Survival Tips: Cara Membedakan Jamur Beracun dan Aman Konsumsi

Gambar 1. Kenampakan Salah Satu Jenis Jamur Dari Dekat
Gambar 1. Kenampakan Salah Satu Jenis Jamur Dari Dekat

Jamur adalah salah satu flora di dunia yang dapat ditemukan secara bebas di alam terutama ketika memasuki musim hujan atau di daerah yang relatif lembab. Jamur sendiri pada dasarnya merupakan tubuh buah dari kelompok fungi (Basidiomycota) yang muncul ke permukaan. Jamur sering kali ditemukan berbentuk mirip seperti payung, dimana bagian-bagian tubuhnya terdiri atas tudung (pileus), cincin (annulus), batang (stipe), bilah (lamellae), cawan (volva), dan juga akar semu (rhizoids). Jamur sangat beragam spesiesnya, ada jamur yang bisa dikonsumsi oleh manusia dan ada juga spesies jamur yang tidak dapat dikonsumsi dikarenakan beracun. Lalu, bagaimana cara membedakan atau mengetahui spesies jamur yang aman dikonsumsi dan yang beracun? Yuk simak, agar kita mengerti perbedaannya!

Ads

Ciri-Ciri Jamur Beracun Dan Aman Konsumsi

Gambar 2. The bleeding-tooth fungus, or Hydnellum peckii
Gambar 2. The bleeding-tooth fungus, or Hydnellum peckii

Beberapa spesies atau jenis jamur memang baik untuk dikonsumsi dikarenakan enak rasanya dan kaya manfaat, misalnya sebagai obat. Jenis jamur yang aman dikonsumsi antara lain adalah jamur kuping (Auricularia polytricha), jamur merang (Volvariela colvacea), jamur tiram (Pleurotus), jamur kancing atau sering disebut champignon (Agaricus campestris), hingga jamur shitake (Lentinus edulis). Akan tetapi, terdapat juga jenis-jenis jamur yang berbahaya untuk dikonsumsi karena beracun. Berikut beberapa ciri yang dapat digunakan untuk membedakan jamur beracun dan tidak:

  1. Warna

    Jamur yang beracun cenderung memiliki warna yang mencolok seperti merah, kuning, hitam, dan juga biru. Sedangkan jamur yang aman untuk dikonsumsi manusia (dimasak atau diolah) kebanyakan memiliki warna yang tidak mencolok (putih pucat, kuning keputih-putihan, dan merah muda).

  2. Bau

    Berdasarkan baunya, jenis jamur yang beracun relatif menimbulkan bau yang menyengat seperti bau busuk ataupun bau amonia, sedangkan jamur yang aman konsumsi tidak menimbulkan bau yang menyengat hidung. Di Eropa dan juga Amerika, kebanyakan pencari jamur menggunakan babi terlatih untuk membantu mendeteksi pencarian jamur yang aman untuk dikonsumsi.

  3. Cawan

    Jamur yang beracun kebanyakan memiliki cincin atau sering disebut dengan cawan, sedangkan jamur aman konsumsi kebanyakan tidak memiliki cawan.

  4. Habitat tumbuh

    Tempat tinggal atau habitat tumbuh berkembang jamur juga menentukan kondisi jamur tersebut (beracun atau tidak). Kebanyakan jamur yang beracun tinggal di habitat yang kumuh atau kotor misalnya di tempat sampah, kandang, dekat kotoran hewan, sedangkan jamur yang aman konsumsi cenderung dijaga habitat perkembangbiakan atau pertumbuhannya.

  5. Perubahan Warna

    Tumbuhan jamur cenderung mengalami perubahan warna seiring pertumbuhan atau berjalannya waktu. Jamur yang beracun akan mengalami perubahan warna yang relatif cepat dibandingkan dengan jamur yang tidak beracun atau aman untuk dikonsumsi (misalnya berubah warna dari putih ke warna yang lebih gelap). Selain itu racun dapat juga dideteksi dengan cara mengiriskan pisau ke jamur. Jamur yang beracun akan meninggalkan jejak hitam atau biru tua pada pisau dan dapat menimbulkan efek berkarat pada pisau dikemudian hari.

Tips Memilih Jamur Untuk Dikonsumsi

Setelah mengetahui ciri-ciri dari jamur yang beracun dan tidak, berikut secara singkat tips buat kalian semua yang suka mengonsumsi jamur agar tidak salah memilih jenis jamur yang boleh diolah atau dikonsumsi:

  1. Pilih jenis jamur yang sudah diakui aman untuk dikonsumsi
  2. Jangan pernah mencoba identifikasi sendiri, hanya ahli mikologi yang mengerti apakah suatu jamur aman atau berbahaya untuk dikonsumsi
  3. Gunakan jamur yang berkualitas baik, segar, dan tidak ada bagian yang terkontaminasi ulat
  4. Hanya konsumsi jamur yang sudah matang (sudah dimasak/diolah)
  5. Jika belum pernah mengkonsumsi jamur dan ingin mencobanya, cobalah sedikit terlebih dahulu dan tunggu selama 2×24 jam untuk melihat reaksi tubuhmu (alergi atau tidak)
  6. Selalu bersihkan jamur liar yang kamu temui di halaman rumah atau sekitarmu

Jamur-Jamur yang Beracun

 

Gambar 3. Pholiota, Salah Satu Jenis Jamur Beracu
Gambar 3. Pholiota, Salah Satu Jenis Jamur Beracun

 

Terdapat beberapa jenis atau spesies jamur yang tidak aman dikonsumsi karena beracun sehingga dapat menyebabkan beberapa efek buruk bagi kesehatan manusia, antara lain:

  1. Amatoxin/Amanatin (Cyclopeptida)

    Cyclopeptida terbagi menjadi tiga kelompok toksin, yaitu amatoxin, phallotoxin, dan virotoxin. Amatoxin merupakan kelas toksin yang paling sering menyebabkan keracunan karena merupakan bicyclic octapeptides yang memiliki indole-(R)-sulphoxide dimana bekerja menghambat kinerja polimerase RNA II (sintesis mRNA terganggu). Racun dari amatoxin dapat menyebabkan nekrosis pada sel bersintesis protein tinggi, efek paling buruk dapat menyebabkan kerusakan seperti nekrosis hati. Keracunan yang disebabkan oleh amatoxin relatif tidak bergejala selama periode laten yang durasinya sekitar 6-24 jam. Ciri-ciri fase keracunan dari amatoxin dapat dikategorikan sebagai berikut:

    • Fase laten/tidak muncul gejala (durasinya dihitung selama 12-24 jam setelah tertelan atau dikonsumsi)
    • Fase gastrointestinal (durasinya antara 6-24 jam setelah tertelan atau dikonsumsi), dicirikan dengan timbulnya rasa nyeri perut, diare berair, muntah, gangguan elektrolit dan asam basa, hypovolemia, hingga menurunnya masa protrombin
    • Period of well-being (durasinya dihitung saat 24-48 jam setelah tertelan), ditandai dengan menurunnya fungsi ginjal dan fungsi hati
    • Fase hepatik (durasinya terjadi selama 3-5 hari setelah dikonsumsi atau tertelan), cirinya terjadi peningkatan LFT (Liver Function Test) sehingga menyebabkan gagal hati maupun gagal ginjal yang akut
  2. Gyromitrin

    Gyromitrin merupakan kelompok hidrazin yang mengikat protein. Toksin Gyromitrin (N-methyl-N-formylhydrazone) akan teruraikan secara cepat di lambung dan duodenum menjadi asetaldehida dan juga N-methyl-N-formylhydrazine yang akan diubah menjadi MMH (monomethylhydrazine) melalui proses hidrolisis lambat. MMH inilah yang kemudian menjadi penyebab dari keracunan pada jamur jenis Gyromitra gigas & Gyromitra fastigiata). MMH ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan bakar roket sehingga dalam beberapa kecelakaan industri menyebabkan keracunan pada pekerja industri penerbangan. Fase gejala keracunannya akan muncul setelah jamur 6-12 jam dikonsumsi, dapat dijelaskan sebagai berikut:

    • Fase laten (periode tidak munculnya gejala keracunan), dihitung hingga 48 jam setelah dikonsumsi
    • Gejala awal (dapat terjadi sekitar 2-8 jam setelah uap jamur saat dimasak terhirup atau 6-24 jam setelah dikonsumsi), gejala yang timbul antara lain muntah, mual, kembung, kram perut, hingga diare berat yang dalam beberapa kasus sampai terjadi pendarahan
    • Gejala akhir, gejala akhir dari keracunan yang timbul antara lain adalah kehilangan koordinasi otot, rasa vertigo, demam, kegagalan hati, penyakit kuning, disfungsi ginjal, methemoglobinemia, seizure, hingga dapat terjadi koma
  3. Orellanine

    Orellanine merupakan salah satu zat racun yang banyak ditemukan di kelompok genus Cortinarius yang terdiri akan sekitar 800 spesies flora atau tumbuhan. Dua diantara ratusan jenis atau spesies genus Cortinarius tersebut adalah The Lethal webcaps yaitu Cortinarius rubellus (the Deadly webcap) dan Cortinarius Orellanus (the Fool’s webcap). Keracunan akibat toksin Orellanine biasanya ditandai dengan periode laten yang relatif lama, disertai dengan gejala keracunan awal (mual dan muntah, nyeri perut, anoreksia, hingga diare) selama kurang lebih 12-14 jam setelah jamur terkonsumsi. Jenis toksin ini menyerang organ ginjal manusia, sehingga dapat menyebabkan kerusakan ginjal akibat produksi oksigen yang reaktif.

