Tentang Krisis Iklim dan Kebakaran: Sudah Sejauh Mana Hutan dan Lahan Kita Terbakar?

Kebakaran Hutan, hampir setiap tahun selalu ada saja berita yang mengabarkan mengenai terjadinya periatiwa ini. Baik itu yang terjadi di negara kita, Indonesia, maupun di negara-negara lainnya seperti Australia, California, hingga Brazil. Seluruh runtutan kejadian kebakaran hutan tersebut tentunya memberi dampak negatif bagi lingkungan serta makhluk hidup yang tinggal di sekitar hutan tersebut. Di Indonesia sendiri, kebakaran hutan seringkali terjadi pada bulan-bulan di musim kemarau yaitu sekitar bulan Juli hingga Oktober tiap tahunnya. Namun, seberapa banyak lahan kita hangus? Sudah sejauh manakah hutan kita terbakar?

Ads

Unsur Pemicu Kebakaran Hutan

Gambar 1. Kebakaran Hutan
Gambar 1. Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan dapat dipicu oleh berbagai penyebab, mulai dari musim kemarau yang kering, kelalaian penggunaan api, gejala El Nino dan krisis iklim, hingga kesengajaan masyarakat dalam membakar hutan untuk pembukaan lahan baru. Menurut tim Pantau Gambut, lebih dari 99% kebakaran hutan disebabkan akibat ulah manusia, baik itu disengaja maupun tidak. Salah satu akar masalah peristiwa ini adalah adanya praktik penebangan liar di mana lahan dibakar sebagai cara untuk membersihkan wilayah tertentu yang akan dimanfaatkan untuk industri, pertanian penduduk, dan lain-lain.

Menghangatnya planet bumi sebagai dampak dari krisis iklim juga menjadi penyebab mengapa kini hutan menjadi lebih rapuh terhadap kebakaran. Pada daerah terjadinya bencana, seringkali kebakaran hutan akan menjadi sulit untuk dipadamkan jika terdapat lahan gambut yang ikut terbakar. Lahan gambut yang terdapat di daerah kering memiliki sifat yang sama seperti kayu bakar. Sehingga, ketika api menyebar hingga ke bawah permukaan tanah dan membakar material organik di dalamnya, gambut akan terbakar dan menyimpan api hingga berbulan-bulan sebelum muncul lagi di beberapa titik. Kemampuan lahan gambut dalam menyimpan api di bawah permukaan tanah menjadikan kebakaran hutan semakin sulit untuk dipadamkan.

Sudah Sejauh Mana Hutan Kita Terbakar?

Di seluruh dunia, musim kebakaran telah bertambah hampir 20 persen terhitung sejak 1979. Peristiwa ini tidak hanya terjadi pada daerah dengan cuaca kering, namun juga mulai merambah ke daerah utara yang dingin, seperti Greenland hingga hutan di Lingkaran Arktik sekitar Swedia. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada batas geografis dalam krisis iklim, seluruh wilayah di bumi merasakan dampak dari naiknya suhu rata-rata bumi yang salah satunya berimbas pada kebakaran lahan di daerah yang seharusnya aman.

Melihat Data dan Angka Kebakaran Hutan

Gambar 2. Kabut Asap Dampak Kebakaran Hutan
Gambar 2. Kabut Asap Dampak Kebakaran Hutan

Di Indonesia, sebanyak 3,4 juta hektar lahan telah terbakar antara tahun 2015 hingga 2018. Pada tahun 2015 saja, lebih dari 2,6 juta hektar lahan terbakar dengan lebih dari 120 ribu titik api yang menyebar sejak Juni hingga Oktober. Peristiwa ini disebut sebagai salah satu bencana lingkungan terbesar sepanjang sejarah. Selain itu, kabut asap yang menyertainya juga menyebabkan penyakit pernapasan serta penyakit lainnya yang diderita oleh jutaan orang yang tinggal di sekitarnya. Dampak ini dirasakan pula oleh Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Kebakaran hutan masih berlanjut pula di tahun-tahun berikutnya. Pada Januari hingga Agustus 2019, sebanyak lebih dari 328 ribu hektar lahan telah terbakar di berbagai daerah di Indonesia, seperti Kalimantan, Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan.  

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Tidak hanya Indonesia, negara-negara lain juga mengalami masalah serupa. Pada tahun 2017, lebih dari 9000 peristiwa kebakaran terjadi dalam jangka satu tahun saja, menghanguskan sekitar 500 ribu hektar lahan di California. Sedangkan di Greenland, kebakaran telah melanda sepuluh kali lebih luas terhitung sejak 2014 hingga 2017. Begitu pula dengan hangusnya Hutan Amazon yang digadang-gadang sebagai penyerap seperempat dari seluruh karbon dunia setiap tiap tahunnya.

