[Pre-Event] #RawatSemarang : Redakan Abrasi Tambakrejo

Rawat Semarang Redakan Abrasi Tambakrejo
#RawatSemarang : Redakan Abrasi Tambakrejo

SEMARANG – Yayasan LindungiHutan, dalam perhelatan aksi penanaman pohon tahunannya yang bertajuk #RawatBumi, akan kembali mengunjungi Tambakrejo, Semarang pada Rabu, 10 Juni 2020 lusa mendatang.  LindungiHutan bersama dengan beberapa mitra terkait akan menanam 327 Mangrove dengan jenis Rhizophora Sp. Campaigner dengan ID Muhammad Nana Siktiyana yang berinisiatif menggalang donasi untuk kampanye ini mengaku, abrasi Tambakrejo mungkin tidak dapat dihilangkan, tapi dapat diredakan dengan inisiatif teman-teman untuk menanam pohon di sepanjang sabuk Pantura tersebut.

Muhammad Nana Siktiyana merupakan seorang karyawan swasta di Kota Semarang yang menginisiasi jalannya kampanye alam #RawatSemarang : Redakan Abrasi Tambakrejo pada 11 Maret 2020 lalu. Ia mengaku mendapat pelajaran terbaru mengenai inisiatif jaga lingkungan berkat keikutsertaannya pada aksi #RawatBumi 2019 yang sama-sama diselenggarakan oleh LindungiHutan.

Baca Lainnya : Kontribusi untuk Alam di Bulan yang Baik Bersama LindungiHutan

Nana yang awalnya skeptis dan tidak mengikuti isu lingkungan di sekitarnya, dibuat takjub akan semangat dan motivasi para pemuda yang berusia lebih muda di bawahnya ketika menanam bersama dalam acara #RawatBumi 2019. Mereka seolah tidak pernah kehilangan energi meskipun panas terik menyengat padahal tiada imbalan sepeserpun untuk acara ini. Sebelum acara dimulai, Nana juga mengaku tidak mengetahui kondisi lapangan, kondisi budaya, masyarakat bahkan lokasi tepatnya.

Tambakrejo dan Abrasi yang Kerap Menghantui

Rawat Semarang, Cegah Abrasi Tambakrejo
Rawat Semarang, Cegah Abrasi Tambakrejo

Tambakrejo terletak di Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Posisinya berada di pesisir utara Kota Semarang, dekat dengan Pelabuhan Tanjung Mas dan banyak berjejer perkampungan nelayan di sekitarnya. Menurut Nana, kondisi di Tambakrejo cukup memprihatinkan dengan fenomena rumah hobbit dan pusara tenggelam.

Jika kita menengok ke kiri dan kanan pada perkampungan nelayan tersebut, akan tersajikan pemandangan rumah penduduk kelas menengah yang tampak berdiri tegak. Seakan rumah tersebut dipenuhi dengan kesejahteraan, sama seperti rumah-rumah kita yang tinggal di pusat kota; rumah berdinding beton dan bata, anak-anak riang bermain bersama, toko dan kios makanan yang menjajakan berbagai sandang pangan dan kebutuhan harian masyarakat setempat.

Faktanya, rumah-rumah di perkampungan nelayan tersebut, bahkan tidak terlihat lantai dasarnya karena telah ditinggikan beberapa kali. Sehingga kepala siapapun yang masuk ke dalamnya mau tidak mau harus bertemu dengan atap rumah tersebut. Selain itu, ada banyak rumah yang tenggelam dan ditinggalkan, pun rumah ibadah yang berbatasan dengan lautan nasibnya tidak kalah mengenaskan.

Pusara Tenggelam
Pusara Tenggelam Menjadi Fenomena di Tambakrejo

Makam tenggelam di Tambakrejo juga menjadi fenomena yang tidak kalah mengenaskan. Beberapa diantaranya, sudah dipindahkan ke tempat yang lebih layak, namun sisanya yang lain hanya mampu menunggu keluarganya menjemput maupun orang baik lainnya yang memindahkan.

Data Bappeda Kota Semarang yang dikutip oleh Mongabay Indonesia menunjukkan dampak abrasi telah menelan tambak sejauh 652,7 meter dari tahun 2005-2009. Estimasi ini dikeluarkan 11 tahun belakang, lalu bagaimana kondisi pada 2020?

 

LindungiHutan merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Dalam rangka mendukung kegiatan penghijauan teman-teman di Indonesia, yuk dukung Kampanye Alam daerahmu dengan berkunjung pada situs berikut https://lindungihutan.com/sedekahpohon

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!

Enable Notifications.    Ok No thanks