Taman Nasional Ujung Kulon, Habitat Terakhir Badak Jawa

gambar 1 badak bercula satu di taman nasional ujung kulon
gambar 1 badak bercula satu© Nusadaily.com

Terdiri dari semenanjung, Taman Nasional Ujung Kulon merupakan sebuah ekosistem alami yang hampir menghilang di ujung barat daya Pulau Jawa. Taman nasional ini merupakan kawasan penting yang dibanggakan secara nasional dan internasional. Keanekaragaman satwa dan tumbuhan langka menarik perhatian para peneliti dari berbagai negara di dunia.

Ads

Ujung  Kulon merupakan taman nasional yang secara administratif terletak dalam wilayah Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Wilayah Ujung Kulon di bagian utara berbatasan dengan Selat Sunda dan di selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia. 

Ujung Kulon menyandang kehormatan menjadi taman nasional pertama di Indonesia sejak tahun 1980 dengan luas wilayah sekitar 57.500 hektar. Setelahnya, baru pada 1992 Ujung Kulon ditunjuk sebagai Taman Nasional dengan luas total 122.956 hektar melalui Keputusan Menteri Kehutanan: 284/Kpts-II/1992 Tanggal 26 Februari 1992. Luas ini terdiri dari 78.619 hektar kawasan darat dan 44.337 hektar perairan. Komisi Warisan Dunia UNESCO juga menetapkan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun yang sama, yakni pada 1 Februari 1992. 

Sebelum menjadi Taman Nasional Ujung Kulon, kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi, mulai dari Kawasan Suaka Alam, Kawasan Suaka Margasatwa, Cagar Alam Ujung Kulon, hingga ditunjuk sebagai Taman Nasional Ujung Kulon dan dilindungi di bawah Undang-undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber daya Alam dan Undang-undang No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan.

Taman Nasional ini mencakup beberapa pulau lepas pantai, seperti Pulau Peucang, Pulau  Panaitan, gugusan Pulau Handeleum, serta sisa-sisa gugusan Pulau Krakatau yang menjadi sebuah cagar alam. Sebagian besar wilayah semenanjung Ujung Kulon merupakan dataran, kecuali Gunung Payung, daratan dengan ketinggian 480 meter yang terletak di barat daya. Tidak heran, Ujung Kulon seringkali dijadikan sebagai lokasi riset mengenai gunung berapi dan keanekaragaman hayati, serta sebagai lokasi PKL mahasiswa kehutanan. 

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Dengan tegakan hutan hujan dataran rendah terbaik dan terluas yang tersisa di Pulau Jawa, Ujung Kulon mempertahankan keindahan alam dan kepentingan geologis yang kaya.  Taman nasional ini juga terdiri dari padang rumput, hutan bakau, pantai yang masih asli, terumbu karang, dan flora dan fauna yang sangat beragam. Beberapa spesies tumbuhan dan hewan yang terancam punah dapat ditemukan di sana, termasuk badak jawa, satwa yang paling terancam punah. 

taman nasional ujung kulon
gambar 2 pantai taman nasional ujung kulon© Exoticjavatrails.com

Selain menjadi lokasi konservasi badak jawa, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon menjadi lokasi wisata alam yang terkenal di Pulau Jawa. Tersedia berbagai ragam wisata seperti snorkeling, tracking, berkemah, dan wildlife viewing di dalam taman nasional ini. Namun, pengelolaan wisata untuk wilayah ini juga begitu terbatas, sehingga diupayakan tidak mengganggu habitat badak jawa yang tinggal di dalamnya.

 

Sejarah Taman Nasional Ujung Kulon

© Pulausangiang.com
gambar 3 taman nasional ujung kulon © Pulausangiang.com

Dalam bahasa Sunda, Ujung Kulon memiliki arti Ujung Barat, sesuai letaknya yang berada di ujung paling barat Pulau Jawa. Sejak letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883, pemukiman penduduk di Ujung Kulon, satwa liar dan vegetasi yang ada turut terporak-porandakan akibat gelombang tsunami setinggi kurang 15 meter yang dihasilkannya. 

