Tradisi Perladangan Berpindah

Interaksi Hutan dan Manusia

Gambar 1: Hutan dan Manusia
Gambar 1: Hutan dan Manusia

Hutan merupakan ekosistem yang keberadaannya bersinggungan langsung dengan manusia. Kemunculan kehidupan di bumi nyaris lahir secara berbarengan.  Melalui peristiwa  bigbang ketika bumi pada akhirnya memiliki makhluk hidup pertama berupa atom dan berkembang sampai sekarang. 

Ads

Pada saat itu keberadaan makhluk hidup berkembang dengan cepat. Lumut, sebagai tumbuhan pertama sekaligus menjadi tumbuhan tingkat rendah di muka bumi berhasil bertahan hidup sampai sekarang. Keberadaan lumut dan makhluk hidup lainnya pada masa itu menjadi manifestasi adanya kehidupan saat ini. Hingga kini, kehidupan antar makhluk hidup selalu saling berkaitan satu sama lain.

Hutan dan manusia dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Apalagi dengan bertambahnya populasi manusia pada saat ini membuat jarak antara tempat manusia tinggal dan hutan itu sendiri tidak memiliki batas. Kedekatan manusia dan hutan ini akhirnya memunculkan interaksi.

Interaksi antara hutan dan manusia yang sudah berlangsung dari zaman nenek moyang ini masih berlangsung sampai sekarang. Interaksi dari keduanya dilakukan dengan tujuan untuk saling memanfaatkan. Salah satu bentuk interaksi manusia dan hutan masih berlangsung sampai sekarang adalah membangun ladang di tengah hutan.

Hutan dan Pertanian

Gambar 2: Hutan dan Pertanian
Gambar 2: Hutan dan Pertanian

Masyarakat Indonesia khususnya masyarakat desa, banyak memanfaatkan lahan hutan untuk ditanami tanaman pertanian. Kegiatan ini dilakukan secara turun temurun dari nenek moyang. Hal ini dilakukan karena masyarakat desa yang biasa hidup berdampingan dengan hutan dan hutan merupakan suatu ekosistem yang mudah didayagunakan.

Ads
Kapan jaga hutan? Sekarang! Buka lindungihutan.com

Hutan, dengan ekosistem yang sangat luas dan tempat di mana tanahnya memiliki nutrisi yang tinggi, dirasa sangat cocok oleh masyarakat untuk bertani. Bertani sendiri merupakan mata pencaharian yang umum ditemukan di Indonesia mengingat Indonesia merupakan negara agraris. Tidak ada yang salah dari kegiatan bertani di tengah hutan sampai ditemukannya kegiatan membuka hutan untuk melakukan perpindahan tempat untuk bertani.

Kegiatan tersebut secara singkat dikenal sebagai perladangan berpindah. Petani yang sudah selesai melakukan kegiatan pertaniannya, atau sudah menemui masa panen akan melakukan rotasi tempat bertani ketika ingin memulai lagi kegiatan bertani. Rotasi tempat ini dilakukan masih dalam satu wilayah hutan.

Wilayah hutan menyimpan banyak sekali fosfor di dalamnya. Fosfor inilah yang merupakan salah satu nutrient yang dibutuhkan oleh tanaman pertanian untuk tumbuh. Itulah mengapa, petani memilih untuk tetap mendirikan ladang di tengah hutan.

Untuk mendapatkan fosfor yang ada di dalam pohon, petani akan melakukan pembakaran hutan agar fosfor yang ada di dalam pohon dapat keluar. Secara otomatis, fosfor yang keluar ini nantinya akan membantu petani dalam menyuburkan tanaman pertanian mereka. Selain fosfor, masih banyak senyawa anorganik lain yang tersimpan di tanah hutan yang juga dapat meningkatkan kesuburan tanaman pertanian.

Petani biasanya melakukan beberapa kali rotasi ladang sampai akhirnya akan kembali ke tempat yang sama. Rotasi ini secara umum dilakukan dalam kurun waktu 1-3 tahun. Dalam waktu tersebut, petani berharap jika lahan awal yang ditinggalkan sudah kembali kesuburannya seperti semula.

Dampak Perladangan Berpindah

Gambar 3: Perladangan Berpindah
Gambar 3: Perladangan Berpindah

Lahan bekas pertanian memang kualitas kesuburannya sangat rendah. Tanaman pertanian tidak akan tumbuh subur seperti hasil pertama yang  ditanam apabila kegiatan pertanian kembali dilakukan di lahan yang sama. Sehingga petani memilih untuk mencari lahan baru dan menunggu lahan awal dapat kembali subur seperti semula.

Lahan bekas pertanian itu tidak dapat ditumbuhkan tanaman apa-apa kecuali gulma. Gulma, seperti yang dikenal sebagai tanaman toleran, akan menjadikan lahan dapat subur seperti semula. Kesuburan lahan  memang tidak akan sama persis seperti di awal, tetapi akan meningkat daripada saat pertama kali ditanami tanaman pertanian.

Melakukan kegiatan pertanian di dalam hutan memang legal dan diperbolehkan. Hal ini semata-mata karena sumber daya alam Indonesia, dalam konteks ini adalah hutan, dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Selain itu, masyarakat sekitar hutan memang diberi kepercayaan untuk menjaga hutan, sehingga masyarakat dibebaskan untuk memanfaatkan hutan. Dengan begitu, masyarakat secara tidak langsung akan memiliki ra#hutansa terikat dengan hutan apabila diberikan kepercayaan. 

