Potensi Besar Mangrove Sebagai Blue Carbon Pesisir Indonesia

Konsentrasi gas rumah kaca (GRK) kian hari semakin mengalami peningkatan yang berdampak pada peningkatan suhu rata-rata global (pemanasan global), mencairnya lapisan es di kutub, peningkatan tinggi muka air laut dan cuaca ekstrim. Oleh karena itu, diperlukannya mitigasi perubahan iklim. Menjaga ekosistem pesisir dengan konsep blue carbon merupakan salah satu upaya dalam mitigasi perubahan iklim.

Ads
Gambar 1. Mangrove sebagai Blue Carbon
Gambar 1. Mangrove sebagai Blue Carbon

 

Mengenal Blue Carbon

Blue Carbon (Karbon Biru) merupakan istilah untuk karbon yang diserap dan disimpan di ekosistem pesisir dan laut. Karbon ini tersimpan ke dalam bentuk sedimen yang tersimpan dalam pohon bakau (mangroves trees), semak rawa pasang surut dan padang lamun (seagrass, sejenis tumbuhan laut). Karbon ini berwarna biru dikarenakan terbentuk di bawah air. Dalam hal ini termasuk pula karbon pesisir yang tersimpan dalam lahan basah pasang surut, seperti hutan pasang surut, mangrove (bakau), semak pasang surut dan padang lamun, di dalam tanah, biomassa hidup dan biomassa mati dalam kolam karbon.

 

Pentingnya Blue Carbon

Blue Carbon (Karbon Biru) merupakan upaya mengurangi emisi karbondioksida sehingga dapat mengatasi permasalahan pemanasan global dan perubahan iklim dengan cara menjaga keberadaan hutan bakau (mangroves forest), padang lamun, rumput laut dan ekosistem pesisir. Selain itu, pemanfaatan karbon biru juga merupakan bentuk implementasi dari tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals disingkat SDG) pada butir 14.

Menurut Supangat Agus dalam situs berita lingkungan Mongabay menyatakan bahwa pada 20 tahun ke depan sebagian besar ekosistem penyerap karbon biru (blue carbon sinks) diperkirakan akan musnah, sehingga kemampuan tahunan untuk mengikat karbon akan menurun. Untuk mempertahankan situasi saat ini dibutuhkan pengurangan emisi sebesar 4-8 persen sebelum tahun 2030 atau 10 persen sebelum tahun 2050.

Blue Carbon (Karbon Biru) sangatlah penting karena potensinya yang dapat menyerap karbon secara efektif sehingga dapat mengatasi masalah perubahan iklim. Karbon oleh vegetasi pesisir yaitu mangrove (bakau), seagrass dan padang lamun dapat tersimpan bertahun-tahun lamanya dan diserap dalam sedimen secara terus-menerus dalam kurun waktu yang lama.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

 

Mangrove sebagai Blue Carbon

Vegetasi pesisir diyakini dapat menyimpan karbon 100 kali lebih banyak dan lebih permanen dibandingkan dengan hutan di daratan. Ekosistem wilayah pesisir yang ditanami bakau (mangrove) memberikan dampak dan manfaat terhadap mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di sepanjang pantai secara global. Mangrove (bakau) mampu menyerap dan menyimpan cukup besar karbon biru dari laut dan atmosfer. Mangrove (bakau) memiliki kemampuan menyerap emisi di bumi mencapai 20 kali dari kemampuan hutan tropis. Dalam satu hektar hutan mangrove (hutan bakau) di Indonesia, tersimpan potensi karbon yang jumlahnya 5 kali lebih banyak dari karbon hutan dataran tinggi. 

Pada saat ini Indonesia memiliki hutan mangrove total seluas 3,1 juta hektar atau 22,6 persen dari mangrove di dunia yang menyimpan cadangan karbon sebesar 1/3 dari total yang ada di dunia. Karbon yang tersimpan di hutan mangrove Indonesia mencapai 3,14 miliar ton sedangkan untuk bisa mengeluarkan karbon sebanyak itu, Indonesia membutuhkan waktu hingga 20 tahun. Selain itu, mangrove memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dari potensi blue carbon yang dapat menghasilkan nilai ekonomi hingga USD10 miliar.

Namun, deforestasi hutan mangrove (hutan bakau) kini marak terjadi dilakukan demi kepentingan tertentu sehingga berdampak pada pengurangan populasi dan kerusakan mangrove. Deforestasi hutan mangrove (hutan bakau) akan mengakibatkan pelepasan karbon ke udara. Emisi tahunan dari kerusakan hutan mangrove di Indonesia mencapai 190 juta co-eq, jumlah tersebut sama dengan emisi jika setiap mobil di Indonesia mengitari bumi hingga dua kali.

Berdasarkan data REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) kerusakan ekosistem mangrove relatif lebih tinggi yang mencapai 3,7 persen per tahun dengan tingkat kerusakan paling tinggi terjadi di pulau Jawa terutama Pantura.Setiap tahunnya Indonesia mengalami deforestasi mangrove dengan luasan rerata mencapai 52 ribu ha. Kondisi tersebut dapat mengancam keberadaan hutan mangrove secara keseluruhan.

Ekosistem pesisir mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam sedimen secara terus menerus dalam kurun waktu yang lama. Potensi itu akan semakin besar jika dilakukan pengelolaan dengan baik. Kerusakan ekosistem pesisir tidak hanya dapat mengakibatkan bencana ekologis, tapi juga menimbulkan dampak kerugian ekonomi yang masif. Upaya perlindungan dan restorasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil perlu dilakukan untuk menjamin fungsi optimal ekosistem pesisir terutama hutan mangrove.

 

Penulis : Roshelly

 

Referensi Literatur

Ambari, M. 2017. Besarnya Potensi Karbon Biru dari Pesisir Indonesia, Tetapi Belum Ada Roadmap Blue Carbon. Kenapa? . Tersedia pada tautan: https://www.mongabay.co.id/2017/09/11/besarnya-potensi-karbon-biru-dari-pesisir-indonesia-tetapi-belum-ada-roadmap-blue-carbon-kenapa/ . Diakses pada: 30 Januari 2021.

Knowledge Centre Perubahan Iklim. Peran Blue Carbon dalam Upaya Mitigasi Perubahan Iklim. Tersedia pada tautan: http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/inovasi/354-peran-blue-carbon-dalam-upaya-mitigasi-perubahan-iklim . Diakses pada: 01 Februari 2021.

Mulya, Muhammad Abi. 2018. Apa itu Blue Carbon? Ini Penjelasannya. Tersedia pada tautan: https://tekno.tempo.co/read/1108480/apa-itu-blue-carbon-ini-penjelasannya/full&view=ok . Diakses pada: 30 Januari 2021.

National Estuarine Research Reserves. 2019. What is Blue Carbon? . Tersedia pada tautan: https://oceanservice.noaa.gov/facts/bluecarbon.html . Diakses pada: 30 Januari 2021.

Nugroho, Satrio Sapta. 2019. Penyebaran Informasi Mangrove untuk Perubahan Iklim. Tersedia pada tautan: https://www.menlhk.go.id/site/single_post/1895/penyebaran-informasi-mangrove-untuk-perubahan-iklim . Diakses pada: 30 Januari 2021. 

 

Referensi Gambar

https://oceanservice.noaa.gov/facts/bluecarbon.html

 

LindungiHutan.com adalah Platform Crowdfounding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak.

 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!