Tanaman Alelopati pada Kegiatan Agroforestri

Interaksi Antar Tumbuhan

Gambar 1 Interaksi Antar Tumbuhan
Gambar 1 Interaksi Antar Tumbuhan

Tumbuhan merupakan organisme heterotrof yang sering menjadi sumber makanan bagi makhluk hidup autotrof seperti hewan dan manusia. Dalam posisi rantai makanan tumbuhan berperan sebagai produsen bagi ekosistem yang ada di hutan. Tumbuhan seringkali tidak hanya menjadi sumber makanan bagi makhluk hidup lain yang autotrof, tetapi juga menjadi sumber makanan bagi tumbuhan lain.

Ads

Interaksi tumbuhan terhadap tumbuhan lain beragam, bisa saling menguntungkan, bisa juga merugikan satu pihak. Pada interaksi antar tumbuhan yang merugikan, ketika salah satu tumbuhan penumpang mendapatkan nutrisi dari tumbuhan yang diinangi, maka dapat terjadi kematian pada tumbuhan inangnya. Sebagai contoh, pohon beringin yang tumbuh dewasa karena mengambil nutrisi dari tumbuhan inangnya dan ketika nutrisi yang dimiliki oleh pohon beringin sudah cukup, pohon beringin akan mencekik pohon inangnya dan tumbuh menggantikan pohon inangnya.

Beberapa tumbuhan yang menumpangi tumbuhan lain tidak sampai mengakibatkan kematian pada inangnya. Umumnya tumbuhan dengan interaksi seperti ini hanya menumpangi tubuhnya pada pohon inang saja tanpa mengambil nutrisi yang dimiliki pohon inangnya. Salah satu tumbuhan yang melakukan interaksi seperti itu dengan tanaman lain adalah anggrek. 

Anggrek yang tumbuhnya dengan cara merambat biasanya membutuhkan tumbuhan lain untuk dapat ditumpanginya, tetapi tidak mengambil apapun dari tumbuhan inangnya. Namun, apakah keberadaan anggrek menjadi pesaing bagi tanaman inang untuk mendapatkan air dan cahaya matahari? Tidak, karena anggrek tidak bisa mengambil air dan cahaya matahari sendiri, maka air dan cahaya matahari tetap dapat diserap oleh tumbuhan inangnya sendiri.

Persaingan Antar Tumbuhan

Gambar 2 Persaingan Jati
Gambar 2 Persaingan Jati

Persaingan antar tumbuhan dapat terjadi di mana saja, khususnya pada kawasan seperti hutan alam yang terdapat banyak pohon yang berdekatan. Jarak tanam pohon yang berdekatan akan menimbulkan persaingan yang tinggi pada tumbuhan dalam mengambil air, cahaya matahari, dan zat hara yang ada di dalam tanah. Akibatnya, tumbuhan yang pertumbuhannya tidak dominan sering mengalami kematian karena kekurangan air, cahaya matahari, dan zat hara untuk diserap.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Persaingan antar tumbuhan tidak hanya terjadi pada tumbuhan tingkat tinggi, tetapi juga bisa terjadi pada tumbuhan bawah. Rumput merupakan tumbuhan bawah sekaligus gulma yang dapat menjadi pesaing bagi pertumbuhan tumbuhan tingkat tinggi. Pertumbuhannya yang pesat, terutama pada musim kemarau membuat pertumbuhan rumput dapat mendominasi lahan pada suatu wilayah.

Rumput yang dapat menyerap banyak air yang ada di tanah membuat tumbuhan tingkat tinggi akan mengalami kesulitan ketika akan menyerap air. Tidak hanya itu, tumbuhan tingkat tinggi juga akan terganggu pertumbuhannya karena harus bersaing dengan banyak rumput untuk dapat menyerap cahaya matahari dan zat hara dari dalam tanah. Terakhir, pertumbuhan rumput yang bisa menjadi alternatif tempat tinggal bagi bakteri dan mikroorganisme lainnya bisa menulari tumbuhan tingkat tinggi yang ada di sekitar rerumputan tersebut.

Pencabutan rumput di sekitar pohon harus sering dilakukan untuk menjaga pertumbuhan pohon. Selain itu, untuk dapat mematikan pertumbuhan gulma, dapat diberikan zat kimia berupa herbisida. Namun, pemberian herbisida terhadap gulma tidak selalu efektif. Hal ini dikarenakan kematian tumbuhan setelah diberikan herbisida bukan hanya mematikan tumbuhan bawah seperti rumput, tetapi juga tumbuhan tingkat tinggi yang terkena imbas dari pemberian herbisida yang ada di sekitarnya.

Pertumbuhan gulma tidak selalu dapat terjadi di setiap lahan. Beberapa tumbuhan tingkat tinggi dapat melindungi dirinya dengan zat alelopati yang dimiliki dalam dirinya. Akan sulit ditemukan gulma pada lahan yang ditanami tumbuhan yang memiliki zat alelopati.

Zat Alelopati sebagai Pengendali Pertumbuhan Tanaman

Gambar 3 Tegakan Pinus
Gambar 3 Tegakan Pinus

Zat alelopati merupakan senyawa bioaktif yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman, bukan hanya pada gulma, tetapi juga tanaman herba yang ada di sekitarnya. Zat ini biasa dijadikan sebagai senyawa aktif bioherbisida dengan tujuan mematikan pertumbuhan tanaman tetapi tetap ramah lingkungan. Adanya zat alelopati pada suatu tanaman yang dapat menekan pertumbuhan tanaman lain sehingga akan sulit untuk tanaman lain dapat tumbuh dan berkembang.

