Suksesi pada Hutan Kerangas

Selayang Pandang Hutan Kerangas

Gambar 1 Hutan Kerangas di Indonesia
Gambar 1 Hutan Kerangas di Indonesia

Hutan kerangas merupakan salah satu bentuk hutan yang biasanya terdapat pada dataran rendah. Di Indonesia, keberadaan hutan seperti ini tidak terlalu banyak ditemukan. Pulau di Indonesia yang biasanya dapat ditemukan keberadaan hutan ini terdapat di Kalimantan dan Sumatra.

Ads

Hutan kerangas secara alamiah tumbuh di atas rawa dengan jenis tanah podsol. Tanah ini merupakan bentuk tanah berpasir dengan kandungan silika tinggi yang kering, miskin hara, dan ber-pH rendah. Air hujan yang jatuh di atas tanahnya akan dengan cepat meresap ke dalam, sehingga tumbuhan mengalami kesulitan untuk mengikat air. Dengan karakteristik abiotik yang demikian, tidak banyak tumbuhan yang dapat tumbuh di hutan kerangas.

Tumbuhan yang mampu bertahan hidup di hutan kerangas biasanya tidak mengambil hara yang ada di tanah. Kantung semar sebagai salah satu tumbuhan yang tetap dapat hidup di hutan ini memenuhi kebutuhan nutrisinya melalui serangga yang hinggap padanya. Tumbuhan lain yang mampu bertahan di hutan kerangas meskipun tidak memiliki kemampuan seperti kantung semar biasanya merupakan jenis tumbuhan yang memiliki tingkat toleransi tinggi pada habitat yang ekstrim.

Tumbuhan jenis ini biasanya ditanam atau bisa muncul dengan sendirinya dengan tujuan memperbaiki sebuah ekosistem hutan. Namun, mengingat tidak semua jenis tumbuhan dapat bertahan di hutan kerangas, maka keragaman tumbuhan yang dimiliki oleh hutan ini pun relatif rendah. Proses pertumbuhan tanaman di hutan kerangas pun relatif rendah, sehingga tingkat kerapatan tumbuhan di hutan kerangas rendah.

Ukuran tumbuhan yang ditemukan di hutan keranggas umumnya pendek, berdiameter kecil, dan masih berupa semai, pancang, dan tiang. Ukuran ini merupakan bentuk adaptasi tumbuhan di hutan kerangas. Dengan ukuran seperti itu, tumbuhan dapat mengurangi aktivitas respirasinya sehingga kebutuhan tumbuhan akan air tetap dapat terpenuhi.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Penelitian yang berlangsung di Pulau Natuna menunjukkan jika vegetasi yang menempati hutan kerangas berupa pohon yang berasal dari suku Myrtaceae. Suku Myrtaceae merupakan kelompok tumbuhan yang umumnya penghasil jambu-jambuan.  Tumbuhan yang berasal dari suku Myrtaceae umumnya memiliki tingkat toleransi yang tinggi terhadap tempat tinggalnya.

Keberadaan hutan kerangas saat ini menjadi salah satu kawasan hutan lindung. Hutan kerangas biasanya hanya dimanfaatkan sebagai fungsi ekologi oleh masyarakat. Fungsi ekologi merupakan fungsi yang paling umum yang dapat diberikan ekosistem hutan. Fungsi ekologi yang dihasilkan hutan biasanya merupakan pembentukan iklim mikro pada kawasan tersebut, ketersediaan resapan air hujan, sampai penyerapan karbon dioksida.

Hutan kerangas identik dengan habitatnya yang cenderung rapuh. Hutan ini merupakan hutan yang rawan mengalami degradasi jika mengalami gangguan. Maka dari itu, masyarakat seminimal mungkin memanfaatkan hasil hutan yang dihasilkan dari hutan ini agar tidak ada kerusakan yang terjadi pada hutan kerangas. 

Meskipun begitu, hutan kerangas pada saat ini banyak dikonversi menjadi ladang untuk pertumbuhan tanaman holtikultura atau ditelantarkan begitu saja. Di beberapa wilayah, tegakan di hutan kerangas ditebang atau dibakar lalu dibiarkan begitu saja tanpa pemeliharaan lebih lanjut, sehingga lebih banyak ditumbuhi semak dan paku-pakuan. Oleh sebab itu, perlu dilakukan proses suksesi untuk dapat memperbaiki ekosistem kerangas.

Kegiatan Suksesi

Gambar 2 Hutan yang akan Mengalami Suksesi
Gambar 2 Hutan yang akan Mengalami Suksesi

Suksesi merupakan proses pulihnya hutan setelah mengalami gangguan. Proses suksesi memakan waktu yang cukup lama. Apabila dilakukan dari awal dan tanpa gangguan biasanya  50 sampai 150 tahun.

Proses suksesi pada hutan kerangas sering disebut sebagai suksesi oligotropi atau suksesi pada lahan yang tanahnya sangat miskin hara. Suksesi oligotropi selain dilakukan pada hutan kerangas, juga dilakukan pada hutan rawa gambut. Pada ekosistem hutan kerangas yang sudah terdegradasi, proses suksesi yang biasanya dilakukan adalah suksesi sekunder.

Suksesi terbagi menjadi dua macam, suksesi primer dan suksesi sekunder. Suksesi primer dilakukan pada ekosistem yang mengalami kerusakan parah seperti bekas terjadinya gunung meletus dan pertambangan. Suksesi primer juga biasa dilakukan pada ekosistem yang baru pertama kali disuksesi. Sementara suksesi sekunder biasanya dilakukan pada hutan yang pernah mengalami suksesi tetapi mengalami gangguan yang kerusakannya tidak terlalu parah seperti kebakaran.

