Selayang Pandang Tanaman Indigofera

Gambar 1. Tanaman Indigofera
Gambar 1. Tanaman Indigofera

Pengertian Tanaman Indigofera

Tanaman Indigofera atau yang juga dikenal dengan sebutan nila atau tarum, merupakan tanaman yang termasuk ke dalam suku polong-polongan atau Fabaceae. Tanaman ini memiliki tinggi mencapai 1 m, dengan bunga yang panjangnya sekitar 5 mm dan berpolong bengkok berisi 7-12 biji. Umumnya tanaman ini digunakan sebagai pewarna alami untuk kain. Tanaman ini memiliki bunga berwarna keunguan dan berdaun kecil. Daun dan rantingnya dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami yang menghasilkan warna nila, serta banyak digunakan sebagai pakan ternak dan masih dikembangkan hingga kini.

Ads

Indigofera diperkirakan sudah muncul di Indonesia sekitar abad ke-19 dan menjadi salah satu tanaman terpenting yang dibudidayakan pada masa Tanam Paksa (Cultuurstelsel) di Hindia Belanda sejak tahun 1830 hingga tahun 1870. Perkebunan tanaman Indigofera pertama yang terdapat di Indonesia adalah perkebunan Indigofera yang terdapat di Wonogiri, Jawa Tengah, yang penanamannya dimulai tepat setelah sistem Tanam Paksa diberlakukan di Hindia Belanda yakni sekitar tahun 1830. Sebelum banyak digunakan sebagai bahan pewarna alami, tanaman ini hanya dianggap oleh masyarakat setempat sebagai tanaman peneduh kopi dan berguna dalam membantu proses penyuburan tanaman kopi.

Jenis-jenis Tanaman Indigofera

Tanaman ini mempunyai jenis yang sangat banyak dan tersebar di berbagai belahan dunia. Dilansir dari berbagai sumber, tanaman ini mempunyai beragam jenis hingga mencapai 780 jenis di dunia. Di Indonesia, jenis Indigofera yang paling banyak ditemui adalah Indigofera spicata, Indigofera astragalina, Indigofera suffruticosa, Indigofera tinctoria, Indigofera longiracemosa, Indigofera natalensis, Indigofera arrecta, Indigofera zollingeriana, dan Indigofera australis. Secara morfologi, tanaman Indigofera yang bisa menghasilkan warna nila yang bagus memiliki ciri-ciri yaitu permukaan atas maupun bawah daun kering berwarna keabu-abuan hingga abu-abu gelap. Tanaman ini umum digunakan sebagai bahan pewarna alami adalah  jenis Indigofera tinctoria, Indigofera suffruticosa, Indigofera arrecta, dan Indigofera longeracemosa, sedangkan jenis yang lain lebih sering digunakan sebagai pakan ternak dan obat-obatan.

Manfaat Tanaman Indigofera

Tanaman ini juga memiliki beragam manfaat, antara lain:

Bahan Pewarna Alami

Tanaman ini banyak digunakan oleh masyarakat di Indonesia sebagai bahan pewarna alami. Warna biru khas yang dihasilkan oleh tanaman ini berasal dari senyawa glukosida yang juga disebut sebagai indikan dan mengandung indikan dalam jumlah tinggi. Indigofera banyak dipakai sebagai bahan pewarna alami karena selain ramah lingkungan, tanaman ini juga menghasilkan warna yang sangat kuat dan tahan lama. Misalnya di Cirebon, Yogyakarta, dan Semarang, para pengrajin batik banyak menggunakan Indigofera sebagai bahan pewarna alami untuk memberi warna nila yang khas pada batik yang mereka produksi. Motif batik dengan warna nila sudah dituangkan pada kain batik dengan berbagai motif, seperti motif parang, motif truntum, motif sidomukti, dan beberapa jenis motif batik kuno lainnya. Hingga kini, batik dengan warna nila ini terus dikembangkan untuk motif-motif batik kontemporer.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com
Gambar 2. Batik dengan warna nila
Gambar 2. Batik dengan warna nila

Pakan Ternak

Selain digunakan sebagai bahan pewarna alami, tanaman Indigofera juga banyak digunakan sebagai pakan ternak. Tanaman ini bagus untuk dijadikan sebagai pakan ternak karena kandungan proteinnya yang begitu banyak sehingga ideal untuk kebutuhan ternak. Selain itu, kandungan mineral yang terdapat dalam tanaman ini juga cukup banyak serta memiliki kandungan tanin yang rendah, jauh di bawah taraf yang dapat menimbulkan sifat anti nutrisi. Sejauh ini, tanaman hijau ini juga banyak disukai hewan-hewan ternak. Pakan ternak dari tanaman ini terbilang cukup murah, berkualitas tinggi, efisien dan sangat produktif untuk hewan-hewan ternak. Hal ini disebabkan karena daun yang dihasilkan cukup lebat, sehingga setiap satu hektar Indigofera mampu memenuhi pakan ternak untuk 10 ekor sapi, sedangkan biasanya satu hektar rumput biasa hanya cukup untuk satu ekor sapi. Dengan demikian, tanaman ini bisa menurunkan biaya produksi pakan dan bisa menurunkan harga daging di pasaran.