Meskipun kawasan Ujung Kulon disapu bersih oleh letusan Krakatau, beberapa tahun setelahnya diketahui bahwa satwa liar dan ekosistem-vegetasi di sana tumbuh dan berkembang dengan cepat. Kawasan ini pun ditetapkan sebagai kawasan lindung.

Pada tahun 1921, tindakan konservasi di Ujung Kulon bermula. Berkat itu, nilai-nilai yang terkandung di dalam semenanjung Ujung Kulon terbantu untuk dilindungi, meskipun pada saat itu tidak ada dasar hukum yang kuat selama awal pembentukan cagar. 

Ketika ditetapkan menjadi taman nasional, Ujung Kulon dikelola oleh pemerintah pusat melalui unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan. Begitu pula dengan berbagai lembaga konservasi alam, baik nasional maupun internasional.

Rencana pengelolaan jangka panjang Taman Nasional Ujung Kulon pada tahun 2001-2020 menjadi dasar dalam melestarikan habitat kritisnya, di sisi lain juga tetap menjaga keindahan alamnya. Pengelolaan ini memprioritaskan kelangsungan hidup jangka panjang bagi badak jawa bersama dengan spesies terancam punah lainnya. 

Dengan dilaksanakannya rencana pengelolaan jangka panjang, masalah seperti perambahan ilegal ataupun perburuan liar yang berada dalam batasan wilayah Ujung Kulon telah terbantu untuk dikendalikan dan dilindungi. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dari komunitas lokal, nasional, hingga internasional turut meningkatkan perlindungan nilai dan keutuhannya.

 

Ragam Ekosistem dalam Taman Nasional Ujung Kulon

Di dalam Taman Nasional Ujung Kulon terdapat 3 tipe ekosistem, yakni daratan, pesisir pantai, dan laut. Ketiga ekosistem ini saling terikat yang membentuk proses interaksi atau hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

Ekosistem daratan merupakan hutan hujan dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa, yang menjadi lokasi ideal bagi kelangsungan hidup badak jawa. Ekosistem daratan yang dimiliki Ujung Kulon terdiri dari Gunung Honje, Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Peucang, dan Pulau Panaitan.

Ekosistem pesisir terdapat di sepanjang pesisir pantai dan hutan Mangrove di bagian sisi timur Semenanjung Ujung Kulon. Sementara itu, ekosistem laut terdiri dari terumbu karang dan padang lamun yang terdapat di wilayah semenanjung Ujung Kulon, Pulau Handeleum, Pulau Peucang, dan Pulau Panaitan.

Ujung Kulon memiliki sungai utama yang dibedakan dalam dua pola aliran. Sungai yang berasal dari daerah sekitar bukit Gunung Payung dan Gunung Cikuya mempunyai aliran cukup deras, sementara sungai lainnya berasal dari Gunung Talenca. Sepanjang tahun, sungai-sungai tersebut sebagian besar tidak pernah kering, sehingga menjadi sumber air yang cukup bagi satwa yang hidup di dalamnya.

Secara keseluruhan, terdapat 5 tipe vegetasi yang kompleks di dalam Ujung Kulon, di antaranya hutan hujan dataran rendah, hutan sekitar pantai, hutan rawa air tawar, padang penggembalaan, dan tumbuhan introduksi. Semua jenis vegetasi ini telah menghasilkan ketersedian jenis pakan yang cukup dan beragam bagi spesies-spesies yang menempati Ujung Kulon, termasuk badak jawa. 

 

Ujung Habitat Badak Jawa

© Amazingplaces.com
gambar 4 badak bercula satu © Amazingplaces.com

Taman Nasional Ujung Kulon dikenal sebagai rumah terakhir bagi badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang keberadaannya terancam punah. Kawasan ini penting secara global karena menjadi satu-satunya tempat di dunia bagi kelangsungan hidup mereka untuk dapat berkembang biak secara alami. 