  4. Ibotenic Acid dan Muscimol

    Toksin Ibotenic dan Muscimol ditemukan pada jamur jenis Amanita muscaria (the Fly Agaric) dan Amanita pantherina (Panthercap) yang keduanya memiliki kandungan asam yang akan cepat bereaksi ketika jamur diolah (direbus ataupun dimasak). Namun, kenyataannya tidak semua racun atau toksin yang terkandung dalam jamur tersebut akan hilang akibat proses pemasakan atau perebusan tersebut. Gejala keracunan akibat toksin jenis ini biasanya akan muncul sekitar 30-180 menit setelah mengkonsumsi jamur tersebut dan efeknya akan bertahan hingga 12 jam lamanya. Keracunan Ibotenic acid dan Muscimol dapat mengakibatkan kebingungan, ataksia, euforia, hingga disfungsi sistem saraf pusat misalnya depresi SSP.

  5. Psilocybin

    Toksin Psilocybin banyak dihasilkan oleh jamur dengan genus Psilocybe, Panaeolus, Copelandia, Gymnopilus, Conocybe dan juga Pluteus. Racun utama yang terkandung di dalamnya antara lain adalah psilocybin, psilocin, norbaeocystin, dan juga baeocystin yang mampu melepaskan efek neurotoksik mirip LSD (d-lysergic acid) yang dapat mempengaruhi sistem saraf pusat dan menghasilkan efek samping seperti halusinasi dan efek terhadap saraf periferal. Gejala keracunan yang timbul dari toksin ini berlangsung dalam rentang waktu 10-120 menit, yaitu gejalanya antara lain:

    1. Rasa lemah, gelisah, sakit perut hingga nyeri otot (10-30 menit awal)
    2. Timbul halusinasi, berkeringat, wajah memerah, menurunnya koordinasi tubuh (30-60 menit awal)
    3. Akumulasi dari semua gejala yang tersebut diatas dengan intensitas yang meningkat (60-120 menit sejak terkontaminasi)
  6. Coprine

    Toksin Coprine sering dihasilkan oleh jamur dengan genus Coprinus yang akan beracun apabila dikonsumsi disaat yang bersamaan atau bergantian dengan alkohol atau etanol (tidak beracun apabila dikonsumsi terpisah). Gejala keracunan yang ditimbulkan akan terjadi selama 72 jam setelah dikonsumsi dan akan sembuh apabila coprine dan alkohol tersebut telah dikeluarkan dari dalam tubuh. Gejala tersebut antara lain adalah rasa tidak nyaman dalam tubuh mulai dari mual, pusing,  flushing, hingga hipertensi. Serta gejala fisik yang tampak seperti halnya leher dan wajah yang memerah, gatal pada tungkai, palpitasi, hingga tangan yang menjadi mati rasa.

Sudah dijelaskan bahwa mengkonsumsi jamur dengan tidak berhati-hati dapat menyebabkan banyak efek samping yang berbahaya bagi tubuh akibat keracunan. Oleh karena hal tersebut, sudah sewajarnya kita lebih berhati-hati dalam menentukan jenis jamur yang ingin kita konsumsi.

 

Penulis : Ivena Christie

Referensi Literatur

Hidayu, Masrisa. 2019. Jamur Beracun Dalam Karya Grafis. Prodi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni Rupa Fakultas Bahasa Dan Seni: Universitas Negeri Padang.

Ik.pom.go.id (n.d.). Mengenal Jamur Beracun. Retrieved on February 22, 2021, from http://ik.pom.go.id/v2016/artikel/Mengenaljamurberacun.pdf

Unsurtani.com (n.d.). Ciri-Ciri Jamur Beracun (Tidak Boleh Dikonsumsi). Retrieved on February 22, 2021, from https://unsurtani.com/2018/01/ciri-ciri-jamur-beracun-tidak-boleh-dikonsumsi

8villages.com (n.d.). Cara Membedakan Jamur Beracun dan Tidak Beracun. Retrieved on February 22, 2021, from https://8villages.com/full/petani/article/id/5cad5fe1d324d09579ad7a3a

Referensi Gambar

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

[1] https://8villages.com/full/petani/article/id/5cad5fe1d324d09579ad7a3a

[2] https://www.jeffreythompson.org/blog/2013/11/21/bleeding-tooth-fungus/ 

[3] https://mediatani.co/hindari-jamur-beracun-dengan-ciri-ciri-berikut/ 

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak! 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!