Suksesi sekunder pada hutan ini biasanya diakibatkan oleh kebakaran hutan. Hutan kerangas sebagai ekosistem yang pernah ditumbuhi vegetasi kemudian terdegradasi tidak perlu melakukan suksesi dari awal. Hal tersebut dikarenakan kerusakan akibat degradasi yang dialami hutan kerangas tidak terlalu parah. Selain itu, masih banyak terdapat serasah dedaunan yang terdapat pada hutan tersebut.

Tahapan Kegiatan Suksesi

Gambar 3 Proses Suksesi
Gambar 3 Proses Suksesi

Proses suksesi secara umum memiliki sembilan tahapan. Tahapan tersebut dimulai sejak lahan masih berupa tanah terbuka karena terdegradasi sampai tegakan yang ada pada lahan tersebut mengalami pertumbuhan klimaks. Pertumbuhan klimaks pada lahan yang mengalami proses suksesi berarti tumbuhan yang ditanam sudah mencapai titik maksimal pertumbuhannya maupun kerapatannya.

Pada hutan yang mengalami proses suksesi, di awal suksesi memiliki banyak gangguan sehingga tumbuhan liar seperti gulma sebagai tumbuhan pionir akan mendominasi lahan tersebut. Salah satu tumbuhan pionir yang dapat hidup saat proses awal suksesi di hutan keranggas adalah tumbuhan gerunggang. Tumbuhan ini dapat bertahan hidup di tempat yang panas, cepat tumbuh, dan bisa hidup di lahan yang pernah terbakar.

Setelah tumbuhan pionir, maka proses suksesi memasuki tahap pertengahan. Pada pertengahan suksesi, tumbuhan semi toleran akan tumbuh, kemudian bersaing dengan tumbuhan gulma dalam mendapatkan cahaya dan nutrisi. Di tahap akhir, pertumbuhan gulma akan kalah dari pertumbuhan pohon yang sudah memiliki batang berdiameter besar.

Tahap akhir proses suksesi disebut sebagai tahap klimaks karena tujuan dari suksesi sudah dicapai. Dari seluruh tahapan suksesi  pasti akan terjadi beberapa perubahan pada ekosistem. Perubahan tersebut bersamaan dengan kegiatan suksesi dan akan terus berlanjut meskipun suksesi sudah memasuki tahap klimaks.

Perubahan-perubahan tersebut berupa perubahan vegetasi, iklim, dan tanah. Perubahan tersebut terjadi karena tumbuhan pionir berhasil menyuburkan tanah yang ditumbuhi. Tanah yang kualitas suburnya meningkat kemudian dapat ditanami oleh tumbuhan jenis kedua.

Tumbuhan jenis kedua ini juga mampu memperbaiki kualitas tanah dan iklim. Selain itu, tumbuhan jenis kedua juga mampu menyingkirkan tumbuhan pionir yang pertama menempati lahan tersebut. Perubahan akan terus terjadi sepanjang masa suksesi berlangsung hingga suksesi memasuki tahapan klimaks.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, proses suksesi memakan waktu yang cukup lama. Jika dibandingkan dengan umur manusia, bisa mencapai tiga generasi. Itu pun jika proses suksesi mengalami keberhasilan.

Tidak jarang di tengah-tengah proses suksesi, hutan justru mengalami gangguan seperti kebakaran hutan atau tidak konsistennya pemeliharaan. Gangguan ini akhirnya akan merembet pada semakin lamanya proses suksesi. Padahal, dengan rusaknya suatu ekosistem, artinya sama saja dengan kesiapan kita menghadapi kerusakan pada bumi.

Selain itu, tentunya pepatah mencegah lebih baik daripada mengobati juga bisa menjadi pertimbangan utama dalam menjaga hutan. Dengan melakukan pemeliharaan yang benar terhadap hutan, kita tidak akan kehilangan apapun. Sehingga, dengan menjaga ekosistem hutan sama artinya dengan menjaga keberlangsungan kehidupan bumi.

 

Penulis: Fifi Melinda Setiawati

 

Referensi Artikel:

Azizah SA, Kissinger, Nugroho Y, Fauzi H. 2020. Analisis vegetasi hutan kerangas di Arboretum Nyaru Menteng Kalimantan Tengah. Serambi Engineering. 5 (1): 861-867.

Mirmanto E. 2014. Komposisi floristic dan struktur hutan di Pulau Natuna Besar, Kepulauan Natuna. Jurnal Biologi Indonesia. 10 (2): 201-211.

Onrizal, Kusmana C, Saharjo BH, Handayani IP, Kato T. 2005. Komposisi jenis dan struktur hutan kerangas bekas kebakaran di Taman Nasional Danau Sentarum, Kalimantan Barat. Biodiversitas. 6 (4): 263-265.

Oktavia D. 2014,. Karakteristik tanah dan vegetasi di hutn kerangas dan lahan pasca tambang timah di Kabupaten Belitung Timur [Tesis]. Bogor (ID): Sekolah Pascasarjana IPB.

Wiryono, Munawar A, Suhartoyo H. 2017. Restorasi Ekosistem Hutan Pasca Penambangan Batubara. Indonesia (ID): Pertelon Media.

Referensi Gambar:

https://foresteract.com/hutan-indonesia/hutan-kerangas/

https://scele.ui.ac.id/berkas_kolaborasi/konten/mpktb_2015genap/049.pdf

https://www.solopos.com/kebakaran-hutan-musim-kemarau-bkph-waspadai-kebakaran-hutan-446943

 

LindungiHutan.com adalah Platform Crwodfounding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealamuntuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dan bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak.

 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!