Sri Hartini, Penjaga Hutan Adat Wonosadi

Gambar 1. Sosok Sri Hartini
Gambar 1. Sosok Sri Hartini

Menjaga alam merupakan tugas kita sebagai manusia, alam yang lestari akan memberikan dampak yang baik bagi kehidupan. Sosok perempuan tangguh ini membuktikannya, tindakannya yang mulia dengan menjaga hutan memberikan keseimbangan antar makhluk hidup yang ada didalamnya. Hutan adalah warisan yang tidak boleh menjadi sekedar kenangan, Sri hartini, penjaga hutan adat wonosadi.

Ads

Melanjutkan Prinsip Sang Ayah

Sri hartini, perempuan berusia 51 tahun merupakan ketua kelompok Ngundi Lestari, sebuah kelompok inisiatif masyarakat yang menjaga hutan adat wonosadi, di Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Gunung kidul, Yogyakarta. 

Menggantikan sang ayah sebagai ketua sejak 2009. Sejak kecil dia bersama ayahnya sudah merawat hutan adat wonosadi. Hutan adat wonosadi terletak di antara dua dusun yakni Dusun Duren dan Dusun Sidorejo. Hutan sekitar 25 hektar ini merupakan warisan turun temurun, tidak heran jika hutan ini disakralkan oleh masyarakat setempat karena ada keterkaitan dengan leluhur.

Melanjutkan kepemimpinan sebagai ketua Ngundi Lestari dari sang ayah yang telah meninggal dunia. Sri hartini memegang teguh prinsip sang ayah, “Janganlah meninggalkan air mata, tetapi tinggalkanlah mata air.” Sudiyo, ayah Sri Hartini sudah menjaga Hutan Adat Wonosadi sejak tahun 60 an.

Dari cerita ayahnya, tahun 1965, Hutan Wonosadi pohonnya habis ditebang habis oleh warga setempat. Hanya tersisa empat buah pohon saja. “Tahun 1966, ayah saya bersama warga setempat kemudian menanami kembali Hutan Wonosadi yang ditebang habis. Setiap hari ayah saya menjaga tanaman yang ditanam di lereng bukit ini,” ujar Sri Hartini.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Hasil kerja keras Sudiyo dan warga lainnya pun membuahkan hasil. Hutan Wonosadi kemudian terpilih sebagai kawasan percontohan pengelolaan hutan rakyat. Bahkan Hutan Wonosadi pun pernah memenangkan penghargaan Kehati tingkat nasional. Sudiyo juga terpilih sebagai kader lingkungan hidup.

Diragukan Menjadi Ketua

Sosok nya yang seorang perempuan awalnya membuat banyak orang yang meragukannya menjadi ketua kelompok penjaga hutan. Namun hal itu tidak membuatnya patah semangat justru menjadi pembuktian bagi sri hartini bahwa dirinya mampu memimpin kelompok Ngundi Lestari.

Hal ini terbukti selama ia menjabat belum ada penebangan pohon di hutan adat wonosadi, saat ini berbagai tumbuhan mulai dari Munggur yang sudah berusia ratusan tahun hingga pohon buah-buahan masih tetap terjaga di Hutan Wonosadi. Berbagai hewan hidup pun bebas di Hutan Wonosadi mulai dari elang hingga kijang.

Sebagai seorang istri dan ibu dua anak, sri juga tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga. Untuk membantu sang suami yang merupakan pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS), Sri Hartini pernah menjadi seorang guru PAUD. Saat ini, Sri Hartini ikut menopang ekonomi keluarga dengan membuka sebuah warung kelontong kecil yang tak jauh dari Hutan Wonosadi.

Sri hartini mengatakan upahnya dari Jagawana hanya dibayar Rp 50.000, itupun diterima setiap tiga bulan sekali. Tetapi sri tidak pernah mempersoalkan itu karena baginya ini semua soal kebermanfaatan. 

Melestarikan Alam dan Budaya

Kesenian bagi masyarakat sekitar Hutan Wonosadi adalah benteng terakhir menjaga budaya mereka yang dekat dengan alam. Mereka mewarisi upacara labuh yaitu upacara mulai menanam sampai panen padi yang dikenal Mboyong Dewi Sri (membawa padi dari sawah ke rumah). Upacara lainnya yang masih dilaksanakan hingga kini disebut Bersih Dusun atau Sedekah Bumi atau Rasulan. Ritual yang paling terkenal dan berhubungan dengan eksistensi hutan Wonosadi adalah Sadranan Wonosadi. Ritual ini, biasanya dihadiri banyak orang.

Gambar 2. Kesenian Rinding Gumbeng
Gambar 2. Kesenian Rinding Gumbeng

Dalam kegiatan tersebut kerap dimainkan kesenian Rinding Gumbeng yang nilai filosofinya adalah cerminan kehidupan keseharian warga Gunung Kidul yang ulet, sederhana, serta dekat dengan alam.

Sri mengatakan musik rinding secara turun-temurun dipercaya semata dipersembahkan dan untuk menyenangkan Sang Penguasa Alam. Musik ini diyakini sebagai musik pertama yang diciptakan manusia, jauh sebelum manusia mengenal logam. Karena itu, rangkaian alat yang digunakan hanyalah bahan dari bambu.

Sri Hartini selalu berpesan kepada anak-anaknya dan generasi muda agar menjaga lingkungan. Sri juga berharap perempuan-perempuan indonesia agar tetap menjadi perempuan yang tangguh, dan menjadi insan-insan yang bermanfaat untuk orang banyak. Termasuk menjaga kelestarian lingkungan.

 

Penulis : Syauqi Ezra Ramadhan

 

Refrensi Artikel :

Edi, Purnomo. “Sri Hartini, ‘Kartini’ penjaga hutan rakyat Wonosadi Gunungkidul.” Merdeka.com. 24 April 2017. Diakses 21 April 2021, dari https://www.merdeka.com/peristiwa/sri-hartini-kartini-penjaga-hutan-rakyat-wonosadi-gunungkidul.html

Iqbal, Donny. “Sri Hartini, Saat Perempuan Ambil Bagian Jadi Pelindung Hutan Wonosadi.” Mongabay.co.id. 13 April 2021. Diakses 21 April 2021, dari https://www.mongabay.co.id/2021/04/13/sri-hartini-saat-perempuan-ambil-bagian-jadi-pelindung-hutan-wonosadi/

Yuwono, Marcus. “Kisah Sri Hartini, “Kartini” Penjaga Hutan Adat yang Pegang Teguh Pesan Ayah.” Kompas.com. 21 April 2017. Diakses 21 April 2021, dari https://regional.kompas.com/read/2017/04/21/12125721/kisah.sri.hartini.kartini.penjaga.hutan.adat.yang.pegang.teguh.pesan.ayah

 

Refrensi Gambar :

Gambar 1 https://images.solopos.com/2017/04/kartini-hutan-wonosadi.jpg

Gambar 2 https://www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2021/04/Wanasadi-10-scaled.jpg

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak!

 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!