Tidak ada yang salah dari bentuk interaksi masyarakat dengan hutan sampai ditemukannya kekeliruan dalam kegiatan perladangan di sekitar hutan. Ketika melakukan rotasi lahan, masyarakat biasa  melakukannya dengan cara membakar pohon-pohon yang ada di hutan. Cara ini dinilai paling efisien dan murah karena dapat dilakukan dalam sekejap mata.

Kegiatan pembakaran hutan ini tentu saja selain membuat pepohonan di sekitar hutan menjadi berkurang, juga dapat merusak ekologi yang ada di hutan. Batang pohon merupakan bagian tumbuhan yang menyimpan banyak karbon di dalamnya. Karbon ini akan dilepas ke udara apabila suatu batang pohon mengalami kerusakan, baik kerusakan akibat pembakaran, penebangan, maupun pelapukan. Lepasnya karbon ini tentu saja mengakibatkan peningkatan emisi karbon yang ada di bumi.

Ekosistem yang terdapat di hutan baik abiotik maupun biotik pun turut mendapatkan dampak apabila hutan dibakar. Hewan-hewan yang hidup di hutan akan mencari perlindungan ke luar hutan karena tempat tinggalnya terancam. Larinya hewan-hewan ke luar hutan ini nantinya akan berujung membahayakan keselamatan warga setempat.

Pada akhirnya banyak warga yang mengkambinghitamkan hewan-hewan atau satwa yang tinggal di hutan sebagai makhluk yang berbahaya. Dengan begitu, masyarakat akan mengambil jalan pintas dengan membunuh hewan yang keluar dari hutan. Padahal, apabila tidak merasa terancam atau tempat tinggal mereka masih layak untuk ditinggali, hewan tidak akan keluar hutan dan mengancam keselamatan warga sekitar.

Solusi Perladangan Berpindah 

Masyarakat sebetulnya memiliki cara tersendiri ketika akan membuka hutan untuk memindahkan ladang mereka. Cara ini sudah ada turun-temurun dari nenek moyang mereka agar lahan hutan yang terbakar tidak terlalu merembet kemana-mana. Namun masih sering ditemukan adanya kasus dimana lahan hutan yang terbakar lebih banyak daripada yang diperlukan untuk keperluan pertanian.

Melarang masyarakat untuk membuka hutan jelas bukan cara yang paling baik mengatasi masalah ini. Masyarakat justru akan kehilangan kepercayaan mereka terhadap hutan apabila interaksi mereka dan hutan dibatasi. Cara paling tepat adalah mengedukasi masyarakat dengan kemajuan bidang pertanian yang tidak akan berdampak buruk terhadap hutan, salah satunya adalah agroforestri.

Agroforestri hadir sebagai salah satu solusi dari ladang berpindah. Agroforestri merupakan konsep pengkolaborasian tanaman hutan dan tanaman pertanian. Tujuan dari agroforestri tentunya selain untuk melindungi ekosistem hutan dan pertanian, juga untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat yang berada di sekitar hutan.

Sistem agroforestri akan membuat masyarakat tidak hanya terfokus terhadap pertanian, tetapi juga kehutanan. Dalam agroforestri, masyarakat tidak hanya memanfaatkan hutan sebagai lahan dari pertanian mereka, tetapi juga untuk dapat memanfaatkan hasil hutan baik kayu maupun non kayunya. Dengan begitu, masyarakat akan cenderung lebih peduli akan keberlangsungan ekosistem yang ada di dalam hutan.

Edukasi masyarakat untuk mengalihkan tradisi yang sudah terjadi secara turun-temurun memang tidak mudah. Apalagi dengan adanya konsep baru ini, artinya masyarakat harus belajar banyak lagi mengenai kehutanan dan pertanian. Namun, apabila konsep agroforestri ini dapat memberi dampak baik untuk masyarakat maupun ekosistem hutan, agroforestri ini baiknya tetap dilanjutkan dan disosialisasikan ke masyarakat luas. 

Penulis: Fifi Melinda Setiawati

 

Referensi Artikel 

Evans K. 2016. Mengubah ladang berpindah menjadi agroforestri? Mengapa tidak [internet]. Indonesia (ID): Cifor; [diunduh pada 17 Februari 2021]. Tersedia pada: https://forestsnews.cifor.org/41438/merubah-ladang-berpindah-menjadi-agroforestri-intervensi-kecil-berpotensi-besar?fnl=

Sulistinah. 2014. Dampak perladangan berpindah pada ekosistem dan lingkungan hutan. Jurnal Geografi. 12 (2): 143-157.

 

Referensi Gambar

http://www.lesanesagilles.com/hutan-bagi-kehidupan-manusia/

https://nasional.kontan.co.id/news/hutan-307.000-ha-jadi-lahan-pertanian

https://forestsnews.cifor.org/40193/pertanian-perladangan-berpindah-menciptakan-ekosistem-alami?fnl=

LindungiHutan.com adalah Platform Crwodfounding Penggalangan Dana Online untuk Konservasi Hutan dan Lingkungan. Kunjungi situs berikut https://lindungihutan.com/kampanyealam untuk mendukung kegiatan dan aksi penghijauan teman-teman di Semarang. Mari bersama melestarikan dan menjaga pesisir Indonesia dan bahaya abrasi yang dapat merugikan banyak pihak.

 

Yuk jadi pioneer penghijauan di daerah tempat tinggalmu!