“Satu Anggrek, Satu Pohon untuk Bumi” dari IPlant untuk Berigheen Bebas Abrasi

Mengenal iPlant

IPlant merupakan toko tanaman online berbasis di Batu, Jawa Timur yang menyediakan berbagai jenis tanaman baik tanaman hidup maupun benih dan biji serta peralatan berkebun yang lengkap dan berkualitas. Segala jenis tanaman mulai dari tanaman bunga, tanaman buah, tanaman rambat, tanaman hias, hingga tanaman herbal tersedia di iPlant. Selain itu, iPlant juga menyediakan paket menanam yang dilengkapi dengan handbook panduan penanaman hingga tanaman berhasil dipanen. Produk-produk iPlant dapat dikirim ke seluruh Indonesia dan mendapatkan garansi tanaman hidup hingga 14 hari sejak tanaman diterima. Keberadaan iPlant memberikan pengalaman berbelanja kebutuhan bercocok tanam yang lebih mudah dan menyenangkan. Mengusung tagline “Tumbuh Bersama Indonesia”, IPlant berharap pelanggan dapat turut tumbuh bersama tanaman yang mereka terima. Dimulai dari bercocok tanam yang sederhana, ke depannya semangat untuk menghijaukan lingkungan dapat terus berkembang dan menjadi sebuah kebiasaan hidup yang baik dan sehat. Melalui tagline tersebut, IPlant ingin mengembangkan kegiatan bercocok tanam sebagai sebuah tren berkelanjutan yang baik untuk alam dan lingkungan Indonesia. 

Ads
Laman website milik IPlant
Laman website milik IPlant

Informasi lebih lanjut mengenai iPlant dapat dilihat melalui laman website milik mereka di https://www.iplant.id/home atau melalui akun Instagram pada tautan berikut ini https://www.instagram.com/iplant.id/?hl=id 

 

Sampah Plastik dan Ancaman Abrasi

IPlant menyadari bahwa tren menanam yang mereka inisiasi perlu ditransformasi menjadi gerakan yang lebih besar agar memberikan manfaat langsung bagi bumi. Perlu ada aksi nyata untuk menanam di alam sungguhan dan bukan pekarangan untuk mencegah berbagai ancaman bencana yang mungkin terjadi. Kekhawatiran terbesar dari IPlant saat ini adalah keberadaan sampah plastik serta ancaman abrasi pada garis pesisir Indonesia. Untuk itu, IPlant melakukan kolaborasi bersama LindungiHutan dengan melakukan kampanye alam penanaman pohon mangrove. Hal ini diharapkan dapat mengurangi pengikisan garis pantai serta mencegah sampah-sampah plastik dari laut menghiasi tanah pesisir kita.

Permasalahan sampah plastik di Indonesia merupakan sebuah masalah serius. Indonesia sejauh ini menempati urutan terbesar kedua di dunia sebagai negara dengan jumlah pencemaran sampah plastik di laut. Menurut data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia menghasilkan 64 juta ton sampah plastik per tahunnya. Sampah-sampah tersebut sebagian besar berakhir di tempat pembuangan akhir, sebagian kecil yang terpilah didaur ulang, dan 3,2 juta ton dari jumlah tersebut berakhir menjadi sampah di lautan Indonesia (Indonesia.go.id, 2019). Laut yang tercemar oleh sampah plastik tentu bukan laut yang sehat bagi makhluk hidup. Biota laut akan terkontaminasi micro dan macro plastic karena salah mengira sampah sebagai makanan mereka. Ketika hal ini terjadi, manusia juga akan terkena imbas yang sama besar karena ikan-ikan juga akan terkontaminasi plastik-plastik yang sama. Sehingga, makanan yang seharusnya kaya akan manfaat pada akhirnya malah menjadi racun bagi tubuh kita.

Pembersihan sampah plastik di pantai © Ocean Cleanup Group on Unsplash
Pembersihan sampah plastik di pantai © Ocean Cleanup Group on Unsplash

Sampah plastik yang berkelana di laut tidak jarang berlabuh pada garis-garis pantai yang ia temui. Mereka yang terbawa arus akan berdiam diri di pantai tanpa tahu apa yang akan terjadi. Sampah-sampah plastik yang terdampar akan mengotori pantai dan memberikan pemandangan yang kurang sedap di mata. Pantai yang kotor dan penuh sampah bukanlah sebuah ekosistem yang bagus, ia tidak disukai oleh fauna dan juga manusia. Keberadaan sampah yang menggunung di garis pantai dapat berakibat pada hilangnya biodiversitas hingga hilangnya potensi wisata. Keduanya bukan sebuah kabar yang baik bagi siapapun yang mendengar.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Permasalahan lainnya yang juga mengkhawatirkan dari wilayah pesisir Indonesia adalah masalah pengikisan garis pantai oleh gelombang laut atau dikenal dengan abrasi. Indonesia merupakan negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, meski begitu ketika tidak dijaga dengan baik garis pantai Indonesia sangat rentan hilang karena pengikisan. Abrasi yang terjadi mengakibatkan area pantai menyusut drastis. Selain itu, abrasi juga mengakibatkan penurunan tanah serta penurunan fungsi lahan dari tahun ke tahun. Hilangnya area pantai ini mengancam kelangsungan masyarakat yang hidup di daerah pesisir dengan potensi rob serta hilangnya tempat tinggal. Ketika hal ini terjadi, masyarakat akan terdampak pada berbagai aspek mulai dari ekonomi, sosial, dan lingkungan karena kegiatan-kegiatan sosial masyarakat otomatis terhenti (Rimba Kita, n.d.).

Pantai Berigheen © LindungiHutan
Pantai Berigheen © LindungiHutan

Data pada tahun 2017 menunjukkan bahwa Indonesia telah kehilangan 30.000 hektar tanah akibat kenaikan air laut dan abrasi. Berdasarkan data Kemaritiman, terdapat 10 daerah dengan dampak abrasi terparah yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, Jawa Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Aceh, Banten, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Bangka Belitung (Kumparan News, 2017). Angka serta daerah terdampak dari tahun ke tahun terus meningkat, ini menunjukkan bahwa masalah abrasi merupakan ancaman yang serius dan tidak boleh dianggap remeh. Terdapat banyak penyebab dari abrasi di Indonesia, namun beberapa yang paling mengkhawatirkan disebabkan oleh ulah manusia. Di antaranya adalah pengambilan air tanah berlebihan untuk kegiatan sosio-ekonomi yang menyebabkan penurunan tanah, penambangan pasir pantai, juga kerusakan hutan mangrove yang seharusnya memecah gelombang air laut. 

Kerusakan alam akibat keberadaan sampah plastik dan abrasi ini sulit untuk sepenuhnya di atasi, namun tetap perlu ada usaha yang dilakukan untuk paling tidak meminimalisasi. Salah satu caranya adalah dengan mulai merawat kembali hutan-hutan mangrove serta memulai reboisasi di garis pantai yang lama tidak diberi perhatian. Pohon mangrove dikenal sebagai memiliki akar yang kuat dalam menahan gelombang air laut serta kokoh sehingga dapat menggenggam tanah tempatnya tumbuh dengan erat. Mengembalikan keberadaan hutan mangrove juga dapat mengembalikan ekosistem dan biodiversitas yang hilang karena masalah polusi limbah. 

Satu Anggrek, Satu Pohon untuk Bumi

Kampanye IPlant
Kampanye IPlant

Kampanye “Satu Anggrek, Satu Pohon untuk Bumi” merupakan sebuah bukti nyata dari IPlant dalam meminimalisasi kerusakan alam di masa depan. Setiap satu bunga anggrek yang terjual dari toko mereka, IPlant akan menyumbangkan satu pohon untuk Pantai Berigheen, Desa Peleyen, Kabupaten Situbondo. Pantai Berigheen merupakan tempat yang indah dengan pasir putih yang membentang sepanjang 3 km. Ditambah dengan latar belakang Gunung Agung, Pantai Berigheen merupakan tempat yang asik untuk dikunjungi oleh siapa saja. Sayangnya, kondisi Pantai Berigheen semakin hari semakin memburuk. Dalam 2 tahun terakhir, abrasi telah mengikis garis pantai sebanyak 5-10 m. Belum lagi masalah sampah plastik yang berserak di berbagai sudut pantai membuat kondisi Pantai Berigheen terlihat semakin menyedihkan. 

Per tanggal 20 Desember 2020, IPlant telah mengumpulkan sebanyak 245 pohon dari hasil penjualan produk anggrek selama 4 bulan ke belakang. Dari jumlah tersebut terdapat juga beberapa donasi langsung dari pelanggan IPlant yang turut peduli pada permasalahan di Pantai Berigheen. Tidak berhenti di sana, IPlant masih melanjutkan kampanye ini hingga Februari 2021 mendatang untuk memberikan dampak yang lebih besar. 

Kolaborasi antara IPlant dan LindungiHutan melalui kampanye alam ini merupakan sebuah langkah kecil yang dibuat untuk perlahan-lahan mengembalikan hijaunya pantai. Diharapkan melalui gerakan ini ekosistem dan keseimbangan alam dapat segera pulih dari keterpurukan. Ke depannya, IPlant bersama LindungiHutan akan terus bekerja sama untuk memastikan keadaan alam akan terus bergerak ke arah yang lebih baik. 

 

Penulis: Auni Azizah 

 

Referensi Literatur

Indonesia.go.id. (2019, July 31). Menenggelamkan Pembuang Sampah Plastik di Laut. Indonesia.go.id. Retrieved January 22, 2021, from https://www.indonesia.go.id/narasi/indonesia-dalam-angka/sosial/menenggelamkan-pembuang-sampah-plastik-di-laut#:~:text=Indonesia%20memiliki%20populasi%20pesisir%20sebesar,plastik%20tersebut%20diduga%20mencemari%20lautan.&text=Padahal%20jumlah%20penduduk%20

Kumparan News. (2017, November 21). Indonesia Kehilangan 30.000 Hektar Tanah karena Abrasi. kumparan.com. Retrieved January 22, 2021, from https://kumparan.com/kumparannews/indonesia-kehilangan-30-000-hektar-tanah-karena-abrasi

Rimba Kita. (n.d.). Abrasi – Pengertian, Penyebab, Proses Dampak & Pencegahan. rimbakita.com. Retrieved January 22, 2021, from https://rimbakita.com/abrasi/#:~:text=Menurut%20UU%20No.24%20tahun,keseimbangan%20alam%20di%20daerah%20tersebut.

 

Referensi Gambar

https://unsplash.com/@oceancleanupgroup?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditCopyText

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!