Rob Demak Latarbelakangi Inisiatif Bantu Mak Jah

Potrait Mak Jah dari Bedono
Potrait Mak Jah dari Bedono

Bukan tanpa alasan LindungiHutan menginisiasi inisiatif mandiri untuk bantu petani terdampak COVID-19. Seperti Mak Jah yang seringkali menjadi headline pemberitaan sebagai satu-satunya warga Bedono yang hidup di tengah laut. Abrasi desa Bedono lah yang melatarbelakangi inisiatif tersebut.  Jika tidak ditangani sekarang, rumah Mak Jah akan ditinggikan terus menerus dan bukan hanya dua desa saja yang hilang. Rob Demak yang kejam, harus dihilangkan mulai dari sekarang.

Baca Lainnya : Inisiatif Mandiri Bantu Mak Jah Pulih Dari Pandemi

Rob pesisir yang kerap terjadi selama dua puluh tahun terakhir dan menjadi langganan di utara Kabupaten Demak, telah menenggelamkan dua dusun dan membuat lebih dari dua ratus kepala keluarga terpaksa pindah meninggalkan tanah kehidupannya untuk mencari keselamatan agar tak lagi terendam kejamnya rob.

Namun, banjir rob yang bahkan mampu menenggelamkan dua dusun tersebut, tidak menyurutkan niat Pasijah untuk tetap bertahan hidup di tengah laut, dan menjadi satu-satunya warga Dusun Rejosari Senik yang masih memiliki rumah berdiri kokoh di tengah laut. Berteman camar dan bangau, Pasijah yang akrab dipanggil Mak Jah masih teguh mempertahankan kehidupannya diantara lebatnya hutan mangrove.

Rob Demak dan Abrasi yang Menghantui

Bagi warga utara Kabupaten Demak, rob merupakan sebuah bencana yang ujungnya tak pernah ditemukan. Pilihannya hanya dua, bertahan atau pindah. Bertahan dengan keresahan, atau memulai hidup baru dan pindah ke lokasi yang lebih baik. Banjir rob datang bukan hanya mampu merendam rumah. Ibarat paket hemat sebuah restoran, ia juga mampu menenggelamkan tambak, infrastruktur jalan, rumah dan sarana publik lainnya.

Abrasi yang mengikis garis pantai Kabupaten Demak semenjak tahun 1995 berdampak pada peralihan fungsi lahan. Masyarakat yang dulunya memiliki sawah di sekitar pemukimannya, harus rela berganti pekerjaan mengurusi tambak ikannya dan kemudian merelakan tambaknya menjadi lautan lepas. Perairan di sekitar Kabupaten Demak telah mengalami kenaikan permukaan air laut disertai penurunan permukaan tanah mencapai sekitar sepuluh sentimeter per tahun.

Demak telah mengalami perubahan garis pantai hingga sepanjang lima kilometer ke arah darat akibat abrasi. Pada tahun 2006, sebagian rumah milik dua ratus lebih kepala keluarga di Desa Bedono mulai terendam air. Setelahnya, warga tersebut menuntut relokasi dan dipindahkan ke desa lain di Kecamatan Sayung. Abrasi ini merupakan yang terbesar di kawasan pantai utara dan selatan Jawa, bahkan di Indonesia.

Penanaman mangrove yang sekaligus dibarengi dengan pembuatan sabuk pantai dapat efektif untuk digunakan sebagai rehabilitasi wilayah yang terkena abrasi. Sabuk laut dapat menjaga mangrove agar tumbuh secara optimal dan rehabilitasi wilayah yang terkena abrasi dapat dilakukan dengan menjaring sedimen.

Inisiatif Mandiri LindungiHutan Bantu Petani Bibit terdampak COVID-19

Inisiatif Mandiri Bantu Petani Indonesia
Inisiatif Mandiri Bantu Petani Indonesia

LindungiHutan ingin turut serta membantu kehidupan Mak Jah selama pandemi COVID-19. Dengan menggalang donasi online untuk Petani yang Terdampak COVID-19, yang salah satunya adalah Mak Jah di Demak, diharapkan donasi yang disalurkan dapat membantu kehidupan petani terdampak tersebut. Donasi yang didapat juga akan di bundle dengan pohon yang penanamannya akan dilaksanakan dua bulan setelah penggalangan dana ini berakhir.

Dengan berdonasi bersama LindungiHutan, Sahabat Alam dapat turut membantu meringankan beban Mak Jah di tengah masa pandemi serta mendukung gerakan konservasi lingkungan. Selengkapnya : Mari Tumbuhkan Harapan Mak Jah!

 

LindungiHutan merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Dalam rangka mendukung kegiatan penghijauan teman-teman di Indonesia, yuk dukung Kampanye Alam daerahmu dengan berkunjung pada situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam.