Sustainable Transportation: Solusi Menaikkan Kualitas Udara

© Suara.com
© Suara.com

Polusi udara menjadi salah satu isu lingkungan terbesar yang menyebabkan kematian 4.2 sampai 7 juta orang di seluruh dunia setiap tahun (Air pollution, n.d.). Di Indonesia sendiri, polusi udara menjadi isu lingkungan yang memerlukan perhatian, mengingat Airvisual pernah menobatkan Jakarta sebagai kota dengan udara yang paling tercemar di dunia pada tahun 2019 (Atika, 2019). Menurut pedoman World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia, kualitas udara di Indonesia tergolong cukup tidak aman (Indonesia General Health Risks: Air Pollution, 2020). Data terbaru menunjukkan konsentrasi rata-rata tahunan PM2.5 di Indonesia adalah 17 µg / m3 yang melebihi batas maksimum yang direkomendasikan yaitu 10 µg / m3. Industri pertambangan, minyak dan gas, manufaktur kendaraan, emisi kendaraan, dan kebakaran hutan menjadi penyumbang terbesar dari buruknya kualitas udara di Indonesia. 

Ads

Sebelumnya, Wanaswara telah membahas bahaya polusi udara akibat kebakaran hutan, namun polusi udara yang disebabkan oleh emisi kendaraan memiliki bahaya tersendiri baik bagi kesehatan maupun lingkungan. Paparan terhadap polusi udara akibat emisi kendaraan secara terus-menerus dapat menyebabkan kerusakan pada saluran pernapasan dan berbagai penyakit pernapasan, seperti angina, obstruksi hidung, dahak, sesak nafas, dan chronic obstructive pulmonary disease (COPD) atau penyakit paru obstruktif kronis (Ye et. al, 2000). Selain itu, polusi udara akibat emisi kendaraan dapat menciptakan particulate matter (PM), polusi udara termal, efek rumah kaca, penipisan lapisan ozon, dan kerusakan tumbuhan pertanian (Bolaji & Adejuyigbe, 2006). Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat di Indonesia membutuhkan upaya lebih untuk mengurangi polusi udara akibat emisi kendaraan dan meningkatkan kualitas udara di Indonesia secara keseluruhan. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menerapkan sustainable transportation, terutama di kota-kota dengan kualitas udara yang buruk di Indonesia. 

Sustainable Transportation: Definisi dan Konsep

© wellthatsinteresting.tech
© wellthatsinteresting.tech

Sustainable transportation atau transportasi berkelanjutan mengacu pada subjek luas dari transportasi yang berkelanjutan dalam arti dampaknya pada aspek sosial, lingkungan, dan iklim (Jeon, 2005). Konsep sustainable transportation pertama kali diakui pada salah satu konferensi utama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yaitu Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi tahun 1992 dan diperkuat pada Agenda 21 (Sustainable transport, n.d.). Dalam melakukan peninjauan lima tahun atas pelaksanaan Agenda 21 selama Sidang Istimewa kesembilan belas pada tahun 1997, Majelis Umum PBB lebih lanjut mencatat bahwa selama dua puluh tahun ke depan, transportasi akan menjadi kekuatan pendorong utama di balik permintaan akan energi di seluruh dunia yang terus meningkat. Selanjutnya, pada KTT Dunia tahun 2002 tentang Pembangunan Berkelanjutan, peran transportasi sekali lagi muncul dalam Johannesburg Plan of Implementation (JPOI) atau Rencana Implementasi Johannesburg. JPOI menyediakan banyak poin penting untuk sustainable transportation, terutama dalam konteks infrastruktur, sistem transportasi umum, jaringan pengiriman barang, keterjangkauan, efisiensi dan kenyamanan transportasi, peningkatan kualitas udara dan kesehatan perkotaan, serta pengurangan emisi gas rumah kaca. Perhatian dunia terhadap transportasi dan kontribusi transportasi atas peningkatan emisi gas rumah kaca terus berlanjut dalam beberapa tahun terakhir, sehingga pemimpin dunia akhirnya mengakui pada Konferensi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan tahun 2012 bahwa sustainable transportation adalah suatu konsep yang terkait erat dengan pembangunan berkelanjutan.

Konsep ini menjadi sesuatu yang penting karena transportasi merupakan unsur fundamental dalam proses melaksanakan pembangunan berkelanjutan karena transportasi merupakan sarana yang membantu manusia untuk beraktivitas dan bertemu dengan berbagai kebutuhan mereka, seperti pergi bekerja, membeli bahan makanan di supermarket, dan lain-lain. Transportasi juga merupakan salah satu faktor pendorong pembangunan berkelanjutan suatu kota atau negara. Dengan adanya infrastruktur dan sistem transportasi yang memadai, maka aksesibilitas dan produktivitas masyarakat suatu kota atau negara dapat terdukung dengan baik. Namun, seperempat emisi gas rumah kaca di seluruh dunia berasal dari transportasi dan emisi ini diproyeksikan akan meningkat secara substansial di tahun-tahun mendatang, sehingga konsep ini diciptakan sebagai solusi untuk mengatasi polusi udara akibat emisi gas rumah kaca─termasuk emisi dari kendaraan─yang tidak menghalangi perkembangan perekonomian dan aksesibilitas masyarakat suatu kota atau negara. 

Sustainable Transportation: Solusi untuk Meningkatkan Kualitas Udara dan Lingkungan di Indonesia

© BeritaSatu
© BeritaSatu

Melalui pembahasan terkait definisi dan konsep sustainable transportation, kita mengetahui bahwa penerapan konsep tersebut dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas udara di Indonesia yang cukup buruk akibat emisi kendaraan. Apabila pemerintah Indonesia dapat menerapkan atau mewujudkan konsep ini ke dalam infrastruktur dan sistem transportasi di kota-kota besar Indonesia, maka masyarakat dan pemerintah Indonesia dapat secara bertahap meningkatkan kualitas udara, mengurangi emisi gas rumah kaca yang berasal dari kendaraan, mencegah pemanasan global yang dapat menyebabkan kebakaran hutan dan mengotori udara, serta meningkatkan kesehatan pernapasan masyarakat di Indonesia. Selain itu, sustainable transportation dapat membantu mengatasi permasalahan terkait krisis energi, serta penipisan dan konsumsi berlebih sumber daya alam (SDA) seperti minyak untuk bahan bakar (Boschmann & Kwan, 2008). Dengan menggunakan berbagai energi terbarukan masyarakat dan pemerintah Indonesia dapat secara perlahan-lahan mengurangi pencemaran lingkungan yang muncul akibat upaya-upaya untuk memperoleh SDA yang tidak terbarukan seperti minyak bumi. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Implementasi sustainable transportation secara nyata juga dapat membantu mengurangi kemacetan dan jumlah penggunaan kendaraan pribadi yang ada di kota-kota besar. Sejak tahun 1990-an, saat kendaraan pribadi seperti mobil menjadi primadona, kemacetan akibat jumlah penggunaan kendaraan pribadi yang tinggi telah menjadi salah satu permasalahan lalu lintas di Indonesia (Alexander, 2018). Jumlah pengguna kendaraan pribadi yang meningkat secara langsung menjadi penyebab peningkatan emisi kendaraan yang dapat menyebabkan efek rumah kaca dan menurunkan kualitas udara di Indonesia. Apabila pemerintah di Indonesia dapat menyediakan sustainable transportation yang efisien─dalam arti transportasi tersebut dapat mempersuasi masyarakat di Indonesia untuk menggunakan transportasi umum dibandingkan kendaraan pribadi─maka jumlah pengguna kendaraan pribadi akan menurun dan mengurangi tingkat kemacetan di kota-kota besar Indonesia. Penurunan jumlah pengguna kendaraan pribadi juga membantu mengurangi jumlah emisi kendaraan agar tidak menimbulkan efek rumah kaca, serta meningkatkan kualitas udara di Indonesia.

