehatan dari penduduk setempat.

Gambar 1. Samanea Saman
Gambar 1. Samanea Saman

Sedangkan emisi pada sektor pembangkit listrik dan transportasi memiliki kontribusi relatif kecil, namun jumlahnya naik secara signifikan sebesar 0,8 Gt CO2e dan 0,4 Gt CO2e pada tahun 2030. Pada tahun 2030 emisi di Indonesia diperkirakan akan tumbuh 1,9% per tahun dari tahun 2020 sebesar 2,5 GT CO2e ke 3,3 Gt CO2e pada tahun 2030. Emisi di sektor pembangkit tenaga listrik bertambah lebih cepat dari sektor-sektor lain yaitu sebesar 8% per tahun dan mencapai 810 Mt CO2e pada tahun 2030. Hal ini didorong oleh bertambahnya kebutuhan energi yang sangat banyak dan ketergantungan pada pusat pembangkit listrik tenaga batu bara.

Pengertian, Habitat, dan Manfaat Pohon Trembesi

Dalam upaya penurunan emisi negara Indonesia sebenarnya perlu memanfaatkan pohon trembesi atau nama latinya adalah Samanea saman. Pohon ini bukanlah tumbuhan asli spesies Indonesia namun keberadaannya sering dijumpai di pinggir jalan. Tumbuhan ini memiliki ciri-ciri fisik berkayu kekar, kokoh, serta sangat rindang karena pohon ini membentuk kanopi yang memayungi sekitarnya. Pohon trembesi merupakan tumbuhan berpohon besar dengan ketinggiannya bisa mencapai 20 m dan memiliki tajuk yang sangat lebar. Selain itu, pohon ini juga memiliki jaringan akar yang luas dan kuat. Pada beberapa daerah di Indonesia pohon ini biasa disebut sebagai Kayu Ambon (Melayu), Ki Hujan (Sunda), Meh (Jawa), Trembesi, Munggur dan Punggur. Pohon ini termasuk ke dalam tumbuhan yang cepat dalam pertumbuhannya atau fast growing species yang tumbuh sangat baik pada tanah dengan drainase yang cukup.

Gambar 2. Kanopi Pohon Trembesi
Gambar 2. Kanopi Pohon Trembesi

Menurut Dr. Ir. H. Endes N. Dahlan, Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor mengungkapkan bahwa, pohon trembesi memiliki daya serap gas CO2 yang sangat tinggi. Dimana satu batang dari pohon trembesi mampu menyerap 28,5 ton gas CO2 setiap tahunnya dengan diameter tajuk sekitar 15 m. Selain itu, pohon trembesi juga mampu menurunkan konsentrasi gas secara efektif yang peranannya sebagai tanaman penghijau dan memiliki kemampuan menyerap air tanah yang kuat. Selain pohon trembesi pun juga terdapat tanaman yang mampu menyerap CO2 seperti jenanga, pingku, krey, payung, matoa, mahoni, beringin, saga dan bungur. Sebelumnya, dosen dari ITB tersebut telah melakukan riset sebanyak 43 pohon yang sering dimanfaatkan sebagai tanaman penghijau, namun hasilnya paling banyak penyerapan gas CO2 adalah dari pohon trembesi. Dalam satu tahun, pohon trembesi mampu menyerap sebanyak 28,488,39 kg karbondioksida (Dahlan, 2010).

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

 Perangkat Hukum Pelaksanaan Penurunan Emisi Di Indonesia

Dalam upaya penurunan gas emisi, negara Indonesia dapat memanfaatkan pohon trembesi pada pelaksanaannya karena saat ini banyak orang belum mengetahui manfaat dari pohon ini. Sejak penyelenggaraan Conference of the Parties– 13 (COP-13) di Bali, pemerintah Indonesia dan Departemen Kehutanan sangat giat mengembangkan perangkat hukum atau peraturan yang terkait langsung dengan penurunan emisi karbon (CIFOR, 2009). Diantara perangkat tersebut terdapat 3 Peraturan menteri yang telah resmi diundangkan yaitu sebagai berikut.

  1. Permenhut No. P. 68/Menhut-II/2008 mengenai Penyelenggaraan Demonstration Activities Pengurangan Emisi Karbon dari Deforestasi dan Degradasi Hutan.
  2. Permenhut No. P. 30/Menhut-II/2009 mengenai Tata Cara Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan.
  3. Permenhut No. P. 36/menhut-II/2009 mengenai Tata Cara Perizinan Usaha Pemanfaatan Penyerapan atau Penyimpanan Karbon pada Hutan Produksi dan Hutang Lindung.

Untuk itu, pemerintah perlu memilih jenis pohon yang efektif dan efisien yang akan ditanam dalam mengurangi emisi karbon. Karena emisi karbon tersebut mempunyai kemampuan untuk menyerap radiasi gelombang panjang yang akan menyebabkan pemanasan atmosfer di bumi. Dengan adanya pohon trembesi setidaknya dapat meminimalisir dampak tersebut demi kelangsungan hidup manusia di masa mendatang. Selain itu,  bertujuan untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan masyarakat baik perusahaan maupun instansi.

 

Penulis: Irene Mega Mellyana

 

Referensi Literatur:

  1.   Dahlan Endes. 2010. Trembesi Dulunya Asing Namun Sekarang Tidak Lagi. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB). Tersedia dalam https://scholar.google.com/citations?user=4nAGJrkAAAAJ&hl=id. Diakses pada 25 Januari 2021.
  2.   Haska, H. P, dkk. 2011. Pohon Trembesi Sebagai Alternatif Terbaik Untuk Mensukseskan target Penurunan Emisi Karbon Di Indonesia. PKM-GT. IPB. Tersedia dalam https://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/44218/1/PKM-GT-11-IPB-Hilhamsyah-Pohon%20Trembesi%20Sebagai.pdf. Diakses pada 25 Januari 2021.

Referensi Gambar:

  1. https://nationalgeographic.grid.id/read/13298551/6-pohon-pereda-stres?page=all
  2. https://blog.kurio.co.id/tag/hari-gerakan-sejuta-pohon/?amp

 

Lindungihutan.com merupakan Platfrom Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya yang dapat merugikan pihak!

 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!