Jumlah populasi badak jawa sampai saat ini sangat rendah dilihat dari sisi kelangsungan hidup spesies dan keanekaragaman genetik yang layak. Hingga pada tahun 2020, jumlah badak jawa yang ada tercatat sejumlah 74 individu. Dengan uraian, badak dewasa sejumlah 59 individu; termasuk 32 jantan dan 27 betina, serta anakan sebanyak 15 individu; termasuk 8 jantan dan 7 betina. Jumlah populasi ini berkembang dibandingkan pada tahun 2017, yakni sebanyak 67 individu.

Satwa langka dilindungi ini diperkirakan habitatnya awalnya tersebar dari India bagian timur, Bangladesh, Indochina, hingga Asia Tenggara. Melalui perjalanan panjangnya, termasuk menghadapi perburuan liar, habitat alami badak ini hanya tersisa di wilayah yang relatif sempit dan terbatas dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. 

Masa kembang biaknya yang sulit dan jangka waktu yang lama semakin menempatkan badak jawa pada masa genting menuju kepunahan. Dalam setahun, badak betina hanya melahirkan 1 sampai 2 ekor, dan perkembangbiakan hanya terjadi jika kondisi lingkungannya benar-benar stabil. Sebab itu, IUCN menetapkan badak jawa dengan status Kritis (Critically Endangered), yakni satu langkah menuju kepunahan di alam liar.

Pengelolaan dan pelestarian ekosistem Ujung Kulon menjadi kepentingan global dalam melindungi habitat tersisa dari badak jawa dan keberadaan hutan hujan di dalamnya yang penting bagi dunia. Penguatan perlindungan melalui tindakan pengelolaan telah memungkinkan populasi untuk tumbuh dengan prioritas tertinggi upaya konservasi adalah pelestarian populasi in-situ, sehingga jumlahnya meningkat. 

 

Habitat bagi Banyak Satwa Terancam Punah

Anjing Hutan (Dhole) – © Thepapyrus.in
gambar 5 Anjing Hutan (Dhole) – ©Thepapyrus.in

Bukan hanya badak jawa saja yang menempati Ujung Kulon, terdapat beberapa fauna dan flora lain juga hidup di dalamnya. Terdapat 29 spesies mamalia lain yang memperoleh perlindungan dalam  kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Dari jumlah tersebut, sembilan spesies di antaranya tercantum dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), dengan tiga spesies ditetapkan sebagai hewan terancam punah. 

Hutan yang masih asli tersebut dihuni oleh berbagai spesies satwa liar penting lainnya seperti macan tutul, anjing liar (dhole), kucing macan tutul, kucing pemancing, banteng, rusa, luwak jawa dan beberapa spesies musang. Tempat ini juga rumah bagi tiga spesies primata endemik, yakni owa jawa, monyet daun jawa dan monyet daun perak. 

Ada pula lebih dari 270 avifauna atau spesies burung yang tercatat dalam Taman Nasional Ujung Kulon. Ditambah, terdapat berbagai reptil darat maupun amfibi, di antaranya 2 spesies ular phyton, 2 spesies buaya yang terancam punah dan rentan, dan banyak populasi katak dan kodok, serta berang-berang yang menempati perairan sungai. Selain memiliki kekayaan faunanya, Ujung Kulon juga memiliki 57 spesies tumbuhan langka yang telah tercatat.

Meningkatnya tekanan dari perambahan pertanian, penebangan liar dan pengumpulan kayu bakar di kawasan darat, dan penangkapan ikan komersial ilegal di dalam komponen laut taman terus menjadi ancaman bagi Taman Nasional Ujung Kulon. Ditambah dengan perburuan badak jawa yang turut menjadi masalah utama pengelolaan dari taman nasional. 

Bersamaan dengan adanya dampak pariwisata, Diperlukan penegakan peraturan yang ketat untuk memastikan konservasi kawasan Ujung Kulon dalam jangka panjang. Begitu pula pemantauan yang cermat dalam memastikan hilangnya aktivitas perburuan ilegal terhadap spesies yang terancam punah ini, serta keanekaragaman hayati unik lainnya yang terkandung dan dilindungi dalam kawasan ini.

 

Penulis: Destri Ananda

Dikurasi oleh Inggrit Aulia Wati Hasanah

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk 

Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk melakukan kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di daerahmu. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. 

 

Yuk bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan!