Scorpion Fly, si Lalat Mirip Kalajengking!

Gambar 1. Lalat Kalajengking © The Wildlife Trusts
Gambar 1. Lalat Kalajengking © The Wildlife Trusts

Mengenal Lalat Kalajengking

Apakah kalian tahu bahwa ada serangga yang memiliki bentuk tubuh layaknya gabungan antara lalat dan kalajengking? Ya… serangga unik dan menarik tersebut benar-benar ada di muka bumi ini. Scorpionfly, atau lalat kalajengking, adalah hewan yang memiliki sayap seperti lalat, namun juga memiliki bagian “ekor” layaknya kalajengking. Selain keunikan pada ekornya, serangga ini juga memiliki keunikan pada mulutnya yang berbentuk seperti paruh. 

Ads

Lalat Kalajengking adalah serangga yang terklasifikasi dalam ordo Mecoptera, ordo yang telah ada di muka bumi ini sejak 250 juta tahun lalu. Diperkirakan ada sekitar 550 spesies serangga yang dikategorikan sebagai lalat kalajengking. Meski memiliki kemiripan bentuk tubuh dengan kalajengking, namun nyatanya serangga ini tidak memiliki hubungan kekerabatan apapun dengan hewan yang terkenal dengan sengatan ekornya yang berbahaya tersebut. Selain itu, serangga ini ternyata berkerabat lebih dekat dengan ordo Siphonaptera, yaitu ordo untuk kutu, meskipun serangga ini disebut sebagai lalat.

Karakteristik dan Keunikan Lalat Kalajengking

Gambar 2. Perkawinan Lalat Kalajengking © TOP BEST
Gambar 2. Perkawinan Lalat Kalajengking © TOP BEST

Pada umumnya, lalat kalajengking memiliki corak tubuh yang berwarna hitam kekuningan serta corak kepala berwarna kemerahan. Selain itu, sebagian besar spesies serangga ini memiliki bentuk tubuh yang memanjang, sepasang sayap yang panjang dan menyempit, serta sepasang mata besar yang terletak di sisi kepala. Serangga ini dapat tumbuh hingga sekitar 30 mm dengan rentang sayap yang mencapai 35 mm. Bentuk tubuhnya diyakini merupakan bentuk semula dari kupu-kupu dan ngengat sebelum berevolusi. 

Lalat kalajengking memiliki mulut yang berbentuk seperti paruh. Sebagai serangga omnivora, bentuk mulut ini berguna untuk mengunyah makanan tumbuhan ataupun serangga yang lebih kecil. Seringkali, serangga ini juga mengkonsumsi tumbuhan yang telah membusuk atau serangga yang telah sekarat atau mati. Bahkan, beberapa ahli juga menemukan fakta bahwa serangga ini juga dapat memakan jasad manusia.

Meski terlihat mirip dengan ekor kalajengking, namun fungsi ekor dari lalat kalajengking ternyata memiliki fungsi yang berbeda. Jika kalajengking menggunakan ekornya sebagai alat pertahanan diri, serangga ini menggunakan ekornya untuk fungsi perkembang biakan. Bentuk ekor yang unik dari serangga ini hanya dimiliki oleh pejantan. Saat melakukan perkawinan, para pejantan akan menggunakan ujung ekornya untuk menangkap ujung ekor betina. Selain berfungsi sebagai alat reproduksi, ujung ekor pejantan serangga ini juga berfungsi menghasilkan zat berbau yang dapat memikat para betina.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Aktivitas kawin dari lalat kalajengking juga cukup unik. Biasanya, serangga ini akan melakukan perkawinan pada malam hari. Namun, para pejantan harus menantang nyawa untuk bisa melakukan perkawinan karena para pejantan berpeluang untuk dibunuh oleh betina yang ukurannya lebih besar. Oleh karena itu, para pejantan memerlukan trik khusus untuk bisa merayu para betina, yaitu dengan menggunakan bangkai serangga. Para pejantan akan menyerahkan bangkai serangga untuk sibuk disantap oleh para betina. Momen tersebut lah yang menjadi momen penting bagi para pejantan untuk bisa mengawini para betina.

Jika perkawinan berhasil dilakukan, maka para betina akan mencari tanah yang lembab untuk menetaskan telur. Telur-telur tersebut nantinya akan menghasilkan larva yang berbentuk seperti ulat kupu-kupu namun memiliki 3 pasang kaki di bagian depan tubuh. Untuk pertumbuhan, para larva akan memakan bangkai serangga yang tergeletak di permukaan tanah.

