Tanaman Sambiloto, Tanaman Pahit Berjuta Manfaat

Sejak dulu, masyarakat Indonesia sudah menggunakan obat tradisional untuk mengobati luka akibat goresan, gigitan hewan, dan diare. Obat tradisional adalah warisan dari nenek moyang yang masih digunakan secara turun-menurun. Melalui proses pengolahan yang lebih modern dan adanya proses standarisasi, bentuk dan tampilan obat tradisional terus berkembang dan masih banyak digunakan hingga saat ini. Salah satunya adalah manfaat tanaman sambiloto untuk obat tradisional.

Ads

Parwata dalam Diktat Obat Tradisional (2016) menjelaskan perkembangan obat tradisional yang awalnya berupa racikan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Inilah yang selanjutnya disebut obat herbal, yaitu mencakup jamu, obat herbal terstandarisasi dan fitofarmaka. Obat tradisional yang dibuat dari tanaman herbal biasanya memiliki efek samping yang lebih kecil dan harga terjangkau.

Menurut UU Kesehatan RI No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dan Sediaan Farmasi, obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Jadi, bisa dikatakan nenek moyang kita meracik dan mencari tahu sendiri bahan dan kegunaan tanaman herbal tertentu. Pengalaman yang mereka miliki akhirnya dilanjutkan oleh generasi berikutnya, yang mana terus disempurnakan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.

Tanaman herbal yang menarik untuk dibahas adalah sambiloto tersebut. Mendapat julukan King of Bitter karena rasanya yang pahit, tanaman yang bernama latin Andrographis paniculata ini sering digunakan untuk obat anti radang, pereda demam, dan penawar racun (Sitorus & Azzahra, 2017). Penasaran sama tanaman herbal yang satu ini? Simak yuk!

Morfologi

Tanaman sambiloto dapat tumbuh tegak setinggi 0.5-1 meter dan memiliki percabangan yang unik. Batangnya tumbuh dengan cabang yang terletak berlawanan, berbentuk segi empat dan tidak berambut. Batangnya memiliki ciri yang berbeda tergantung umur tanamannya. Batang muda memiliki ciri bersiku empat, sedangkan batang tua justru berkayu dengan empat pangkal  yang membulat, dan percabangan monopodial (bercabang banyak)  berwarna hijau. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Daun sambiloto berjumlah tunggal, berbentuk bulat, bersilangan dan berhadapan dengan ujung dan pangkal daun yang runcing. Helai daun sambiloto bertepi rata dan menyirip, panjangnya mencapai 3-5 cm dengan lebar 0.5-1.5 cm, daunnya berwarna hijau tua di bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah. Daun sambiloto ada yang berbentuk daun lanset, ujung dan pangkalnya tajam walaupun tepi daunnya rata. Bentuk daun lanset berciri melebar ke arah pangkal daun dan ujung daun yang runcing, serta panjang helai daun lebih panjang dari lebar daun. Ukuran daun dan pangkal daun sambiloto bervariasi. Panjang daun bisa mencapai 3-12 cm dengan lebar 1-3 cm, sedangkan tangkai daun berukuran 5-25 mm. Daun bagian atas berbentuk seperti payung atau daun pelindung.

Manfaat Sambiloto
Gambar 2. Bunga dan Buah Sambiloto

Sambiloto memiliki bunga majemuk, berukuran kecil, berwarna putih dengan garis ungu, dan hanya ada satu bunga yang tumbuh di di ketiak dan di ujung rangka. Kelopak bunga berbentuk lanset (memanjang), terbagi lima, dan pangkal daunnya terletak berdekatan. Setiap satu bunga, terdapat dua bulir benang sari berbentuk bulat panjang dan kepala putik berwarna ungu kecokelatan. Buahnya berbentuk kotak, tegak, mirip dengan bentuk silinder, dan bulat panjang. Bagian ujung buahnya runcing dan bagian tengahnya beralur. Buah sambiloto berwarna hijau jika belum matang dan akan berubah hitam setelah matang. Terdapat 3-4 biji di dalam buah yang matang, biji buah yang jatuh ke tanah bisa tumbuh menjadi tanaman baru. Sambiloto termasuk dalam tumbuhan berkelompok karena dapat bereproduksi dengan biji yang jatuh ke tanah, dekat tumbuhan induknya. (Barbour et all., 1987 dalam Sulistijo & Pujiasmanto, 2007)

Semua bagian tanaman Sambiloto bisa dimanfaatkan sebagai obat. Akar, batang, daun, dan bunganya bisa diolah dan memiliki rasa yang pahit. Obat yang dibuat dari sambiloto dibuat dengan cara dimakan langsung atau direbus untuk diminum. Karena rasanya pahit, kita bisa mencampurkannya dengan bahan yang lain seperti madu. Pada awalnya, rasa pahit yang dimiliki sambiloto berasal dari kandungan senyawa andrographolide yang banyak terkandung pada bagian daun dan batangnya. Setelah diteliti lebih lanjut, sambiloto juga mengandung senyawa kalmegin yang memberikan rasa pahit pada tanaman ini. (Ratnani dkk., 2012).

 

Habitat Tanaman Sambiloto

Gambar 3. Andrographis paniculata

Usut punya usut, sambiloto tidak berasal dari Indonesia, lho. Dilansir dari Greeners.co,  tanaman ini diduga berasal dari India. Ratnani dkk., (2012) menambahkan sambiloto juga merupakan tanaman asli Negeri Cina. Walaupun tak ada keterangan waktu yang bisa dipastikan, sambiloto kemudian menyebar ke wilayah Benua Asia hingga sampai ke Indonesia. Di Asia, sambiloto sudah banyak digunakan sebagai obat selama beberapa abad. Masih mengutip dari laman Greeners.co, data spesimen yang dirilis Herbarium Bogoriense menyebutkan sambiloto diketahui telah ada di Indonesia sejak tahun 1983. Sejak saat itu, sambiloto bisa dengan mudah ditemukan di Indonesia sebagai tanaman liar ataupun tanaman yang dibudidayakan.

Karena termasuk tanaman yang mudah tumbuh di mana saja, sambiloto bisa ditemukan di pinggir jalan, sungai atau saluran air, semak belukar, bahkan dapat tumbuh di bawah pohon besar seperti pohon jati dan bambu. Tanaman ini dapat tumbuh pada semua jenis tanah dengan kandungan humus yang tinggi. Idealnya, sambiloto dapat tumbuh di daerah latosol dan andosol di dataran rendah 700 mdpl hingga 1.500 mdpl, dengan curah hujan 2.000-3.000 mm per tahun, suhu 25 hingga 35 derajat Celcius dan kelembaban sedang sekitar 70-90 persen. Sambiloto termasuk tumbuhan dengan populasi yang tinggi dan mengandung banyak manfaat dalam bidang kesehatan.

Manfaat Tanaman Sambiloto

Sambiloto telah dikenal sebagai tanaman herbal yang dapat mengobati berbagai penyakit. Setiap daerah yang mengenal sambiloto memiliki tradisi dan racikan yang berbeda dalam mengatasi keluhan dan penyakit tertentu. Di Indonesia, sambiloto digunakan sebagai obat anti radang, anti piretik, dan penawar racun. Rahayu dalam Jurnal Warta Tumbuhan Obat Indonesia menyebutkan manfaat Sambiloto sebagai obat luar dan obat dalam minuman. Sambiloto sebagai obat luar dibuat dengan cara menumbuk/mengunyah daunnya. Daun yang sudah hancur dapat langsung ditempelkan pada bagian yang sakit. Manfaat Sambiloto lainnya juga bisa diolah sebagai minuman pengganti teh dengan cara merebus dan menyeduh daunnya. Minuman sambiloto dapat mengobati malaria, disentri, mencret, dan kencing manis. Pengolahan sambiloto harus disesuaikan dengan jenis penyakitnya, ya. Gunakan hasil tumbukan sebagai obat pemakaian luar dan minuman herbal sebagai obat pemakaian dalam.

Hal yang berbeda terjadi di India. Di India, akar dan daun sambiloto dimanfaatkan untuk mengobati luka akibat gigitan ular dan serangga. Tak hanya itu saja, manfaat Sambiloto ini telah diketahui dengan baik oleh masyarakat Cina. Mereka meracik sambiloto menjadi obat anti inflamasi, anti piretik, influenza, disentri, infeksi saluran kencing, dan radang paru-paru (Sitorus & Azzahra, 2017). Karena kepopulerannya, sambiloto menarik banyak peneliti untuk mencari tahu khasiat lain tanaman ini.

Ternyata kandungan andrografolida dalam sambiloto berperan sebagai imunomodulator yang dapat meningkatkan kerja sistem imun. Dapat dikatakan bahwa sambiloto membantu sistem pertahanan tubuh bekerja dan berfungsi secara optimal. Kandungan andrografolid dapat meningkatkan kinerja sel darah putih untuk menyerang bakteri dan antigen lain yang masuk dalam tubuh. Menariknya lagi, obat yang dibuat dari sambiloto tidak menimbulkan efek samping yang serius dan aman digunakan sebagai obat tradisional (Priyani, 2020).

 

Penulis: Mutiara Misksalma

Dikurasi Oleh: Daning Krisdianti

 

 

 

Referensi Literatur

Megumi, Sarah. R. (18 Februari 2019). Sambiloto, Herba yang Pahit Rasanya tapi Manis Manfaatnya. Diakses pada 19 Februari 2021, dari laman https://www.greeners.co/flora-fauna/sambiloto-herba-yang-pahit-rasanya-tapi-manis-manfaatnya/

N.N. (n.d). Sambiloto, Tanaman Herbal Pahit Kaya Manfaat – Taksonomi, Ciri & Budidaya. Diakses pada 19 Februari 2021, dari laman https://rimbakita.com/sambiloto/

Parwata, I. M. O. A. 2016. Diktat Obat Tradisional. Bali: Universitas Udayana.

Priyani, R. 2020. Review: Manfaat Tanaman Sambiloto (Andrographis paniculata Ness) terhadap Sistem Imun Tubuh. Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan. 7(3): 484-490.

Ratnani, R. D., dkk. 2012. Potensi Produksi Andrographolide dari Sambiloto (Andrographis Paniculata Nees) Melalui Proses Ekstraksi Hidrotropi. Momentum. 8(1): 6-10.

Sitorus, M, R., & Azzahra, S.F. 2017. Analisis Fitokimia Bagian Daun Sambiloto (Andrographis paniculata). Jakarta: Universitas Kristen Indonesia.

Sulistijo, T.D., & Pujiasmanto, B. 2007. Identifikasi Sambiloto (Andrographis paniculata Ness) Sebagai Dasar Pemanfaatan dan Pelestarian Plasma Nutfah. Biodiversitas. 8(3): 218-222.

 

Referensi Gambar

[1] N.N. (11 Agustus  2020). Andrographis paniculata: An effective natural immune modulator. Diakses pada 19 Februari 2020, dari laman https://www.nutraceuticalbusinessreview.com/news/article_page/Andrographis_paniculata_An_effective_natural_immune_modulator/168831

[2] Megumi, Sarah. R. (18 Februari 2019). Sambiloto, Herba yang Pahit Rasanya tapi Manis Manfaatnya. Diakses pada 19 Februari 2021, dari laman https://www.greeners.co/flora-fauna/sambiloto-herba-yang-pahit-rasanya-tapi-manis-manfaatnya/

[3] Sambiloto. (1 Mei 2020). Di Wikipedia, Ensiklopedia Bebas. Diakses pada 19 Februari 2021, dari laman https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sambiloto&oldid=16885627  https://id.wikipedia.org/wiki/Sambiloto

 

 

Lindungihutan.com merupakan Platfrom Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya yang dapat merugikan pihak!

 

 Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!