Saat ini, pemerintah Indonesia telah melaksanakan beberapa upaya dini untuk menerapkan solusi ini secara nyata, seperti revitalisasi transportasi umum di Jabodetabek dan beberapa kota besar lain, pemberlakuan kawan peraturan ganjil-genap di Jabodetabek, dan rencana untuk melakukan peralihan dari kendaraan berbahan bakar minyak menjadi kendaraan dengan energi listrik. Namun, upaya-upaya tersebut masih belum cukup untuk secara sepenuhnya mengentaskan permasalahan polusi udara di Indonesia. Indonesia masih perlu melaksanakan lebih banyak upaya dan langkah-langkah selanjutnya untuk mendukung penerapan atau perwujudan sustainable transportation di seluruh Indonesia. 

Upaya Selanjutnya di Indonesia

© The Mainichi
© The Mainichi

Lantas, apa saja upaya selanjutnya yang dapat dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah di Indonesia untuk menerapkan sustainable transportation dengan tujuan mengurangi polusi udara di Indonesia? 

  1. Mengembangkan railway transport system (sistem transportasi kereta) dengan energi listrik di kota-kota besar yang memiliki kualitas udara yang kurang baik. Per 5 Januari 2021, Surabaya, Bandung, Jakarta, Pekanbaru, dan Dumai menjadi lima kota di Indonesia dengan udara yang paling tercemar (Air quality in Indonesia, 2021). Kelima kota ini memiliki railway transport system yang dibangun oleh PT KAI. Pada tahun 2019, PT KAI memutuskan untuk menggunakan gerbong lokomotif dengan BBM B20. B20 adalah bahan bakar yang merupakan campuran dari 20% biodiesel dan 70% BBM jenis solar (Humas EBTKE, 2019). Penggunaan biodiesel memang terbukti meningkatkan kualitas lingkungan karena mudah terurai dan memproduksi lebih sedikit emisi dibandingkan bahan bakar fosil, namun masih ada beberapa energi alternatif lain seperti listrik yang dapat digunakan oleh pemerintah Indonesia untuk benar-benar menciptakan transportasi yang berkelanjutan di Indonesia (Tempo.co, 2018). Kendaraan dengan energi listrik terbukti menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan dengan kendaraan yang menggunakan bahan bakar sebagai energi penggerak utama (Reichmuth, 2020). 
  2. Membuat lebih banyak pedestrian lane (jalur pejalan kaki) dan jalur sepeda. Pemerintah Indonesia perlu menyediakan lebih banyak pedestrian lane dan jalur sepeda di seluruh kota-kota di Indonesia, serta mendukung masyarakat di Indonesia untuk menggunakan jalur-jalur tersebut apabila lokasi yang ingin mereka kunjungi tidak memiliki jarak tempuh yang jauh. Dengan menyediakan lebih banyak pedestrian lane serta jalur sepeda yang aman dan memiliki rute yang jelas, masyarakat di Indonesia akan lebih terdorong untuk menggunakan fasilitas tersebut dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi seperti motor atau mobil untuk menempuh jarak yang dekat. Peningkatan pada penggunaan pedestrian lane dan jalur sepeda akan mengurangi jumlah emisi kendaraan yang dihasilkan setiap harinya dan dapat membantu memperbaiki kualitas udara kota-kota di Indonesia. 

 

Penerapan atau perwujudan upaya lebih lanjut ini tentu saja tidak mudah. Butuh waktu yang lama bagi pemerintah Indonesia untuk bisa melakukan pembangunan dan menerapkan sustainable transportation secara merata di seluruh daerah di Indonesia. Namun, dengan rencana pengembangan yang strategis dan keinginan bersama untuk menjaga kualitas udara dan lingkungan di Indonesia, maka pemerintah dan masyarakat di Indonesia dapat perlahan-lahan menciptakan dan menerapkan infrastruktur serta sistem transportasi yang berkelanjutan di seluruh area di Indonesia.  