Alelopati tidak dapat ditemukan pada semua tumbuhan. Beberapa tanaman yang memiliki alelopati ialah kamboja, kenikir, pinus, dan lain-lain. Lantai di bawah tegakan tanaman-tanaman ini biasanya bersih karena jarang ada tumbuhan lain yang dapat hidup di sekitarnya. Namun, keberadaan alelopati pada suatu tidak selalu menguntungkan.

Beberapa tumbuhan mengalami keracunan karena sifat alelopati yang autotoksisitas. Autotoksisitas merupakan sifat racun yang tidak hanya dapat memberi pengaruh pada makhluk hidup lain, tetapi juga berpengaruh terhadap tumbuhan itu sendiri. Sehingga beberapa tumbuhan akan mengalami kematian karena alelopatinya sendiri.

Sifat alelopati pada tumbuhan juga dapat merugikan dalam beberapa kondisi salah satunya saat kegiatan agroforestri. Kegiatan agroforestri merupakan kegiatan yang mengkolaborasikan kegiatan perhutanan dan pertanian. Tujuan dari agroforestri adalah memaksimalkan peran dan hasil dari sektor kehutanan dan pertanian.

Agroforestri biasanya dilakukan pada hutan tanaman tepatnya dengan cara menanam tanaman-tanaman pertanian di lantai tegakan. Beberapa masyarakat juga biasa melakukan penanaman tanaman palawija yang dapat meningkatkan perekonomian mereka. Namun, jika tumbuhan yang terdapat pada hutan tanaman merupakan tumbuhan yang memiliki alelopati, maka kegiatan agroforestri tidak akan berjalan dengan maksimal.

Pinus merupakan contoh tanaman yang biasanya ditanam di hutan tanaman yang juga memiliki senyawa alelopati. Dalam penanaman hutan tanaman, tumbuhan pinus biasa dimanfaatkan untuk diambil getahnya. Getah pinus dalam dunia HHBK dapat menghasilkan gondorukem dan terpentin yang berguna sebagai bahan kosmetik, campuran cat, parfum, dan lainnya. 

Pinus juga merupakan tumbuhan yang dapat menyerap banyak karbondioksida, sehingga sering dimanfaatkan dalam kegiatan reboisasi. Dengan manfaat yang melimpah tersebut, tidak heran kenapa pinus menjadi tanaman budidaya pada hutan tanaman.

Sejauh ini belum ditemukan penelitian mengenai sifat alelopati pada pinus yang autotoksisitas, sehingga bisa dipastikan sifat alelopati pada pinus tidak dapat menyebabkan kematian pada tanaman pinus. Namun, sifat alelopati pada pinus ini tetap dapat menghambat pemaksimalan program agroforestri di bawah tegakan pinus. Meskipun begitu, tidak semua tumbuhan akan mengalami kematian jika ditanam di bawah tegakan pinus.

Beberapa tanaman ada yang tetap berhasil hidup meskipun ditanam di bawah tegakan pinus. Serai wangi dan prasman merupakan contoh tumbuhan yang tetap dapat bertahan di bawah tegakan pinus. Kegiatan ini baru-baru ini ditemukan di wilayah Aceh di mana ada sekelompok masyarakat yang melakukan penanaman serai wangi di bawah pohon pinus.

Keberadaan zat alelopati pada tumbuhan selayaknya dua mata pisau yang dapat melindungi pemiliknya sekaligus merugikan bagi ekosistem yang ada di sekitarnya. Namun, bukan berarti zat alelopati dapat menjadi penghalang dalam melakukan pemaksimalan kegiatan kehutanan. Jika pada saat ini belum banyak diketahui tanaman yang dapat tumbuh maksimal di bawah tegakan tumbuhan yang memiliki zat alelopati, maka sudah menjadi tugas manusia untuk mencari lebih banyak tanaman-tanaman lain yang dapat tumbuh maksimal di bawah tegakan alelopati.

 

Penulis: Fifi Melinda Setiawati

 

Referensi Artikel

Djazuli M. 2011. Alelopati pada beberapa tanaman perkebunan dan teknik pengendalian serta prospek pengendaliannya. Perspektif. 10 : 4-50.

Senjaya YA dan Surakusumah W. 2007. Potensi ekstrak daun pinus (Pinus merkusii Jungh. Et de Vriese) sebagai bioherbisida penghambat perkecambahan Echinocloa colonum L. dan Amaranthus viridis. Jurnal Perennia. 4 : 1-5.

Siregar BH dan Nugroho A. 2020. Potensi ekstrak daun pinus (Pinus merkusii) sebagi bioherbisida terhadap gulma teki (Cyperus rotundus L.). Jurnal Produksi Tanaman. 8(4): 363-389.

 

Referensi Gambar

http://www.irwantoshut.com/jarak_tanam_jati.html

https://tanahkaya.com/bunga-anggrek/

https://www.harianhaluan.com/mobile/detailberita/64455/pengelolaan-hutan-pinus-dipertanyakan

 

LindungiHutan.com adalah Platform Crwodfounding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealamuntuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dan bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak.

 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!