Yang Terdampak

Gambar 3. Orang Utan yang Kehilangan Rumah Akibat Kebakaran Hutan
Gambar 3. Orang Utan yang Kehilangan Rumah Akibat Kebakaran Hutan

Hutan adalah penyeimbang alam dengan begitu banyak keanekaragaman hewan serta tumbuhan yang tinggal di dalamnya. Jika wilayah hutan semakin berkurang, maka segala macam makhluk hidup di sekitarnya juga akan turut berkurang. Ketika pohon mati, karbon yang tersimpan di dalamnya akan lepas ke atmosfer. Sehingga, efek kebakaran hutan merupakan kabar yang sangat buruk bagi penambahan emisi gas rumah kaca dunia. Hutan yang dulunya berfungsi sebagai penyerap karbon, kini menjadi sumber karbon akibat lepasnya gas-gas yang mereka serap dengan persentase tinggi dalam emisi global tahunan. Jika penggundulan hutan menyebabkan sekitar 12 persen emisi karbon di seluruh dunia, maka kebakaran hutan menempati persentase yang lebih tinggi, yaitu 25 persen.

Selain menimbulkan jutaan manusia menderita penyakit pernapasan karena jatuhnya kualitas udara, kebakaran hutan juga menimbulkan efek proliferasi vektor. Efek ini merupakan perkiraan  adanya 27 kasus malaria tambahan tiap kilometer persegi hutan yang habis karena mengundang kedatangan nyamuk. Selanjutnya, dengan semakin menipisnya hutan, maka bencana alam seperti banjir dan longsor akan meningkat baik secara frekuensi maupun cakupan geografi. Di sisi lain, satwa seperti orang utan akan semakin sulit menemukan rumah mereka, mengantarkan pada kepunahan spesies dan kerusakan daur biologis. Begitu pula dengan hewan dan tumbuhan yang lain yang akan memperpanjang rentetan kekacauan akibat berkurangnya hutan.

Vitalnya peran hutan dalam kehidupan seluruh makhluk di bumi seharusnya membuat kita semakin sadar serta memberikan usaha untuk ikut merawatnya. Adanya berbagai komunitas yang bergerak dalam hal konservasi hutan, pengawalan gambut, hingga reboisasi memegang peran penting dalam memperbaiki kerusakan hutan. Masih ada yang dapat kita lakukan untuk mengembalikan hutan menjadi penyerap karbon sekaligus rumah yang aman dan nyaman bagi beragam satwa dan fauna yang ada di bumi.

 

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

 

Sumber Literatur:

Balch, Oliver. “Indonesia’s Forest Fires: Everything You Need to Know.” The Guardian, 14 Feb. 2018, www.theguardian.com/sustainable-business/2015/nov/11/indonesia-forest-fires-explained-haze-palm-oil-timber-burning. 

BBC News. “Indonesia Haze: Why Do Forests Keep Burning?” BBC News, 16 Sept. 2019, www.bbc.com/news/world-asia-34265922.

BBC News Indonesia. “Kabut asap kian pekat, anak-anak paling terdampak.” BBC News Indonesia, 12 Sept. 2019, www.bbc.com/indonesia/media-49660187.

Greenpeace Southeast Asia. “Indonesian Forest Fires Crisis: Palm Oil and Pulp Companies with Largest Burned Land Areas Are Going Unpunished.” Greenpeace Southeast Asia, www.greenpeace.org/southeastasia/publication/3106/3106. Accessed 1 May 2021.

Indonesia, Cnn. “Membandingkan Karhutla di Indonesia Pada 2015 dan 2019.” teknologi, 18 Sept. 2019, www.cnnindonesia.com/teknologi/20190918104533-199-431485/membandingkan-karhutla-di-indonesia-pada-2015-dan-2019.

Wallace-Wells, David. The Uninhabitable Earth: Life After Warming. Reprint, Tim Duggan Books, 2020.

 

Sumber Gambar:

https://www.bbc.com/news/world-asia-34265922

https://unsplash.com/photos/kbTp7dBzHyY?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink

 

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk melakukan kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di berbagai daerah. Mari kita sama-sama melestarikan lingkungan dan menjaganya. 

 

Yuk bergabung bersama kami sebagai pioneer penghijauan!