Durasi hidup larva lalat kalajengking bergantung pada iklim dan musim saat serangga tersebut hidup. Jika larva hidup dalam cuaca yang bersahabat, maka larva dapat mencapai pertumbuhan yang mumpuni dalam waktu satu bulan. Jika sudah mencapai tahap yang mumpuni, larva akan kembali bersembunyi ke dalam tanah untuk melakukan proses metamorfosis. Pada proses ini, larva akan berhenti mencari makanan dan mengubah diri menjadi kepompong sebelum akhirnya mampu berubah menjadi seekor lalat kalajengking dewasa. Proses metamorfosis ini umumnya memakan waktu hanya 5 minggu pada musim panas, namun durasi tersebut bisa diperpanjang hingga 7 bulan jika memasuki musim dingin.

Habitat dan Persebaran Lalat Kalajengking

Gambar 3. Leptopanorpa jacobsoni © Ji-Shen Wang
Gambar 3. Leptopanorpa jacobsoni © Ji-Shen Wang

Sebagai serangga yang tergolong dalam ordo Mecoptera, lalat kalajengking umumnya menghuni habitat yang lembab, seperti hutan, daerah bersalju, atau gua, meskipun beberapa spesies juga ditemukan dapat menghuni habitat semi-gurun. Serangga ini umumnya dapat kita temukan menghinggapi daun pepohonan yang lebar di area dalam atau luar hutan. Selain itu, serangga ini juga memiliki kemampuan untuk hidup pada dataran berketinggian di bawah 1500 m atau di atas 3000 m.

Hingga hari ini, lalat kalajengking telah berhasil ditemukan di kebanyakan benua di seluruh dunia, yaitu Benua Amerika, Benua Afrika, Benua Eropa, Benua Australia, dan Benua Asia. Di Benua Asia, Indonesia menjadi salah satu negara dengan spesies lalat kalajengking terbanyak yang berhasil teridentifikasi. Beberapa dari spesies tersebut adalah:

  1. Neopanorpa umbonata, ditemukan di Pulau Sumatra.
  2. Neopanorpa spicata, ditemukan di Pulau Kalimantan.
  3. Neopanorpa mulleri, ditemukan di Pulau Jawa.
  4. Neopanorpa angustiapicula, ditemukan di Pulau Jawa.
  5. Leptopanorpa charpentieri, ditemukan di Pulau Jawa dan Sumatra.
  6. Leptopanorpa jacobsoni, ditemukan di Pulau Jawa.
  7. Leptopanorpa javanica, ditemukan di Pulau Jawa.
  8. Leptopanorpa robusta, ditemukan di Pulau Jawa.

Sebagai serangga yang hidup di daerah lembab, segala macam tindakan kita yang dapat mengubah tingkat kelembaban habitat, seperti deforestasi, akan sangat mempengaruhi keberadaan serangga ini. Sebagai serangga penerbang yang lemah, deforestasi juga akan mempersulit serangga ini untuk melakukan perkembangbiakan. Oleh karena itu, keberlangsungan populasi serangga ini juga akan sangat mungkin untuk menurun jika habitat yang dihuni juga semakin menipis.

 

Penulis: Aditya Gilang Rumpaka

 

Referensi Literatur

The Wildlife Trusts. (n.d.). Scorpion fly. The Wildlife Trusts. Retrieved February 23, 2021, from https://www.wildlifetrusts.org/wildlife-explorer/invertebrates/other-insects/scorpion-fly

Byers, G. W. (2009). Mecoptera. Encyclopedia of Insects, 611–614. doi:10.1016/b978-0-12-374144-8.00170-3

Dunford J. C., Somma L. A. (2008). Scorpionflies (Mecoptera). In Heppner, J. B., Richman, D. B., Naranjo, S. E., Habeck, D., Asaro, C., Boevé, J.-L., … Cave, R. D., Encyclopedia of Entomology, (pp. 3304-3310). doi:10.1007/978-1-4020-6359-6_4077

Penny, N. D., Byers, G. W. (1979). A Check-List of the Mecoptera of the World. Acta Amazonica, 9(2), 365-388. doi:10.1590/1809-43921979092365

UK Safari. (n.d.). Scorpion Flies. UK Safari. Retrieved February 23, 2021, from https://www.uksafari.com/scorpionfly.htm

 

Referensi Gambar

Lalat Kalajengking. Gambar diambil dari https://www.wildlifetrusts.org/wildlife-explorer/invertebrates/other-insects/scorpion-fly

Perkawinan Lalat Kalajengking. Gambar diambil dari https://topbest.ph/blogs/scorpion-fly-product-nightmaresnot/

Leptopanorpa jacobsoni. Gambar diambil dari https://www.flickr.com/photos/[email protected]/35640533592

Lindungihutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya yang dapat merugikan pihak. 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!