Gambar 3. Tanaman Indigofera sebagai pakan ternak
Gambar 3. Tanaman Indigofera sebagai pakan ternak

Obat-Obatan untuk Berbagai Jenis Penyakit

Tanaman Indigofera juga bermanfaat sebagai obat penyembuh alami terhadap berbagai jenis penyakit. Menurut beberapa penelitian dan studi yang dilakukan oleh para ahli, ekstrak tanaman ini dinyatakan memiliki sifat antioksidan, antibakteri, serta anti kanker. Beberapa jenis tanaman Indigofera dapat digunakan sebagai obat dan berkhasiat, seperti contohnya Indigofera arrecta bisa digunakan sebagai obat untuk penyakit tukak lambung. Selain itu, tanaman ini juga bisa digunakan untuk perawatan rambut karena memiliki sifat termogenik dan tonik yang bermanfaat untuk memicu pertumbuhan rambut dan mencegah infeksi kulit kepala. Tanaman ini juga bermanfaat dalam membantu sistem pencernaan dan pernapasan, mengurangi peradangan sendi, mengatasi kerusakan ginjal, dan melindungi hati dari kerusakan. Meski begitu, kita tetap disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum mengonsumsi Indigofera sebagai obat, untuk mendapatkan efek samping yang aman dan dosis yang tepat.

 

Budidaya Tanaman Indigofera

Seperti halnya tanaman-tanaman lain, tanaman ini juga banyak dibudidayakan di Indonesia. Tanaman ini mudah dibudidayakan di berbagai jenis tanah, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi hingga kisaran 1800 m di atas permukaan laut. Tanaman Indigofera tahan terhadap kekeringan dan mudah menghasilkan benih sehingga dapat dihasilkan dalam jumlah banyak. Tanaman ini juga dapat digunakan untuk konservasi lahan karena memiliki akar tunggang yang tumbuh jauh ke dalam sehingga mampu menjaga kesuburan lahan. Masa panen tanaman ini juga relatif cepat karena tanaman ini bisa dipanen dalam waktu 4 bulan saja untuk produksi bahan pewarna alami, dan bisa panen dalam kurun waktu sekitar 40 sampai 50 hari dan bisa panen hingga sembilan kali panen per tahun untuk keperluan pakan ternak.

Proses pembudidayaan tanaman Indigofera dimulai dari pembibitan, perawatan, hingga selanjutnya mencapai proses pemanenan. Pertama, bibit  yang sudah tua dan direndam dengan air selama 12 jam ditanam dalam polybag terlebih dahulu dengan diisi media yang berupa tanah dan dicampurkan dengan pupuk kandang. Satu polybag dapat digunakan untuk menanam bibit hingga sebanyak 4 sampai 5 butir. Selanjutnya, penyiraman dilakukan setiap hari dengan air secukupnya dan jangan sampai ada genangan karena bisa menyebabkan tanaman cepat membusuk. Tanaman ini disarankan menggunakan pupuk organik atau pupuk kandang karena mampu mengambil nitrogen sendiri melalui udara. Setelah 2 sampai 3 bulan, tanaman bisa dipindahkan ke lahan permanen dengan dibuatkan gundukan terlebih dahulu agar tidak terkena genangan saat turun hujan.

Tanaman Indigofera sudah bisa dipanen ketika sudah berusia 3 sampai 4 bulan, tergantung kebutuhan. Pemanenan pertama bisa dilakukan dalam usia 60 hari setelah penanaman dengan cara dipangkas setinggi 1 m dari tanah, dan pemanenan selanjutnya bisa dilakukan setiap 60 hari setelah pemangkasan sebelumnya.

 

Penulis : Dhesta Alfianti 

 

Referensi Literatur

Kartodirdjo, Sartono, dan Djoko Suryo. 1991. Sejarah Perkebunan di Indonesia: Kajian Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Aditya Media

Handayani, Prima A, dan Mualimin, Amar A. “Pewarna Alami Batik dari Tanaman Nila (Indigofera) Dengan Katalis Asam”. Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol. 2 No. 1 (2013) 1-6. Semarang: Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang

Rahayuningsih, Sri, dkk. “Pengeblur Daun Indigo Penghasil Pasta Pewarna Alami Bagi UKM Pengrajin Batik di Kecamatan Gunung Pati Semarang”. Jurnal ABDIMAS Vol. 20 No. 2, Desember 2016. Semarang: Universitas Stikubank Semarang

Honestdocs Editorial Team. “Indigo: Informasi Manfaat dan Cara Kerja”. Diakses melalui https://www.honestdocs.id/indigo pada 20 Januari 2021 pukul 12.14 WIB

Nurhayati. “Mengenal Tanaman Indigofera”. Dinas Pertanian Provinsi Banten. Diakses melalui https://dispertan.bantenprov.go.id/mengenal-tanaman-indigofera pada 20 Januari 2021 pukul 12.17 WIB

Referensi Gambar

Tanaman Indigofera https://sinautani.com/manfaat-dan-cara-menanam-tanaman-indigofera/

Batik dengan warna nila https://regional.kompas.com/read/2019/12/12/15160051/tren-batik-pewarna-alami-di-cirebon-tradisi-masa-lalu-yang-selaras-dengan?page=all

Tanaman Indigofera sebagai pakan ternak https://thegorbalsla.com/tanaman-indigofera/ 

 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!