Terumbu Karang, Perawat Ekosistem Laut

Terumbu Karang 1 © Pexels.com
Terumbu Karang 1 © Pexels.com

Dikenal sebagai negara bahari dengan wilayah lautan yang cukup luas, Indonesia pun diakui dengan kekayaan terumbu karang di sepanjang kawasan pesisirnya. Dilansir pada laman republika.co.id, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indinesia (LIPI) mengungkap bila luas terumbu karang negara ini pada tahun 2018 mencapai 25 ribu kilometer persegi. Ya, angka yang cukup besar untuk menggambarkan bahwa 10% total terumbu karang di dunia hadir di sini. Tidak mengejutkan kemudian apabila Indonesia disebut-sebut sebagai segitiga karang dunia, karena bukan hanya jumlahnya yang begitu luas namun juga keanekaragaman jenisnya yang tinggi. Paling tidak, terdapat 569 jenis dari 82 marga karang  yang mencakup 70% keseluruhan jenis karang yang ada di dunia. Nah Sobat Alam, menarik sekali bukan? Di bawah lautan, tersimpan begitu banyak kekayaan dan keindahan yang bahkan belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Ads

Peranan Besar Terumbu Karang bagi Ekosistem Lautan

Terumbu Karang 2 © Pexels.com
Terumbu Karang 2 © Pexels.com

Akan tetapi, tahukah Sobat Alam? Terumbu karang menjadi pemeran utama yang memegang kunci paling penting dalam menjaga kehidupan biota laut di sekitarnya. Terumbu karang menjadi rumah, tempat untuk tinggal, berkembang biak, dan mencari makan bagi begitu banyak hewan serta tumbuhan di lautan. Dalam artikel jurnal “Potensi Terumbu Karang Indonesia, Tantangan dan Upaya Koservasinya”, menjelaskan adanya penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa setiap tahunnya, ekosistem terumbu karang yang tumbuh dengan baik dapat menghasilkan hingga 35 juta ton ikan per kilometer persegi. Dengan kata lain dapat dikatakan bila terumbu karang merupakan sumber kehidupan. Segala kekayaan laut bermula dari sini. Apabila terumbu karang ini terjaga keberadaanya, tentu kelangsungan hidup  dan keanekaragaman ribuan bahkan jutaan makhluk hidup dapat dipertahankan. Mulai dari berbagai jenis ikan, kepiting, maupun kerang akan tetap lestari. Hal ini juga dapat mejadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat pesisir, karena bisa menjadi sumber pemasukan baik dari pemanfaatan sumber daya hasil penangkapan laut maupun pengembangan sektor pariwisata.

Selain itu, terumbu karang juga bisa membantu dalam mencegah terjadinya abrasi. Hal ini dikarenakan, terumbu karang dapat meredam laju ombak sebelum menyentuh bibir pantai. Dengan demikian, hempasan keras ombak bahkan ganasnya badai yang terjadi dapat diminimalisir dengan adanya ekosistem terumbu karang ini. Tak hanya itu, terumbu karang juga mendukung terbentuknya pantai berpasir. Tentu bagi sebagian dari Sobat Alam menganggap pantai dengan pasir putih tampak lebih mengesankan. Nah, ini nggak lepas dari keberadaan terumbu karang. Belum lagi terumbu karang ini juga memiliki kemampuan menyaring  air hingga kualitas air yang ada di pantai akan tetap terjaga.

Sayangnya, untuk membentuk suatu ekosistem terumbu karang membutuhkan proses panjang dan waktu yang tidak sebentar. Ekosistem ini dibangun dari adanya hewan karang. Dengan ukurannya yang sangat kecil, satu hewan karang ini disebut dengan polip dan ketika mencapai ribuan, polip akan membentuk koloni yang kemudian dikenal sebagai karang atau koral. Ditambah lagi, sekelompok hewan yang menghasilkan kapur juga berperan dalam membentuk terumbu karang ini. Meskipun terdengar sederhana, nyatanya  terumbu karang hanya mampu tumbuh 100 centimeter dalam 100 tahun. Tentu bisa dibayangkan kemudian, untuk membentuk suatu ekosistem terumbu yang begitu luas dan berfungsi dengan optimal, bisa jadi dapat memakan waktu hingga ribuan tahun

Terumbu Karang Menghadapi Ancaman

Terumbu Karang 3 © Pexels.com
Terumbu Karang 3 © Pexels.com

Karena keindahan dan fungsi ekonomisnya yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar obat-obatan hingga makanan, terumbu karang sudah terlalu sering diburu. Belum lagi dengan bahaya lain yang senantiasa mengancam. Dalam buku “Konsep & Panduan Restorasi Terumbu: Membuat Pilihan Bijak di antara Ketidakpastian” dijelaskan bahwa paling tidak ekosistem yang satu ini menghadapi dua jenis permasalahan besar. Pertama, antropogenik yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti penambangan karang, menangkap ikan menggunakan bahan peledak, masuknya limbah, hingga tabrakan dengan kapal maupun jangkar. Kedua, adanya ancaman alami seperti pemanasan global, badai, maupun tsunami.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Berkaitan dengan ancaman tersebut, terdapat dua upaya yang dapat diusahakan untuk mencegah terjadinya dampak buruk di masa mendatang. Pertama, dengan adanya konservasi. Hal ini lebih lanjut kemudian dikenal sebagai Kawasan Konservais Laut (KKL). Dengan terbentuknya kawasan konservasi, proses ekologis dari ekosistem teurmbu karang ini dapat dilindungi. Tentunya aktivitas manusia yang berisiko tinggi merusak dan membebani keanekaragaman hayati di daerah pesisir dan laut juga terus diawasi. Dengan adanya konservasi, besar harapan ekosistem terumbu karang yang ada dapat dipertahankan agar terus lestari.

Kemudian, upaya kedua tidak lepas dari upaya restorasi. Meskipun memiliki, terumbu karang yang sangat luas, Indonesia juga tidak lepas dari degradasi. Apabila degradasi ini dibiarkan begitu saja, besar kemungkinan terumbu karang akan sgera menghilang di waktu mendatang. Karena itulah restorasi menjadi jawaban untuk membantu proses pemulihan ekosistem terumbu karang yang telah rusak atau menurun kualitasnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan adanya restorasi terumbu karang yakni melalui translokasi atau proses transplantasi terumbu karang pada wilayah yang relatif lebih aman dari risiko dampak pembnagunan maupun aktivitas manusia lainnya.

Sobat Alam, mari kita refleksikan bersama sepak terjang ekosistem terumbu karang. Keberadaanya menjadi sangat penting baik di masa ini maupun masa depan. Oleh karena itu, segala permasalahan degradasi dan ancaman yang senantiasa menghantui harus diminalisur demi menjamin kehidupan yang lebih baik. Ingat, ini bukan hanya tentang laut dan biota yang ada di dalamnya. Bukan pula tentang sumber keberlangsungan hidup masyarakat pesisir. Ini semua tentang komitmen bersama untuk menjaga alam demi  anak cucu kita. Salam lestari!

Referensi:

Arini, D. I. D. (2013). Potensi Terumbu Karang Indonesia: Tantangan dan Upaya Konservasinya. Info BPK Manado, 3(2), 147-173.

Edwards, A. J., & Gomez, E. D. (2007). Konsep dan panduan restorasi terumbu: membuat pilihan bijak di antara ketidakpastian. Yayasan Terumbu Karang Indonesia.

Media sosial: Instagram.com/scazizah

LindungiHutan.com merupakan Platform Crowdfunding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dari bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak! 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!

 

Enable Notifications    Ok No thanks