 

Penulis : Fiona Evangeline Onggodjojo

 

Referensi

Air pollution. (n.d.). World Health Organization. Retrieved January 4, 2021, from 

https://www.who.int/health-topics/air-pollution#tab=tab_1

Air Quality in Indonesia. (2021, January 5). IQAir. Retrieved from 

https://www.iqair.com/us/indonesia

Alexander, H. B. (2018, March 20). Macet, Jakarta Masih Berorientasi Pada Kendaraan 

Pribadi. Kompas.com. Retrieved from https://properti.kompas.com/read/2018/03/20/193238821/macet-jakarta-masih-berorientasi-pada-kendaraan-pribadi?page=all

Atika, S. (2019, August 8). Airvisual: Jakarta declared world’s most polluted city on 

Thursday afternoon. The Jakarta Post. Retrieved from https://www.thejakartapost.com/news/2019/08/08/airvisual-jakarta-declared-worlds-most-polluted-city-on-thursday-afternoon.html

B20, Bahan Bakar Ramah Lingkungan. (2018, September 17). Tempo.co. Retrieved from 

https://nasional.tempo.co/read/1127182/b20-bahan-bakar-ramah-lingkungan

Bolaji, B. O., & Adejuyigbe, S. B. (2006). Vehicle Emissions and Their Effects on Natural 

Environment – A Review. Journal of the Ghana Institution of Engineers, 4(1), 35–41.

Boschmann, E. E., & Kwan, M.-P. (2008). Toward Socially Sustainable Urban 

Transportation: Progress and Potentials. International Journal of Sustainable Transportation, 2(3), 138–157. doi:10.1080/15568310701517265 

Humas EBTKE. (2019, February 2019). Yuk, Kenali Istilah B20, B100, Biofuel dalam 

Bioenergi. Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE). Retrieved from https://ebtke.esdm.go.id/post/2019/02/25/2144/yuk.kenali.istilah.b20.b100.biofuel.dalam.bioenergi

Indonesia General Health Risk: Air Pollution. (n.d.). International Association for Medical 

Assistance to Travelers. Retrieved January 4, 2021, from https://www.iamat.org/country/indonesia/risk/air-pollution

Jeon Mihyeon, C., & Amekudzi, A. (2005). Addressing Sustainability in Transportation 

Systems: Definitions, Indicators, and Metrics. Journal of Infrastructure Systems, 11(1), 31–50. doi:10.1061/(asce)1076-0342(2005)11:1(31)

Reichmuth, D. (2020). (Rep.). Union of Concerned Scientists. doi:10.2307/resrep25217

Sustainable transport. (n.d.). Sustainable Development Goals Knowledge Platform. Retrieved 

January 4, 2021, from https://sustainabledevelopment.un.org/topics/sustainabletransport

Ye, S.-H., Zhou, W., Song, J., Peng, B.-C., Yuan, D., Lu, Y.-M., & Qi, P.-P. (2000). Toxicity 

and health effects of vehicle emissions in Shanghai. Atmospheric Environment, 34(3), 419–429. doi:10.1016/s1352-2310(99)00306-4

 

Referensi Gambar

[1] Polusi Udara di Ibu Kota. Retrieved from https://www.suara.com/health/2019/08/03/131433/pindah-ibu-kota-gara-gara-polusi-udara-jakarta-makin-buruk-setuju

[2] Kereta Listrik. Retrieved from https://wellthatsinteresting.tech/sustainable-transportation-tech-can-help/

[3] Angkutan Umum. Retrieved from https://www.beritasatu.com/nasional/590948/revitalisasi-angkutan-massal-berbasis-jalan-dinilai-mendesak

[4] Orang-orang Menyeberang Jalan. Retrieved from https://mainichi.jp/english/articles/20200914/p2g/00m/0in/079000c

 

Lindungihutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya yang dapat merugikan pihak. 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!